ANEMIA APLASTIK

38

Anemia aplastik adalah kelainan darah yang terjadi ketika
sumsum tulang belakang berhenti memproduksi sel darah baru, baik sel darah
merah, darah putih, maupun trombosit. Penyakit ini merupakan penyakit yang
jarang terjadi (langka) yang bisa terjadi pada pria dan wanita disegala usia.
Namun, kelainan ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa berusia 20-an dan
usia lanjut yang tinggal di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Seseorang yang mengalami anemia aplastik
sering kali merasa lemas, kurang bertenaga, dan berisiko mengalami infeksi
serta perdarahan secara berlebihan.

Penyakit
ini terjadi karena kerusakan pada sumsum tulang, sehingga menyebabkan produksi
sel darah melambat atau menurun. Kerusakan ini sangat berbahaya karena sumsum
tulang berperan besar dalam menghasilkan sel punca (stem cells) yang
memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Gejala anemia aplastik tergantung pada jenis sel darah yang kadarnya rendah.
Jika sel darah merahnya rendah, seseorang akan mengalami kesulitan bernapas,
kelelahan, pusing, sakit kepala, nyeri dada, detak jantung tidak teratur, serta
wajah menjadi pucat. Apabila sel darah putihnya rendah, seseorang akan mudah
mengalami infeksi dan demam. Jika trombosit berada di bawah batas normal,
seseorang akan mudah mengalami perdarahan, muncul luka memar, ruam kulit,
mimisan, dan gusi berdarah.

Pengobatan terhadap penyakit ini
tergantung kepada kondisi dan tingkat keparahannya.

  1. Obat-obatan antibiotik

Penderita anemia aplastik sering kesulitan melawan
bakteri atau virus karena kadar sel darah putihnya rendah. Selain itu, anemia aplastik membuat sistem imun
seseorang menjadi sangat lemah. Obat-obatan antibiotik sangat diperlukan untuk mencegah
atau mengatasi infeksi agar infeksi yang terjadi tidak menjadi semakin parah.

  1. Transfusi darah

Metode ini digunakan untuk
mengontrol perdarahan, mengurangi gejala-gejala yang muncul, serta menyuplai
sel darah yang tidak bisa diproduksi sumsum tulang, agar kadar sel darah
kembali normal. Pengobatan ini berisiko menyebabkan peningkatan kadar zat besi
di dalam darah dan bisa mengganggu fungsi beberapa organ tubuh.

  1. Transplantasi sel
    punca

Pada metode ini, dokter
akan mencangkok sel punca yang sehat dari pendonor untuk diberikan ke penderita
anemia aplastik melalui infus. Namun,
tidak selamanya pengobatan ini berjalan lancar. Pada beberapa kasus, tubuh
pasien menolak sel punca yang dicangkok dari pendonor. Jika dibiarkan, kondisi
ini bisa menyebabkan komplikasi yang berbahaya.

  1. Imunosupresan

Metode ini bertujuan
mengontrol aktivitas sistem imun yang merusak sel punca dengan menggunakan
obat-obatan, seperti cyclosporine atau
kortikosteroid. Umumnya, metode ini dilakukan jika penderita anemia aplastik tidak bisa diobati
dengan metode transplantasi sel punca.

  1. Stimulan sumsum tulang

Agar sumsum tulang bisa
kembali memproduksi sel darah yang baru, dokter bisa memberikan obat stimulan
seperti sargramostim, filgrastim,
pegfilgrastim, dan epoetin
alfa. Metode ini sering dikombinasikan dengan imunosupresan

Untuk
memastikan seorang mengalami anemia
aplasti
k, dokter akan melakukan pemeriksaan berupa:

  1. Pengecekan riwayat medis dan pemeriksaan fisik.
  2. Pemeriksaan darah termasuk pemeriksaan darah lengkap.
  3. Biopsi sumsum tulang belakang, yang biasanya dilakukan oleh dokter
    spesialis darah. (RA)

Daftar Pustaka

Mayo Clinic. Mayo clinic. 2016. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aplastic-anemia/basics/risk-factors/con-20019296 accessed date February
28th, 2018

NIH (2016). MedlinePlus. Aplastic Anemia