Bagaimana Gizi Mempengaruhi Mental Remaja

84

Apa yang kita makan dan bagaimana kita makan itu terkait erat dengan emosi dan kesehatan mental kita. Sebuah enelitian yang sedang berkembang mengungkapkan tidak hanya kekuatan nutrisi tertentu untuk meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga berbagai cara di mana sikap dan pilihan kita mengenai makanan mempengaruhi keadaan pikiran dan mental kita.

Itu sebabnya sangat penting bagi penyedia layanan kesehatan dan program perawatan kesehatan mental remaja untuk memasukkan rencana gizii spesifik ke dalam pendekatan penyembuhan berkelanjutan – tidak hanya untuk remaja dengan gangguan makan, tetapi juga bagi mereka yang mengatasi depresi, kecemasan, trauma, dan kondisi lainnya.

Bagaimana Gizi Mendukung Kesehatan Mental?

Ilmu pengetahuan semakin memvalidasi dampak luar biasa dari makanan terhadap suasana hati kita. Sebuah penelitian tahun 2013 menemukan bahwa risiko depresi adalah 25 hingga 35 % lebih rendah pada mereka yang makan makanan tinggi sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan ikan, sambil menghindari makanan olahan dan gula. Dalam penelitian lain, persentasenya bahkan lebih tinggi.

Faktanya, remaja dalam penelitian yang makan makanan berkualitas rendah memiliki risiko depresi 80% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang makan makanan berkualitas tinggi, makanan murni.

Gizi seperti asam lemak omega-3 (ditemukan dalam salmon, biji kenari dan biji chia), vitamin D (telur) dan B (bayam, jamur dan nanas), asam folat (roti gandum, sayuran hijau dan kacang-kacangan), magnesium (rumput laut, kacang-kacangan dan sayuran berdaun hijau) dan triptofan (kalkun, telur, dan bit), antara lain, memiliki dampak yang dapat diukur pada depresi dan kondisi kesehatan mental lainnya.

Namun, penting untuk dicatat bahwa efek kebiasaan makan kita pada kesehatan mental kita bukan hanya tentang apa yang kita makan. Bagaimana sumber makanan kita, bagaimana cara kita menyiapkannya dan memakannya.

Berkebun Baik untuk Kesehatan Mental

Sayuran dan buah hampir selalu mengandung lebih banyak vitamin dan mineral daripada makanan olahan atau makanan ringan, dan itu merupakan nilai tambah bagi kesehatan mental, seperti yang dijelaskan oleh penelitian. Tetapi hal-hal yang baik tidak hanya dalam hasil itu sendiri; kita juga dapat memperoleh manfaat kesehatan mental dari pengalaman menanam dan memanen makanan kita sendiri.

Menurut penelitian baru, menumbuhkan makanan yang akan kita makan sendiri menurunkan risiko kecemasan dan depresi, mengurangi stres dan meningkatkan kepuasan hidup. Bagian dari itu adalah neurobiologis: Para peneliti telah menemukan hubungan antara bakteri tanah dan ketahanan terhadap stres. Bakteri meningkatkan kesehatan microbiome, yang kemudian mempromosikan fungsi otak yang sehat. (Sekitar 95% serotonin kami diproduksi di saluran pencernaan, jadi masuk akal bahwa sistem pencernaan memainkan peran utama dalam mengatur emosi kita.

Dua alasan bagus untuk berkebun: olahraga dan waktu di alam, yang keduanya terbukti memiliki dampak positif pada kesehatan mental. Elemen-elemen ini sangat penting bagi remaja, yang menghabiskan banyak hari mereka di dalam ruangan

Mengolah Makanan Sendiri

Mengolah makanan sendiri dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kesehatan mental remaja,  khususnya ketika remaja melakukan pendekatan memasak sebagai kegiatan kreatif yang mereka sukai dengan dan untuk orang lain.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Positive Psychology diikuti lebih dari 650 orang dewasa muda. Setiap hari, mereka melaporkan berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk kegiatan kreatif dan bagaimana perasaan mereka hari itu. Para peneliti menemukan bahwa remaja mengalami perkembangan emosi positif dan lebih besar pada hari-hari setelah peningkatan aktivitas kreatif.

Jadi, ketika kita menjadikan memasak sebagai tindakan kreatif, ada manfaat kesehatan mental yang melekat dalam proses itu, dan, jika dilakukan bersama keluarga atau teman, bisa didapatkan kesenangan dan koneksi yang merupakan pemacu suasana hati.

Manfaat Menikmati Makanan terhadap Kesehatan Mental

Seiring dengan berkebun, memasak, menyajikan dan memilih makanan kita dengan hati-hati, menikmatinya juga merupakan kunci kesehatan mental. Meluangkan waktu untuk menikmati makanan kita meningkatkan kesejahteraan, melalui proses bersyukur karena adanya makanan dan perhatian. Emosi positif rasa terima kasih dan penghargaan juga telah terbukti merupakan antidepresan untuk menghilangkan gejala kecemasan dan depresi serta meningkatkan tingkat kebahagiaan.

Apa yang kita makan memengaruhi emosi kita, dan pada gilirannya, memengaruhi pilihan kita terhadap makanan. Misalnya, dalam sebuah penelitian tahun 2010, orang-orang yang berada dalam suasana hati yang positif lebih cenderung memilih anggur sebagai camilan

Intinya: Makan dengan baik didasarkan pada dirinya sendiri, maka hasilnya akan meningkatkan kesehatan, baik dalam pikiran maupun tubuh. (LM)

Referensi

Monroe, H. 2018. How Nutrition Affects Teens’ Mental Health. Available at: https:// health.usnews.com/health-care/for-better/articles/2018-05-10/how-nutrition-affe cts-teens-mental-health

Focal Point. 2012. How Diet and Nutrition Affect Mental Health. Focal Point: Youth, Young Adults, & Mental Health. Healthy Body – Healthy Mind, Summer 2012, 26(1)