Bibir Pecah-Pecah: Jangan Selalu Disepelekan

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

282

Dalam bahasa kedokteran, bibir pecah-pecah yang umum terjadi disebut sebagai cheilitis simplex, atau peradangan umum pada bibir. Bibir pecah-pecah, yang dalam bahasa Inggris disebut chapped lips, merupakan gejala yang lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Meski begitu, gejala ini seringkali diabaikan oleh kebanyakan orang.

Istilah cheilitis simplex merujuk kepada salah satu bentuk gejala bibir pecah-pecah dengan tanda berupa retaknya bibir, terutama pada bibir bagian bawah. Gejala ini sering terjadi dan bersifat akut atau cepat terjadi dan kembali sembuh. Bila dibiarkan, bibir dapat mengalami perdarahan, bernanah, serta dapat terasa nyeri yang semakin kuat.

Gejala bibir pecah-pecah pada umumnya disebabkan oleh kekeringan, kebiasaan menggigit jari, menjilat bibir sendiri, atau menggosok bibir.  Meski begitu, gejala ini dapat pula disebabkan oleh paparan sinar matahari, dermatitis atopik, dermatitis seboroik, serta dermatitis kontak akibat alergi atau bahan iritan lainnya.

Berikut beberapa jenis dan sebab peradangan pada bibir yang perlu kita ketahui:

  1. Cuaca

Suhu dingin dan angin adalah dua faktor yang sering menyebabkan bibir kering, mengelupas, hingga menjadi pecah.  Kebiasaan menjilat bibir dapat memperparah gejala dan mengundang infeksi dari bakteri atau jamur. Suhu yang panas dapat pula menyebabkan bibir pecah-pecah. Seringkali dehidrasi atau kurang cairan menyebabkan bibir pecah-pecah.

  1. Sinar Ultraviolet

Paparan sinar ultraviolet dapat menyebabkan gejala bibir pecah-pecah. Gejala ini dapat terjadi akibat paparan dalam waktu yang lama atau paparan dalam waktu yang sebentar namun intensif. Gejala ini sering timbul pada pria berumur lebih dari 50 tahun dengan kulit yang cerah. Gejala dapat berupa bibir mengelupas, bibir yang mengecil, pecah-pecah, hingga bernanah. Kerusakan pada gejala ini sukar untuk disembuhkan

  1. Alergi

Peradangan pada bibir akibat alergi dapat berupa gejala yang akut (cepat terjadi) atau kronik (lama terjadi). Pada gejala akut, dapat terjadi kemerahan, bengkak, dan bernanah. Lesi dapat melebar melewati batas bibir dengan kulit. Pada gejala kronis, bibir mengalami kekeringan, merah, serta pecah-pecah. Penting bagi penderita untuk mengetahui bahan yang dapat menyebabkan reaksi alergi.

  1. Trauma

Trauma yang dimaksud adalah perlukaan. Trauma dapat diakibatkan oleh kebiasaan tertentu seperti menggigit bibir atau menjilat bibir secara terus-menerus. Kebiasaan menjilat bibir dianggap dapat melembapkan bibir, namun kebiasaan ini justru dapat menyebabkan iritasi dan pengeringan bibir. Kebiasaan semacam ini seringkali terdapat pada anak-anak dan menjadi penyebab yang sering terjadi.

  1. Infeksi

Virus herpes simpleks sering menjadi penyebab, terutama tipe 1. Gejala pada bibir berupa benjol atau bintil kecil berisi air dan terdapat sensasi seperti terbakar. Infeksi akibat bakteri, jamur serta parasit juga dapat terjadi, dan seringkali terjadi nanah pada daerah tersebut.

  1. Kekurangan Nutrisi

Status nutrisi atau gizi yang kurang dapat menjadi penyebab bibir pecah-pecah, seperti kurangnya vitamin B2, B9, B12, C (sariawan), zat besi, atau zinc. Gejala dapat berupa bibir pecah-pecah yang tidak khas. Pada kekurangan vitamin B3 (nama penyakitnya adalah Pellagra), tanda khas adalah berupa pecahnya bibir pada bagian kedua ujung bibir.

  1. Penyebab Lainnya

Penyakit-penyakit lainnya juga dapat menjadi penyebab, seperti Steven-johnson syndrome, lupus, atau kelainan sistem imun lainnya.

Anda dapat menjaga kesehatan bibir anda dengan bermacam cara:

  1. Menjauhkan dari kebiasaan menjilat bibir, menggigit bibir
  2. Menjaga cairan tubuh dengan minum yang cukup
  3. Memakai pelembab bibir
  4. Membersihkan dengan segera bila bersentuhan dengan barang kotor

Gejala bibir pecah-pecah adalah gejala yang umum, namun jangan disepelekan. Bila gejala menetap, susah mengalami penyembuhan, bibir bernanah, membengkak, atau muncul berulang kali, segeralah menuju petugas kesehatan terdekat untuk mendapatkan terapi sedini mungkin. (HIL/STE/CM)

Sumber:

Thappa, Devinder Mohan (2012). Clinical pediatric dermatology. Noida, Uttar Pradesh, India: Elsevier. ISBN 9788131231555.

Braun-Falco, O. (2000). Dermatology : with 281 tables (2., completely rev. ed.). Berlin [u.a.]: Springer. p. 1166. ISBN 9783540594529.

Gharbi A, Hafsi W. Cheilitis. [Updated 2017 Dec 12]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2018 Jan-. Available from: https://ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470592/


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store