Alasan Mengapa Rabies Bisa Mengancam Nyawa Anda!

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

648

Apakah Anda pernah melihat anjing di jalanan yang terlihat agresif dan kerap mengeluarkan air liur? Jika di sekitar Anda ada anjing yang memiliki ciri-ciri tersebut, Anda wajib hati-hati sebab bisa saja anjing tersebut memiliki virus yang bisa menyebabkan penyakit rabies!

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat atau otak yang disebabkan oleh virus lyssaviruses. Virus ini ditularkan dari hewan ke manusia melalui gigitan langsung dari hewan penular rabies atau jilatan pada luka terbuka dikulit Anda. Semua mamalia bisa menjadi hewan penular rabies, meskipun anjing adalah vektor utama pembawa penyakit ini. Di indonesia sendiri 98% kasus rabies ditularkan melalui gigitan anjing dan 2% lagi ditularkan melalui gigitan kucing dan kera.

Pada tahap awal, seseorang yang tergigit hewan rabies akan merasakan gejala seperti pada infeksi virus biasa, yaitu demam, sakit kepala, pegal, hilang nafsu makan, dan lemas. Beberapa hari kemudian ketika masuk pada tahap lanjutan mulai timbul gejala yang lebih khas yaitu takut air (hidrophobia), takut cahaya (fotophobia), nyeri pada luka bekas gigitan, sering merasa cemas, gelisah, berhalusinasi hingga jatuh pada kondisi yang lebih berat yaitu kejang hingga kematian. Kematian umumnya terjadi karena virus ini telah menyebar luas hingga dapat melumpuhkan otot-otot pernapasan penderita.

Masa inkubasi atau waktu dari awal infeksi hingga muncul gejala rabies rata-rata 1-3 bulan. Pada awal infeksi seseorang tidak merasakan gejala apapun, sehingga kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi rabies. Agar virus ini tidak menyebar hingga ke sistem saraf pusat. Beberapa cara yang dapat Anda lakukan segera setelah terkena gigitan yaitu:

  1. Bersihkan luka bekas gigitan dengan air mengalir, menggunakan sabun selama kurang lebih 10-15 menit
  2. bersihkan luka dengan menggunakan antiseptik atau alkohol. Jangan tutupi luka menggunakan perban apa pun dan biarkan luka tetap terbuka.
  3. Segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Apabila seseorang dicurigai terkena rabies, dokter akan memberikan penanganan berupa pemberian vaksin, yang efektif mencegah penyebaran virus ke otak dan sistem saraf lainnya. Pada sebagian kasus dokter juga akan memberikan suntikan serum anti rabies. Vaksin anti rabies biasanya diberikan dalam 3x kunjungan dengan dosis terbagi. Sedangkan serum anti rabies pemberiannya cukup 1x, dosis disesuaikan dengan berat badan, disuntikkan pada daerah luka bekas gigitan dan di bagian otot paha atau lengan. Jika penanganan terlambat, dimana penderita sudah ada gejala lanjutan seperti gelisah, berhalusinasi ataupun fotofobia, dokter akan lebih fokus mengupayakan agar pasien tenang dan nyaman. Namun hal ini tentu tidak mengurangi resiko kematian penderita. Hingga saat ini terapi pasti rabies belum ada, hanya ada terapi suportif dan paliatif. Hal ini dilkukan untuk menjaga agar tidak muncul gejala-gejala seperti diatas. Angka kematian akibat rabies sekarang ini hampir 100%. Karenanya kesadaran masyarakat untuk segera berobat sangat dibutuhkan, agar virus tidak menyebar.

Menjaga diri sendiri dan keluarga dari penularan virus rabies sebenarnya tidak sulit. Ketika mengunjungi desa atau daerah pelosok yang belum terbebas dari rabies, usahakan Anda dan keluarga Anda tidak sembarangan menyentuh hewan liar. Ajarkan pada anak-anak Anda mengenai bahaya memelihara hewan liar tersebut beserta alasannya. (RH/CM) 

Daftar pustaka:

  1. Gompf SG. Rabies. [Updated: 2017]. Available at https://emedicine.medscape.com/article/220967-overview
  2. Jackson AC, Johannsen EC. Rabies and other Rhabdovirus infection:Harrison’s Principles of internal medical, 17th ed, Vol. 1. McGraw-Hill, New York, 2008.

Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store