BAHAYA TERLALU SERING SELFIE PADA KESEHATAN MENTAL REMAJA

1

Media sosial adalah tempat bagi sebagian besar remaja untuk mengekspresikan diri merekalewat kata-kata maupun foto. Diantara semua jenis media sosial, instagram cukup mendapat banyak perhatian bagi anak remaja. Dengan instragram, setiap remaja bisa mengunggah hasil jepretan foto terbaiknya dan mendapat feedback, berupa like atau komentar.

Sisi positifnya, instagram bisa jadi tempat untuk menunjukkan bakat memotret atau hobi mereka pada orang lain. Namun, tidak semua remaja akan mendapatkan efek positif ini. Ada juga yang sampai terobsesi dengan hasil selfie sehingga berdampak buruk bagi kesehatan mental, dan dapat meningkatkan tingkat depresi dan kecepasan pada remaja.

  • Terlalu sering selfie bisa mengarah pada citra diri yang negatif

Setiap jepretan foto yang diambil, tidak semuanya akan sesuai dengan harapan. Mereka bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk memilih satu foto saja untuk diunggah.Mereka akan terus menjepret dan mengulangnya beberapa kali. Rasa tidak puas muncul ketika angle foto yang kurang pas, posisi objek yang tidak proporsional, pencahayaan yang kurang baik, bahkan tidak puas dengan tampilan wajahnya sendiri.

Remaja yang mengunggah banyak selfie cenderung memiliki kesadaran yang tinggi dengan penampilan mereka sendiri. Namun, ini juga sejalan dengan meningkatkan citra negatif pada bentuk tubuh tertentu.Selain itu, remaja yang terlalu sering selfie cenderung mudah cemas dan rasa khawatir. Beberapa remaja ada yang merasa khawatir pada penampilannya dengan selfie yang diunggah teman, beberapa merasa khawatir dengan foto yang diunggah sendiri.Kemudian, ada juga beberapa remaja yang merasa dirinya lebih jelek saat fotonya diabaikan oleh orang lain. Perasaan kecewa ini muncul saat mereka melihat seberapa banyak orang menyukai dan memberikan komentar pada foto yang diunggah.

  • Terobsesi dapat likes hingga tidak berpikir panjang

Perkembangan otak remaja belum sepenuhnya sempurna, mereka belum bisa membuat keputusan dengan baik. Ini bisa menjerumuskan mereka dalam pilihan yang salah. Feedback yang tidak diharapkan dari foto yang diunggah bukan tidak mungkin membuat remaja mencari cara untuk menarik perhatian, misalnya sengaja merusak reputasi mereka.Mereka mengunggah foto atau kata-kata yang mengundang kontroversi, misalnya mencoba merokok atau mem-bullytemannya. Walaupun akan mendapatkan perhatian, munculnya komentar-komentar yang negatif bisa membuat remaja jadi tertekan pada akhirnya.

Untuk mengontrol kebiasaan selfie anak, tentu perlu peran orangtua untuk mengawasi penggunaan media sosial. Orangtua perlu memberi pemahaman pada anak untuk menggunakan media sosial dengan bijak dan positif.Beri selalu dukungan dan nasihat saat remaja merasa dirinya tidak pantas, tidak cantik atau tidak pintar. Tentunya, batasi juga penggunaan ponsel saat anak menghabiskan waktu bersama keluarga dan sebelum jam tidurnya.(RD)

Sumber:

  1. Campbell L. Taking too many selfies may be bad for your teen’s health. Healthline. 2018
  2. Morin A. Teens and selfies: what parents need to know. Verywell family. 2018