BRAT: KEMBALIKAN FUNGSI PENCERNAAN ANAK SETELAH DIARE

39

Diare pada anak

Diare adalah buang air besar dengan tinja yang encer dan terjadi tiga kali atau lebih dalam satu hari. Diare biasanya hanya terjadi dalam beberapa hari, ketika diare berlangsung selama berminggu-minggu, biasanya menunjukkan bahwa ada masalah lain yang lebih serius. Selain tinja yang cair dan buang air besar yang sering, gejala diare dapat berupa nyeri perut, demam, terdapat darah dan lendir pada tinja, kembung, dan mual.

Diare pada anak cenderung lebih berbahaya dibandingkan diare pada orang dewasa, karena pada anak mudah terjadi dehidrasi. Anak yang menunjukkan dehidrasi dapat menunjukkan gejala berupa mulut kering dan lengket, sering merasa haus, kurang aktif daripada biasanya bahkan lebih berbahaya jika anak terus diam dan terlihat mengantuk, air mata yang tidak keluar saat menangis, mata yang terlihat cowong/cekung, ubun-ubun terlihat cekung, dan tidak buang air kecil selama 6 jam.

Pemberian cairan

Berikan cairan yang cukup terutama dalam 6-24 jam anak mengalami diare untuk mencegah dehidrasi. Jika menyusui, terus lanjutkan memberikan ASI kapanpun anak mau dan berikan juga oralit. Jika tidak menyusui, berikan susu formula atau air matang dan oralit, sebaiknya tunda dulu pemberian makanan padat. Jika bayi menolak pemberian oralit dengan cangkir atau botol, berikan oralit menggunakan penetes atau sendok teh kecil.

Pemberian makanan

Dalam waktu 24-48 jam setelah diare, anak biasanya sudah dapat mengonsumsi makanan padat. Tetapi pemberian makanan awal ini perlu diperhatikan karena perubahan pada mukosa usus setelah diare dapat mengganggu penyerapan. Salah satu yang tertua dan paling terkenal dari diet awal setelah diare adalah diet BRAT, yang merupakan kombinasi dari makanan-makanan rendah serat yang lunak, yang dapat ditoleransi dengan baik oleh usus. Umumnya BRAT digunakan sebagai diet jangka pendek untuk diare akut. BRAT adalah akronim dari Banana (pisang), Rice (nasi), Applesauce (saus/bubur apel), dan Toast (roti panggang).

Pisang mengandung pektin yang baik untuk saluran pencernaan dan membantu penyerapan air serta elektrolit. Selain itu, pisang juga kaya akan kalium yang dapat menggantikan kalium yang hilang akibat diare. Nasi mudah dicerna dan banyak mengandung karbohidrat yang dapat memberikan energi pada anak diare. Saus/bubur apel mengandung fruktosa sebagai tambahan energi yang mudah diserap. Roti panggang dapat memadatkan tinja anak dan mengandung karbohidrat sebagai sumber energi.

Perlu diperhatikan bahwa diet BRAT tidak disarankan diberikan pada anak yang terus-menerus muntah. Diet BRAT juga direkomendasikan hanya untuk 24-48 jam paska diare, karena diet ini tidak menyediakan semua elemen yang dibutuhkan, terutama protein. Setelah waktu tersebut, pencernaan diperkirakan sudah kembali normal dan dapat menerima menu makanan seperti biasa. (BEL)

Sumber:

  1. Duro, D. & Duggan, C. 2007. The BRAT Diet for Acute Diarrhea in Children: Should It Be Used?. Practical Gastroenterology, 31(6), 65-68. Available at: https://med.virginia.edu/ginutrition/wp-content/uploads/sites/199/2015/11/DuroArticle-June-07.pdf
  2. Rabbani, G. H., Teka, T., Zaman, B., Majid, N., Khatun, M., Fuchs, G. J. 2001. Clinical Studies in Persistent Diarrhea: Dietary Management with Green Banana or Pectin in Bangladeshi Children. Gastroenterology, 121(3), 554-560. Available at: https://doi.org/10.1053/gast.2001.27178
  3. American Academy of Family Physicians. 2017. BRAT Diet: Recovering From an Upset Stomach. Available at: https://familydoctor.org/brat-diet-recovering-from-an-upset-stomach/
  4. Canadian Paediatric Society. 2003. Dehydration and Diarrhea. Paediatrics & Child Health, 8(7), 459–468. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2791660/
  5. Kaneshiro, N. K. 2017. Diarrhea in Infants. Available at: https://medlineplus.gov/ency/article/002118.htm