BPH (Begingn Prostatic Hyperplasia)

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

155

Tolong nak, Bapak tiba-tiba tidak bisa kencing!

Anda pernah mengalami kondisi ini? Saat malam makin larut, bapak Anda mengeluhkan sakit perut, bagian bawah perutnya teraba kencang serta tidak bisa BAK? Tenang saja, Anda tidak sendiri. Ini merupakan penyakit yang hanya diderita oleh pria, biasanya diatas 50 tahun serta. Penyakit inilah yang disebut Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).

BPH atau pembesaran prostat jinak adalah kondisi ketika kelenjar prostat mengalami pembengkakan, namun tidak bersifat kanker. Kelenjar prostat merupakan sebuah kelenjar berukuran kecil yang terletak pada rongga pinggul antara kandung kemih dan penis. Pada saat prostat membesar, organ ini akan menghambat jalur keluar kencing. Pada tahap-tahap awal gejalanya hampir mirip dengan infeksi, seiring waktu saat prostat bertambah besar, proses buang air kecil akan semakin susah.

Gejala BPH

Berikut ini gejala-gejala yang biasanya dirasakan oleh penderita pembesaran prostat jinak (BPH):

  • Selalu ingin berkemih, terutama pada malam hari.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Inkontinensia urine atau beser.
  • Sulit mengeluarkan urine.
  • Mengejan pada waktu berkemih.
  • Aliran urine tersendat-sendat.
  • Mengeluarkan urine yang disertai darah.
  • Merasa tidak tuntas setelah berkemih.

Penyebab BPH

Sebenarnya penyebab persis pembesaran prostat jinak (BPH) masih belum diketahui. Namun kondisi ini diperkirakan terjadi karena adanya perubahan pada kadar hormon seksual akibat proses penuaan.

Secara umum, prostat akan terus tumbuh seumur hidup. Pada beberapa kasus, prostat akan terus berkembang dan mencapai ukuran yang cukup besar sehingga secara bertahap akan menghimpit uretra atau saluran kemih dalam penis. Uretra yang terjepit ini menyebabkan urine susah keluar, sehingga terjadilah gejala-gejala BPH seperti yang telah disebutkan di atas.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena BPH adalah:

  • Kurang berolahraga dan obesitas.
  • Faktor penuaan.
  • Menderita penyakit jantung atau kencing manis.
  • Efek samping obat-obatan seperti beta blocker.
  • Keturunan.

Diagnosis BPH

Jika gejala-gejala diatas telah sesuai serta pada pemeriksaan colok dubur prostat teraba besar, maka diagnosis pembesaran prostat sudah dapat ditegakkan. Namun untuk menentukan apakah ini merupakan BPH atau bukan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan.

Tes lebih lanjut

Ada beberapa jenis tes lanjutan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis BPH, antara lain:

  • Tes urineTes ini dilakukan jika dokter mencurigai gejala yang dirasakan oleh pasien bukan disebabkan oleh BPH, melainkan oleh kondisi lainnya, seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal.
  • USG Urologi. Dokter akan melakukan pemeriksaan USG untuk mengukur ukuran prostat.
  • Biopsi. Dokter biasanya akan melakukan biopsi atau pengambilan sebagian kecil jaringan prostat untuk dilihat di bawah mikroskop apakah sel pembesaran merupakan sel jinak atau keganasan. Biasanya prosedur ini dilakukan bersamaan dengan USG urologi.
  • Tes darah. Komponen yang diperiksa dalam tes ini adalah protein prostat spesifik antigen (PSA), yaitu suatu protein yang dihasilkan Jika kadar PSA pasien tinggi, maka kemungkinan pasien menderita BPH juga akan besar. Jika kenaikan tersebut terjadi secara signifikan, maka risiko pasien untuk terkena kanker prostat juga ada.
  • CT urogramMetode pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keadaan saluran kemih pasien, misalnya apakah ada kerusakan pada saluran tersebut atau apakah ada penyumbatan yang disebabkan kondisi selain BPH, seperti penyakit batu kandung kemih atau batu ginjal.
  • Pielografi intravena. Pada prosedur ini, dokter menyuntikkan bahan kontras melalui pembuluh darah lalu mengambil gambaran ginjal dengan foto rontgen, untuk memeriksa fungsi ginjal dan aliran urine dari ginjal menuju kandung kemih.

Selain untuk memastikan bahwa gejala yang dirasakan oleh pasien adalah akibat BPH dan bukan disebabkan oleh kondisi-kondisi lainnya, tes-tes lebih lanjut juga dapat membantu dokter memberikan pengobatan yang tepat.

Pengobatan BPH

Penanganan BPH berbeda-beda pada setiap penderitanya. Dokter akan memilih jenis penanganan yang paling sesuai berdasarkan beberapa faktor seperti:

  • Kondisi kesehatan penderita secara umum.
  • Tingkat ketidaknyamanan yang dirasakan oleh penderita.
  • Usia penderita.
  • Ukuran prostat.

Penanganan pembesaran prostat jinak (BPH) sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penanganan BPH dengan gejala ringan dan penanganan BPH dengan gejala sedang hingga parah. BPH ringan biasanya cukup ditangani dengan obat-obatan, terapi menahan berkemih, dan perubahan gaya hidup. Sedangkan cara untuk menangani BPH dengan tingkat keparahan gejala sedang hingga parah adalah melalui operasi.

Perubahan gaya hidup

Perubahan gaya hidup yang dimaksud adalah dengan:

  • Mulai berolahraga secara teratur, misalnya berjalan kaki tiap hari selama setengah hingga satu jam.
  • Mulai mengurangi atau berhenti mengonsumsi kafein dan minuman keras.
  • Mencari jadwal minum obat yang tepat agar terhindari dari nokturia (meningkatnya frekuensi buang air kecil sepanjang malam).
  • Mulai membiasakan diri untuk tidak minum apa pun dua jam sebelum waktu tidur agar terhindar dari nokturia.

Komplikasi BPH

Pembesaran prostat jinak (BPH) kadang-kadang dapat mengarah pada komplikasi akibat ketidakmampuan kandung kemih dalam mengosongkan urine. Beberapa komplikasi yang mungkin dapat timbul antara lain:

Komplikasi-komplikasi tersebut dapat muncul apabila pembesaran prostat jinak yang terjadi tidak diobati secara efektif.

Pencegahan BPH

Risiko pembesaran prostat jinak (BPH) dapat dicegah melalui konsumsi makanan yang kaya akan serat dan protein, serta rendah lemak. Berikut ini contoh-contoh makanan dengan kadar serat tinggi:

  • Kacang hijau
  • Beras merah
  • Gandum
  • Brokoli
  • Kubis
  • Lobak
  • Bayam
  • Apel

Berikut ini contoh-contoh makanan dengan kadar protein tinggi:

  • Ikan
  • Telur
  • Kacang kedelai
  • Susu rendah lemak
  • Dada ayam
  • Keju (EDA/STE/CM)

Sumber:


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store