Benarkah Amarah Dapat Menyebabkan Tekanan Darah Tinggi?

136

Berdasarkan sebuah penelitian di Amerika, ketidaksabaran dan kebencian dapat meningkatkan resiko terjadinya tekanan darah tinggi pada orang dewasa muda di masa yang akan datang.

Para penelitian ini, para peneliti mengamati bagaimana perilaku (mudah marah, tidak sabar, rasa benci), gangguan depresi, dan gangguan cemas dapat meningkatkan resiko terjadinya tekanan darah tinggi di masa yang akan datang.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu faktor resiko utama dari terjadinya penyakit jantung, gangguan ginjal, gagal jantung kongestif, dan stroke.

Tekanan darah normal adalah kurang dari 120/80 mmHg. Disebut tekanan darah tinggi bila tekanan darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih atau bila tekanan darah diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih. Pengukuran darah di antaranya disebut dengan pre hipertensi dan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya tekanan darah tinggi.

Walapun tekanan darah tinggi jarang terjadi pada dewasa muda, akan tetapi dewasa muda dan awal paruh baya merupakan masa penting bagi perkembangan hipertensi dan berbagai faktor resiko penyakit jantung lainnya.

Pada penelitian ini, para peneliti menggunakan sebuah data dari penelitian mengenai resiko terjadinya penyakit jantung koroner pada dewasa muda yang mengamati sekitar 3.308 pria dan wanita di Amerika. Para peserta berusia antara 18-30 tahun pada awal penelitian.

Para peneliti mengukur keadaan kesehatan para peserta penelitian secara teratur, termasuk pengukuran tekanan darah. Para peserta juga diminta untuk menjawab berbagai pertanyaan psikososial, yang mencakup 5 hal, yaitu:
•  Kesabaran peserta
•  Keinginan untuk bersaing
•  Rasa benci
•  Gangguan depresi
•  Gangguan cemas

Para peneliti kemudian mengukur ketiga hal pertama di atas pada awal penelitian dan mengukur dua hal sisanya 5 tahun kemudian. Pengukuran dilakukan dengan sistem skor.

Rasa tidak sabar atau mudah marah diukur dari angka 0-4. Setelah 15 tahun kemudian, para peserta yang memiliki angka tertinggi memiliki resiko hipertensi yang lebih tinggi yaitu sebesar 84%. Sementara itu, orang yang memiliki skor 2 juga mengalami peningkatan resiko hipertensi sebesar 47% bila dibandingkan dengan orang yang memiliki skor 0.

Rasa benci juga diukur dalam bentuk skor, yaitu dari 0-50, yang dibagi menjadi 4 kelompok. Para peneliti menemukan bahwa 15 tahun kemudian orang yang termasuk dalam kelompok yang memiliki skor yang tinggi mengalami peningkatan resiko terjadinya hipertensi hingga 84% dan orang yang berada dalam kelompok kedua tertinggi mengalami peningkatan resiko hipertensi sebanyak 38% dibandingkan dengan orang yang memiliki skor rendah. Akan tetapi, para ahli tidak menemukan adanya hubungan antara tekanan darah tinggi dengan ketiga hal lainnya.

Penelitian ini kemudian menemukan bahwa sekitar 15% dari seluruh peserta penelitian mengalami hipertensi saat berusia 33-45 tahun.

Hasil penelitian ini sama baik bagi orang kulit putih maupun orang kulit hitam dan tidak dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, atau tekanan darah saat penelitian dimulai. Selain itu, hasil ini juga berlaku bagi orang yang memiliki berbagai faktor resiko lain dari hipertensi seperti berat badan berlebih, obesitas, konsumsi alkohol, dan kurang aktif (jarang berolahraga).

Walaupun penelitian ini telah berhasil menemukan adanya hubungan antara resiko terjadinya hipertensi dan faktor psikologis, akan tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

Sumber: webmd