ANEMIA APLASTIK

58

Anemia aplastik adalah kelainan darah yang terjadi ketika sumsum tulang belakang berhenti memproduksi sel darah baru, baik sel darah merah, darah putih, maupun trombosit. Penyakit ini merupakan penyakit yang jarang terjadi (langka) yang bisa terjadi pada pria dan wanita disegala usia. Namun, kelainan ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa berusia 20-an dan usia lanjut yang tinggal di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Seseorang yang mengalami anemia aplastik sering kali merasa lemas, kurang bertenaga, dan berisiko mengalami infeksi serta perdarahan secara berlebihan.

Penyakit ini terjadi karena kerusakan pada sumsum tulang, sehingga menyebabkan produksi sel darah melambat atau menurun. Kerusakan ini sangat berbahaya karena sumsum tulang berperan besar dalam menghasilkan sel punca (stem cells) yang memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Gejala anemia aplastik tergantung pada jenis sel darah yang kadarnya rendah. Jika sel darah merahnya rendah, seseorang akan mengalami kesulitan bernapas, kelelahan, pusing, sakit kepala, nyeri dada, detak jantung tidak teratur, serta wajah menjadi pucat. Apabila sel darah putihnya rendah, seseorang akan mudah mengalami infeksi dan demam. Jika trombosit berada di bawah batas normal, seseorang akan mudah mengalami perdarahan, muncul luka memar, ruam kulit, mimisan, dan gusi berdarah.

Pengobatan terhadap penyakit ini tergantung kepada kondisi dan tingkat keparahannya.

  1. Obat-obatan antibiotik

Penderita anemia aplastik sering kesulitan melawan bakteri atau virus karena kadar sel darah putihnya rendah. Selain itu, anemia aplastik membuat sistem imun seseorang menjadi sangat lemah. Obat-obatan antibiotik sangat diperlukan untuk mencegah atau mengatasi infeksi agar infeksi yang terjadi tidak menjadi semakin parah.

  1. Transfusi darah

Metode ini digunakan untuk mengontrol perdarahan, mengurangi gejala-gejala yang muncul, serta menyuplai sel darah yang tidak bisa diproduksi sumsum tulang, agar kadar sel darah kembali normal. Pengobatan ini berisiko menyebabkan peningkatan kadar zat besi di dalam darah dan bisa mengganggu fungsi beberapa organ tubuh.

  1. Transplantasi sel punca

Pada metode ini, dokter akan mencangkok sel punca yang sehat dari pendonor untuk diberikan ke penderita anemia aplastik melalui infus. Namun, tidak selamanya pengobatan ini berjalan lancar. Pada beberapa kasus, tubuh pasien menolak sel punca yang dicangkok dari pendonor. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi yang berbahaya.

  1. Imunosupresan

Metode ini bertujuan mengontrol aktivitas sistem imun yang merusak sel punca dengan menggunakan obat-obatan, seperti cyclosporine atau kortikosteroid. Umumnya, metode ini dilakukan jika penderita anemia aplastik tidak bisa diobati dengan metode transplantasi sel punca.

  1. Stimulan sumsum tulang

Agar sumsum tulang bisa kembali memproduksi sel darah yang baru, dokter bisa memberikan obat stimulan seperti sargramostim, filgrastim, pegfilgrastim, dan epoetin alfa. Metode ini sering dikombinasikan dengan imunosupresan

Untuk memastikan seorang mengalami anemia aplastik, dokter akan melakukan pemeriksaan berupa:

  1. Pengecekan riwayat medis dan pemeriksaan fisik.
  2. Pemeriksaan darah termasuk pemeriksaan darah lengkap.
  3. Biopsi sumsum tulang belakang, yang biasanya dilakukan oleh dokter spesialis darah. (RA)

Daftar Pustaka

Mayo Clinic. Mayo clinic. 2016. https://mayoclinic.org/diseases-conditions/aplastic-anemia/basics/risk-factors/con-20019296 accessed date February 28th, 2018 NIH (2016). MedlinePlus. Aplastic Anemia