BAHAYA MUDIK SAAT PANDEMI COVID-19

14

Aktivitas mudik sudah menjadi tradisi yang lekat dengan masyarakat Indonesia. Setiap tahun hampir puluhan ribu orang pulang ke kampung halamannya untuk berkumpul dengan keluarga besar dan meramaikan hari raya. Namun, ditengah pandemi COVID-19 yang terjadi diseluruh belahan dunia, termasuk Indonesia, membuat Pemerintah RI harus mengimbau masyarakatnya untuk tidak mudik lebaran. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran COVID-19 ke berbagai wilayah di Indonesia, terutama wilayah dengan akses fasilitas kesehatan yang masih terbatas.

Ketika mudik, Anda terpapar ratusan hingga ribuan orang selama perjalanan. Jumlah orang yang berdekatan dengan Anda tentu lebih banyak lagi jika Anda menggunakan transportasi umum seperti kereta api, bus, kapal laut, ataupun pesawat terbang. Anda tidak bisa mengenali siapa yang positif COVID-19 dan yang tidak. Selain itu, Anda juga bisa tertular COVID-19 jika menyentuh benda yang terkontaminasi virus, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan. Virus bisa menempel pada fasilitas umum, pintu kendaraan, atau benda lain yang Anda temui selama perjalanan.

Jika seseorang tertular COVID-19 saat mudik, maka orang tersebut dapat melanjutkan penyebaran ke belasan hingga ratusan orang. Mereka yang tertular tanpa sadar akan membawa virus Corona ke kampung halamannya. Di kampung halaman, orang-orang yang paling berisiko terinfeksi adalah orangtua Anda, sanak saudara, serta seluruh warga yang belum tentu memiliki akses ke fasilitas kesehatan dengan mudah.

Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Mudik?

Pemerintah saat ini memutuskan tidak melarang masyarakat untuk mudik. Namun, ada kebijakan khusus bagi mereka yang tetap pulang kampong, yaitu begitu sampai di kampung halaman, mereka akan berstatus sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP). Sesuai protokol WHO, ODP wajib mengisolasi diri secara mandiri dengan tidak meninggalkan rumah selama 14 hari kecuali ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan diri.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama melakukan isolasi mandiri, yaitu:

  1. Penggunaan kamar

Selama masa isolasi, anggota keluarga lain dilarang masuk ke dalam kamar tidur ODP. Kamar tidur sebaiknya memiliki ventilasi udara yang baik. Bukalah pintu dan jendela setiap hari agar kamar mendapatkan udara segar. Kamar mandi juga sebaiknya terpisah bila memungkinkan.

  • Berkegiatan di dalam rumah

Orang Dalam Pemantauan (ODP) tidak boleh melakukan kegiatan bersama anggota keluarga lainnya selama masa isolasi. Bila harus berada di ruang yang sama, ODP harus menjaga jarak setidaknya satu meter. ODP harus menggunakan masker ketika sedang bersama anggota keluarga yang lain. Hindari kontak langsung dengan orang lain maupun peliharaan yang ada di rumah.

  • Menjaga kebersihan

Virus Corona dapat bertahan pada permukaan benda. Karena itu, ODP harus rutin membersihkan benda-benda yang sering disentuh seperti ponsel, gagang pintu, meja, kursi, dan lainnya menggunakan cairan pembersih. ODP juga harus rajin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama 20 detik. Selain itu, cuci alat makan dan pakaian yang digunakan secara terpisah.

  • Pantau gejala yang dialami

Jika terdapat gejala demam tinggi, batuk dan sesak napas, ODP harus segera menghubungi Dinas Kesehatan atau Puskesmas setempat. Setelah itu, ODP akan diarahkan untuk melakukan pemeriksaan COVID-19.

Mudik adalah aktivitas yang sangat berisiko saat terjadi pandemi COVID-19. Karena Anda dapat tertular sekaligus menularkan virus kepada orang lain. Selama tidak ada alasan mendesak untuk mudik, langkah terbaik yang perlu dilakukan saat ini adalah tetap berada di rumah dan melakukan upaya pencegahan. (RD)

Sumber:

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): How it spreads. 2020
  2. Kawal COVID-19. Protokol Isolasi Mandiri (Home Quarantine). 2020