ANAK SUKA MAKAN ES BATU, MUNGKINKAH ANEMIA?

4

Pica adalah kondisi di mana seseorang memiliki keinginan untuk memakan benda-benda yang bukan makanan, seperti kayu, es batu, rambut, timbal, dsb. Anak-anak cenderung sering memasukkan benda-benda yang bukan makanan ke dalam mulut. Hal ini didasarkan oleh rasa ingin tahu yang besar pada anak-anak tentang lingkungannya. Namun, anak-anak yang mengalami Pica, melakukan hal tersebut lebih dari sekedar rasa ingin tahu.

Berdasarkan DSM-V, pica didefiniskan sebagai kebiasaan memakan benda-benda bukan makanan yang berlangsung ≥ 1 bulan, di mana kebiasaan tersebut bukan didasarkan praktek sosial budaya. Pica paling sering terjadi pada anak berusia 2 sampai 3 tahun (25-33% kasus), dan dapat bertahan hingga remaja jika disertai dengan masalah belajar. Studi menunjukkan 10%-15% pica terjadi pada anak-anak dengan kesulitan belajar. Sekitar 20% kasus pica terjadi pada ibu hamil, terutama pada wanita muda pada kehamilan pertama.

Penyebab Pica

Penyebab pica masih belum dapat diketahui dengan pasti, tetapi beberapa kondisi dapat meningkatkan resiko mengalami pica, di antaranya: (1) pengabaian oleh orang tua, kurangnya pengawasan, atau kekurangan makanan; sering terjadi pada anak yang hidup dalam kemiskinan, (2) masalah perkembangan, seperti: autisme dan adanya kelainan pada otak, (3) gangguan kesehatan mental, seperti: obsessive-compulsive disorder (OCD) dan schizophrenia, (4) adanya kondisi defisiensi gizi, seperti zat besi (Fe) atau seng (Zn).

Pica dan Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi terjadi ketika simpanan zat besi dalam tubuh terlalu rendah untuk mendukung produksi sel darah merah normal. Hal ini bisa disebabkan akibat konsumsi zat besi dari makanan yang kurang, gangguan penyerapan, atau kehilangan darah.

Setengah dari pasien dengan anemia defisiensi besi mengalami pagophagia, di mana terdapat kebiasaan untuk memakan es. Terkadang pasien terlihat lebih suka seledri dingin atau sayuran dingin lainnya sebagai pengganti es. Kram kaki, yang sering terjadi pada naik tangga, juga umum terjadi pada pasien dengan kekurangan zat besi.

Pica bukanlah penyebab anemia defisiensi besi; pica adalah gejala anemia defisiensi besi. Terdapat hubungan antara anemia defisiensi besi dan keracunan timbal, sehinga anemia defisiensi besi harus selalu dicari ketika seorang anak didiagnosis dengan keracunan timbal. Selain itu juga harus dievaluasi pada geophagia (kebiasaan memakan tanah liat). Kedua zat ini mengurangi penyerapan zat besi.

Komplikasi Pica

Pica dapat berujung pada masalah kesehatan yang lebih serius. Intoksikasi (keracunan) terjadi pada penderita pica yang mengonsumsi timbal (plumbophagia). Infeksi juga sering terjadi terutama disebabkan oleh parasit. Gangguan pada sistem pencernaan, seperti konstipasi (sembelit), dan terjadi luka atau perforasi (kebocoran) pada organ pencernaan. Gangguan keseimbangan elektrolit, yaitu hipokalemia (kekurangan kalium) pada resinphagia. Pica juga menyebabkan kerusakan pada gigi, yaitu abrasi gigi dan hilangnya permukaan gigi. (BEL)

Sumber: