Amankah Ibu Dengan HIV/AIDS Menyusui Bayinya?

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

183

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik yang dapat diberikan ibu pada bayinya. Mengingat banyak keuntungan dari ASI, salah satunya yaitu mengandung ribuan sel imun hidup dan enzim yang melindungi bayi dari semua macam penyakit. Tak terkecuali ibu dengan HIV-AIDS, dianjurkan memberikan ASI untuk bayinya secara eksklusif.

Menyusui pada ibu pengidap HIV merupakan masalah penting dan selalu menjadi perdebatan. Hal ini dikarenakan efek ganda dari pemberian ASI, yaitu sebagai sumber nutrisi utama pada bayi dalam 6 bulan pertama kehidupannya; di sisi lain juga sarana penularan HIV. Sejak ilmu pengetahuan mampu membuktikan bahwa salah satu tahap penularan vertikal HIV pada anak adalah melalui air susu ibu, berbagai langkah pencegahan kemudian diteliti dan dibakukan agar bayi yang lahir dari ibu HIV ini mendapatkan yang terbaik

Namun jika ibu memiliki HIV positif, memberikan ASI pada bayi dikhawatirkan dapat menularkan bayi. ASI dapat mengandung virus HIV yang ada di ibu yang kemudian ditularkan ke bayi. Setidaknya risiko anak tertular melalui pemberian ASI dari ibu yang positif HIV ke bayi, yaitu sebesar 15-45%. UNICEF menyatakan bahwa pada tahun 2001 sebanyak 800 ribu anak mengalami HIV akibat tertular dari ibunya yang posiif HIV.

Sebelumnya, WHO menganjurkan untuk tidak memberikan ASI kepada anak yang ibunya memiliki HIV positif. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa pemberian ASI eksklusif ketika 6 bulan pertama kehidupan meningkatkan 3 hingga 4 kali risiko penularan HIV dari ibu ke bayi, dibandingkan dengan anak yang diberikan susu formula. Namun sekarang tidak lagi seperti itu, karena sebuah pebelitian yang baru menyatakan bahwa dengan mengonsumsi obat dan melakukan pengobatan, dapat mencegah virus HIV tertular ke tubuh anak.

Pemberian obat antiretroviral dianggap cukup efektif untuk mencegah penularan terjadi, karena terbukti dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa di Malawi terjadi penurunan tingkat penularan sebesar 42% pada anak yang diberikan ASI dari ibu dengan HIV positif. Pada kelompok ibu tersebut, diberikan obat antiretroviral jenis nevirapine setiap harinya selama ia menyusui dalam waktu 6 bulan. Tidak hanya itu, penuruan tingkat penularan juga terjadi di Afrika Selatan yang menunjukkan penurunan hingga 18% .

Sampai saat ini mungkin banyak orang yang menganggap bahwa pemberian ASI dari ibu yang memiliki HIV positif berbahaya bagi bayi, namun tetap saja ASI merupakan makanan yang paling baik untuk bayi. Bahkan, WHO menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif lebih sering meninggal akibat kekurangan gizi dan memiliki status kesehatan yang buruk akibat gizi buruk, bukan akibat virus HIV yang ditularkan. Atau, bayi lebih sering meninggal akibat penyakit infeksi yang sering dialami oleh balita, seperti diarepneumonia, dan berbagai penyakit infeksi yang tidak berhubungan dengan HIV. Sementara, banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa pemberian ASI dapat mencegah anak mengalami berbagai penyakit infeksi tersebut.

Walaupun begitu, ibu yang positif memiliki virus HIV di dalam tubuhnya dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dengan melakukan pengobatan untuk mengurangi risiko penularan ke bayinya. Tidak seperti ibu yang sehat yang masih harus memberikan ASI hingga anak berusia 2 tahun dan memberikan makanan pendamping ASI setelah 6 bulan. Pada ibu dengan HIV positif, anak yang sudah berumur lebih dari 6 bulan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan lunak dan berbagai cairan sebagai pengganti ASI. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan bayi secara rutin, sehingga dokter dapat memantau tumbuh kembang bayi dan melihat status kesehatannya.  (EDA)

Sumber:


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store