APA ITU SINDROM NYERI KRONIS?

40

Biasanya sebagian besar nyeri bisa mereda setelah cedera sembuh. Tetapi dengan sindrom nyeri kronis, nyeri dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah cedera atau penyakit sembuh. Bahkan nyeri dapat terjadi ketika tanpa ada pemicu yang diketahui. Nyeri kronis didefinisikan yaitu terjadinya rasa nyeri atau sakit yang berlangsung antara 3 hingga 6 bulan bahkan bertahun-tahun.

Gejala sindrom nyeri kronis

Gejala sindrom nyeri kronis meliputi:

  1. Nyeri sendi
  2. Nyeri otot
  3. Rasa sakit yang membakar
  4. Kelelahan
  5. MMasalah tidur
  6. Kehilangan stamina dan fleksibilitas, karena aktivitas menurun
  7. Masalah mental dan suasana hati, termasuk depresi, kecemasan, dan lekas marah

Dalam satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pain, 60,8 persen dari subjek yang mengalami sindrom nyeri kronis juga mengalami depresi, kebanyakan dari mereka dengan gejala tingkat “berat”.

Penyebab sindrom nyeri kronis

Tidak heran jika kondisi yang menyebabkan rasa sakit yang luas dan tahan lama, sering dikaitkan dengan sindrom nyeri kronis. Beberapa kondisi ini meliputi:

  1. Osteoartritis. Jenis radang sendi ini umumnya merupakan hasil dari keausan pada tubuh dan terjadi ketika tulang rawan pelindung antara tulang habis.
  2. Radang sendi. Ini adalah penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan nyeri pada sendi.
  3. Sakit punggung. Nyeri ini dapat berasal dari ketegangan otot, kompresi saraf, atau radang sendi tulang belakang (disebut stenosis tulang belakang).
  4. Fibromyalgia. Ini adalah kondisi neurologis yang menyebabkan rasa sakit dan nyeri di berbagai bagian tubuh (dikenal sebagai trigger points).
  5. Penyakit radang usus. Kondisi ini menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan dan dapat menghasilkan sakit dan kram usus.
  6. Trauma bedah.
  7. Kanker

Bahkan ketika kondisi ini membaik (melalui obat atau terapi), beberapa orang masih dapat mengalami nyeri kronis. Jenis rasa sakit/ nyeri ini umumnya disebabkan oleh miskomunikasi antara otak dan sistem saraf. (Untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan, beberapa orang dapat menghadapi rasa sakit semacam ini tanpa pemicu yang diketahui.)

Nyeri kronis dapat mengubah cara neuron (sel-sel saraf di otak yang mentransmisikan dan memproses input sensorik) berperilaku, menjadikannya tetap hipersensitif terhadap pesan nyeri. Menurut Yayasan Arthritis, 20 persen orang dengan osteoartritis yang lututnya diganti (dan mungkin tidak memiliki masalah sendi yang lebih menyakitkan) tetap masih akan melaporkan nyeri kronis.

Faktor risiko

Penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa orang yang rentan terhadap sindrom nyeri kronis daripada yang lain. Mereka adalah:

  1. Mereka dengan kondisi kronis seperti radang sendi.
  2. Mereka yang mengalami depresi. Para ahli tidak tahu persis mengapa ini terjadi, tetapi satu teori mengatakan bahwa depresi mengubah cara otak menerima dan menafsirkan pesan dari sistem saraf.
  3. Perokok
  4. Obesitas
  5. Perempuan. Perempuan cenderung lebih sensitif terhadap rasa sakit. Peneliti berteori bahwa mungkin karena hormon atau perbedaan dalam kepadatan serabut saraf betina dan jantan.
  6. Mereka yang berusia lebih dari 65 tahun. Seiring bertambahnya usia, anda lebih rentan terhadap semua jenis kondisi yang dapat menghasilkan rasa sakit kronis.

Sindrom nyeri kronis vs fibromyalgia

Sindrom nyeri kronis dan fibromyalgia sering hidup berdampingan, namun mereka adalah dua kelainan yang berbeda. Sindrom nyeri kronis sering memiliki pemicu yang dapat diidentifikasi, seperti radang sendi atau cedera akibat patah tulang yang tidak sembuh dengan baik.

Fibromyalgia – gangguan pada sistem saraf yang ditandai dengan nyeri dan kelelahan otot dan sendi. Sering muncul tanpa sebab yang diketahui. Namun, rasa sakit fibromyalgia yang masih bisa kronis akan  mengarah ke sindrom nyeri kronis.

Pengobatan untuk sindrom nyeri kronis

Nyeri kronis bisa membingungkan, akan tetapi masih bisa diobati. Beberapa opsi termasuk:

Medis

  1. Obat untuk menghilangkan rasa sakit. Ini dapat berupa anti-inflamasi, steroid, pelemas otot, antidepresan yang juga memiliki kualitas penghilang rasa sakit dan, dalam kasus yang parah, opioid (ini adalah pilihan terakhir).
  2. Terapi fisik untuk meningkatkan fleksibilitas dan rentang gerak.
  3. Blok saraf untuk mengganggu sinyal rasa sakit.
  4. Terapi psikologis / perilaku. Walaupun mungkin tidak memiliki dampak besar pada rasa sakit, beberapa terapi psikologis dapat memiliki efek positif pada suasana hati. Misalnya, terapi perilaku kognitif (sejenis terapi bicara yang membantu anda membingkai ulang pemikiran negatif) telah terbukti efektif dalam meningkatkan suasana hati, bahkan hingga setahun setelah perawatan berakhir. Dalam penelitian lain, biofeedback bermanfaat dalam mengurangi ketegangan otot dan depresi dan memperbaiki mengatasi nyeri kronis. Biofeedback adalah jenis terapi yang mengajarkan anda untuk menggunakan pikiran anda untuk mengendalikan reaksi tubuh, seperti pernapasan cepat.

Alternatif

  1. Akupunktur. Menurut sebuah analisis studi, akupunktur mengurangi tingkat nyeri pada 50 persen dari mereka yang mencobanya, dibandingkan dengan pengurangan nyeri 30 persen pada mereka yang tidak menerima akupunktur.
  2. Hipnose. Penelitian melaporkan bahwa 71 persen subjek dengan sindrom iritasi usus besar (IBS) melaporkan gejala yang jauh lebih baik setelah menjalani hipnosis. Efek ini diperpanjang hingga lima tahun pasca perawatan.
  3. Yoga untuk membantu merelaksasikan otot, mendorong pernapasan dalam, restoratif, dan meningkatkan kewaspadaan, penelitian menunjukkan bahwa yoga dapat bermanfaat dalam mengurangi depresi dan kegelisahan yang menyertai rasa sakit kronis, sehingga meningkatkan kualitas hidup. (LM)

Referensi

Chronic Pain Syndrome: Symptoms, Treatment, and More. (2019). Retrieved from https://www.healthline.com/health/chronic-pain-syndrome#treatment