CEGAH STUNTING, CEGAH GANGGUAN TUMBUH KEMBANG ANAK!

1

Stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang diakibatkan oleh gizi buruk, infeksi, dan stimulasi emosi-sosial yang tidak layak. Berdasarkan Standar Pertumbuhan Anak WHO, si Kecil dikatakan mengalami stunting bila tinggi badannya kurang dari tinggi badan anak yang dua tahun lebih muda darinya.

Anak yang mengalami stunting dini, yaitu pada 1.000 hari pertamanya, kemungkinan mengalami gangguan tumbuh kembang. Contohnya, kemampuan belajar si Kecil menjadi lebih lemah, ia kurang aktif dan produktif, hingga kesulitan mendapatkan pekerjaan layak saat dewasa kelak.

Banyak masyarakat yang menyangka jika kondisi tubuh pendek anak itu sebagai sebab genetika. Namun pada kenyataannya, faktor tersebut sangatlah kecil. Faktor lingkungan dan prilaku justru menjadi faktor utama stunting.

Ahli kesehatan ibu anak berpandangan, faktor penyebab stunting bisa terjadi pada anak-anak yang hidup di lingkungan dengan sanitasi dan kebersihan yang tidak memadai. Menurut Para Ahli Kesehatan, sanitasi yang buruk mengakibatkan penyakit diare dan infeksi cacing usus (cacingan) secara berulang-ulang pada anak.

Adapun berbagai hal yang bisa mencegah terjadinya stunting:

1).  Membiasakan pola makan sehat

Faktor utama permasalahan stunting adalah buruknya asupan gizi yang diberikan kepada anak. Bagi seorang calon ibu, asupan gizi saat bayi masih dalam kandungan merupakan hal yang tak kalah penting untuk mengurangi resiko stunting pada anak. Sehingga sang calon ibu juga harus memperhatikan asupan nutrisinya dengan baik saat hamil.

Hal lainnya adalah pemenuhan gizi di awal perkembangan anak di 1000 hari pertama. Salah satunya adalah dengan pemberian ASI eksklusif untuk sang buah hati di 6 bulan awal, dan bisa juga dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun. Namun jangan lupa juga untuk memberikan makanan pendamping ASI yang bergizi dan seimbang.

Pola makan dengan gizi yang seimbang ini perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah dalam satu porsi makan diisi oleh sayuran dan buah-buahan, setengahnya lagi diisi oleh sumber protein (hewani atau nabati) dengan proporsi lebih banyak dari sumber karbohidrat.

2). Pola asuh yang baik

Faktor utama lainnya adalah prilaku, salah satunya adalah keluarga sebagai tempat pertama tumbuh kembang anak. Orang tua yang baik adalah mereka yang memahami edukasi perkembangan kesehatan anak sejak dalam masa kandungan.

Hal ini mencakup pemenuhan gizi sat hamil, serta memeriksakan kandungan empat kali selama masa kehamilan. Hal lain yang tak boleh dilupakan adalah pemberian hak anak untuk mendapatkan kekebalan melalui imunisasi.

Ibu yang sehat akan melahirkan anak yang sehat. Sehingga tak hanya asupan nutrisi, psikologis dan mental sang ibu juga perlu dijaga agar stabil. Kerja sama seorang suami dan istri untuk tetap harmonis pun tak kalah penting dalam tumbuh kembang anak.

3). Perbaikan sanitasi dan ketersediaan air bersih

Kebersihan berkaitan erat dengan kesehatan. Lingkungan yang bersih mampu menjaga kekebalan tubuh pada anak, sehingga terhindar dari infeksi. Salah satunya adalah dengan menyediakan sanitasi dan air bersih. Ciri-ciri air bersih adalah tidak berbau, jernih, berasa tawar dan tidak mengandung zat kimia.

Contoh hidup sehat yang sederhana adalah dengan membiasakan anak untuk cuci tangan dengan sabun dan air mengalir,serta tidak buang air besar sembarangan. Hal ini sebagai tindakan tidak langsung untuk mencegah anak menderita infeksi yang merupakan salah satu penyebab stunting.

4). Membaca dan memahami ilmu kesehatan

Cara pencegahan diatas tidak akan bisa dilakukan dengan mudah jika orang tua tidak memiliki informasi dan pemahaman yang baik tentang kesehatan, salah satunya tentang stunting. Pemahaman tentang stunting dengan utuh akan mampu memberikan orang tua kesadaran arti pemenuhan gizi bagi anak.

Di era teknologi ini, informasi kesehatan ini bisa kita dapatkan dengan mudah melalui internet ataupun buku. Sehingga membaca akan menjadi jalan sederhana bagi kita untuk memahami stunting ini.

5). Ikut mensosialisasikan tentang stunting kepada lingkungan sekitar

Orang tua millenials adalah orang tua yang tak hanya peduli kepada dirinya sendiri, tetapi juga peduli terhadap orang lain. Satu fakta yang menyedihkan adalah, Indonesia termasuk ke dalam negara yang paling banyak anak penderita stunting.

Berdasarkan catatan Kemenkes, sepanjang tahun 2017 berdasarkan tinggi badan dan usia, dari 170 ribu balita berusia 0-59 bulan di 514 kota di Tanah Air, terdapat balita sangat pendek sebanyak 9,8 persen, balita pendek sebesar 19,8 persen, dan balita normal sebesar 70,4 persen.

Oleh karena itu, sudah menjadi sebuah keharusan juga bagi para orang tua untuk berbagi informasi tentang stunting ini kepada lingkungan sekitarnya. Bahkan, kita sebagai #MillenialBEST pun harus mampu melek stunting. Kenapa? Karena efek jangka panjang dari stunting mampu mengganggu kualitas kecerdasan anak yang berdampak terhadap rendahnya sumber daya manusia Indonesia.

Dengan memahami isu kesehatan dan stunting ini, setidaknya kita berperan aktif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.(NP)

Referensi : Kementerian Kesehatan RI. 2014. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI