Bab di sungai lebih nyaman, benarkah?

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

84

Hingga saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang terbiasa buang air besar (BAB) di sungai. Bahkan pada tahun 2005 Indonesia menempati urutan kedua dengan angka buang air besar sembarangan tertinggi di dunia, setelah India. Angka ini mencapai 51 juta penduduk.

Padahal, BAB sembarangan berpotensi meningkatkan angka kejadian penyakit menular seperti diare, kolera, disentri, tipes, dan hepatitis A. Selain itu, tingginya angka penyakit menular akibat kebiasaan BAB sembarangan juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka gizi kurang dan gizi buruk pada anak, karena anak terus menerus terkena penyakit sehingga makanan yang dikonsumsi tidak dapat diubah menjadi energi untuk tumbuh kembang melainkan untuk melawan kuman penyakit.

Berbagai alasan pun bermunculan terkait kebiasaan masyarakat ini. Masih banyak masyarakat yang bahkan merasa bahwa BAB di sungai lebih nyaman daripada BAB di jamban dalam rumah ataupun jamban yang telah dibuatkan oleh pemerintah. Mengapa demikian? Hal ini karena saat seseorang BAB di sungai, air sungai mengalir melalui lubang anus. Pada permukaan kulit lubang anus, terdapat banyak serabut-serabut syaraf sensoris yang bila teransang oleh aliran air sungai, dapat menimbulkan efek ingin BAB atau mengejan.

Bila permasalahan dari kebiasaan BAB sembarangan pada masyarakat adalah mengenai sensasi nyaman BAB di sungai, hal tersebut bukanlah hal yang tidak dapat diatasi. BAB di jamban bisa mendapatkan sensasi serupa dengan menyemprotkan atau menyiramkan air pada sekitar lubang anus. Mudah bukan?

Alasan yang tak kalah penting dari menghentikan kebiasaan BAB sembarangan adalah memutus rantai penularan penyakit. Dengan membiasakan BAB di jamban, kotoran penuh kuman akan langsung masuk ke dalam septic tank, sehingga tidak akan mencemari sumber air bersih.

Dengan kualitas air yang bersih, air dapat digunakan untuk mencuci pakaian, bahan makanan, hingga dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Air yang bersih juga dapat digunakan untuk mencuci tangan dan mandi, agar kuman penyakit yang menempel di badan dapat dihilangkan.

Pemerintah sendiri telah memiliki program anjuran untuk memberantas kebiasaan BAB sembarangan yang ada di masyarakat. Program ini bernama STMB atau Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Terdapat 5 pilar dalam STMB tersebut, antara lain:

  1. Stop buang air besar sembarangan (Stop BABS) atau open defecation free (ODF)
  2. Cuci tangan pakai sabun (CTPS)
  3. Pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (PAMMRT)
  4. Penanganan sampah rumah tangga (PSRT)
  5. Penggunaan limbah cair rumah tangga (PLCRT)

Dalam pelaksanaan program tersebut, tenaga kesehatan, kader, serta pemerintah bahu membahu memberikan berbagaimacam penyuluhan kepada masyarakat agar masyarakat mengerti pentingnya BAB di jamban dan jenis penyakit apa saja yang dapat dicegah dengan kebiasaan BAB yang baik.

Jadi, bagaimana? Apakah Anda mau untuk berkontribusi memberantas kebiasaan BAB sembarangan juga?

Sumber:

Kementerian Kesehatan RI.2016 (30 Mei Senin).Menuju 100% Akses Sanitasi Indonesia 2019. Retrieved Mei 2018, 18, From Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: https://depkes.go.id


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store