Cuci Vagina, Buat Keputihan Normal Jadi Abnormal

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

203

Keputihan wajar dialami semua wanita terutama dalam usia reproduktif. Keputihan merupakan pengeluaran sekret/cairan vagina. Kebanyakan keputihan merupakan keputihan yang normal karena pengeluaran cairan vagina diperlukan untuk berbagai fungsi. Fungsi cairan vagina di antaranya yaitu sebagai pelindung, dimana cairan vagina memiliki pH rendah karena terkandung bakteri baik Lactobacillus yang menghasilkan asam berguna untuk melawan kuman penyebab infeksi. Selain itu, juga berguna sebagai pelumas (lubricant) terutama saat hubungan seksual sehingga mengurangi nyeri atau terjadinya luka.

Normal vs Abnormal

Keputihan yang normal berwarna putih jernih, tidak berbau, dan jumlahnya biasanya meningkat pada pertengahan siklus haid. Keputihan dapat dialami oleh wanita pada semua umur, tetapi lebih banyak pada wanita usia subur.

Sedangkan keputihan yang tidak normal yaitu jika cairan vagina berbau amis atau busuk, berwarna (putih kental seperti susu, atau kehijauan), berbusa, disertai gatal, panas, nyeri, atau iritasi pada vagina. Keputihan seperti ini merupakan tanda adanya infeksi vagina yang dapat disebabkan oleh bakteri, parasit, atau jamur.

Akibat kontrasepsi

Peningkatan jumlah cairan vagina seringkali dapat terjadi dan merupakan hal yang normal. Cairan vagina biasanya meningkat pada saat masa subur karena terjadi perubahan hormon. Selain itu, peningkatan yang normal juga terjadi pada kehamilan, menyusui, atau jika ada rangsangan seksual. Penggunaan kontrasepsi juga dapat memicu peningkatan jumlah cairan vagina, terutama pada penggunaan IUD (alat kontrasepsi dalam rahim/AKDR). Peningkatan cairan ini merupakan respon protektif tubuh terhadap adanya benda asing dalam tubuh, yaitu alat kontrasepsi IUD. Sehingga jika keputihan terjadi pada kondisi-kondisi tersebut, maka perlu ditinjau ulang apakah keputihan yang dialami perlu mendapat pengobatan atau tidak.

Tidak selalu menular

Keputihan yang abnormal dapat disebabkan oleh berkurangnya fungsi protektif dari bakteri Lactobacillus, infeksi oleh bakteri (Gardnella, Chlamydia, Neisseria), jamur Candida, parasit Trichomonas, diabetes, kanker serviks, atau penggunaan obat antibiotik atau steroid jangka panjang. Di antara banyak penyebab tersebut, hanya sebagian kecil kasus keputihan yang dapat ditularkan, yaitu yang disebabkan oleh Chlamydia, Neisseria (Gonorea/kencing nanah), dan Trichomonas. Sehingga tidak semua keputihan bersifat menular secara seksual.­ Selain itu penting juga untuk mengobati pasangan seksual jika memang keputihan yang dialami bersifat menular.

Vaginal douche

Seperti yang sudah dijelaskan, tidak semua keputihan memerlukan pengobatan malah kebanyakan wanita justru mengalami keputihan yang normal. Tetapi seringkali karena kekhawatiran yang berlebihan, banyak wanita yang kemudian menggunakan antiseptik, sabun, atau cairan untuk mencuci vagina dan mengurangi keputihan. Tindakan seperti ini salah kaprah karena cuci vagina justru malah membuat keputihan yang tadinya normal menjadi abnormal. Kandungan antiseptik pada pembersih vagina akan membunuh bakteri baik Lactobacillus sehingga mengurangi fungsi protektif vagina. Selain itu, sabun juga bersifat basa sehingga penggunaan secara berlebihan dapat mengubah tingkat keasaman vagina. (BEL)

Sumber:

  1. Hakimi, M. 2011. Radang dan Beberapa Penyakit Lain pada Alat Genital. In: Anwar, M., Baziad, A., Prabowo, RP., ed. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. pp. 221-226.
  2. Pathak, N. 2018. Vaginal Discharge: What’s Abnormal? Available at: https://www.webmd.com/women/guide/vaginal-discharge-whats-abnormal#1
  3. National Health Service. 2018. Vaginal Discharge. Available at: https://www.nhs.uk/conditions/vaginal-discharge/

Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store