Dampak Obesitas Terhadap Kesehatan

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

131

Obesitas bisa ditandai dengan nilai indeks massa tubuh lebih besar dari angka 27. Selain penyakit jantung dan pembuluh darah, dampak obesitas juga bisa merambat ke mana-mana. Obesitas bisa berdampak juga pada kondisi kesehatan tulang, lho. Bagaimana obesitas memengaruhi kondisi kesehatan? Apa saja bentuk dampak yang bisa terjadi? Yuk, kita simak ulasan dibawah ini.

Obesitas bisa menurunkan kepadatan tulang

Penelitian menunjukan bahwa obesitas akan mengurangi kepadatan tulang serta meningkatkan risiko untuk mengalami patah tulang. Pada dasarnya, tulang memiliki kemampuan untuk selalu memperbarui diri. Caranya yaitu dengan menghancurkan jaringan tulang yang sudah rusak dengan sel osteoklas, dan membangun jaringan tulang baru dengan sel osteoblas. Jika kecepatan keduanya berjalan dengan seimbang, tulang Anda akan senantiasa padat dan kuat. Namun, pada orang obesitas, biasanya kecepatan memperbarui jaringan tulang ini tidak seimbang.

Obesitas osteosarcopenic adalah kondisi memburuknya kepadatan tulang dan massa otot sekaligus yang terkait dengan penumpukan lemak berlebihan di dalam tubuh. Umumnya ini terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia.

Menurut Dr. Michael Drey, M.Sc. seorang ahli osteosarcopenia, dari Medizinische Klinik und Poliklinik IV, di Klinikum der Universitat Munchen, obesitas osteosarcopenic diduga akan menjadi perhatian paling penting di masa depan, sebab ada tiga kondisi kesehatan yang menjadi satu sekaligus. Tiga kondisi tersebut adalah osteoporosis (kehilangan massa tulang), sarcopenia (kehilangan massa otot), dan obesitas.

Bagaimana obesitas bisa mempengaruhi otak?

merupakan permasalahan yang kompleks, dipicu oleh berbagai faktor risiko yang tidak hanya pola makan namun juga lingkungan. Respon otak terhadap pola konsumsi manis dan tinggi lemak juga berperan dalam membentuk kebiasaan yang tidak sehat sejak seseorang mengalami kegemukan. Namun, saat mengalami obesitas, kebiasaan tersebut cenderung lebih sulit untuk dihilangkan dan menimbulkan kerusakan pada otak.

Gangguan pertama pada otak dialami karena ketidakseimbangan hormon ghrelin dan leptin. Kegemukan, bersama dengan kebiasaan konsumsi yang tidak sehat, membuat tubuh melakukan sekresi hormon leptin berlebih. Akibatnya, tubuh cenderung merasa lapar lebih lama karena otak tidak merespon hormon ghrelin yang memberi sinyal rasa kenyang. Tingginya hormon leptin juga menyebabkan seseorang makan lebih banyak karena tidak kurang menikmati rasa makanan, dan akhirnya memicu obesitas.

Selanjutnya, kondisi lemak berlebih akan merusak berbagai saraf otak, bahkan mengubah struktur otak bagian depan. Namun, hal ini hanya dialami oleh seseorang dengan obesitas. Saat tubuh memiliki lemak yang terlalu banyak, pelindung saraf otak (myelin) cenderung mengalami kerusakan sedikit demi sedikit. Saraf otak yang kehilangan pelindung akan lebih sulit menyampaikan impuls dari berbagai bagian tubuh dan otak, dan akibatnya otak tidak dapat memproses berbagai respon dari tubuh secara optimal. Suatu penelitian juga menambahkan, kerusakan saraf otak yang diakibatkan obesitas cenderung terjadi pada bagian depan otak. Kondisi tersebut adalah penyebab utama penurunan fungsi kognitif otak pada orang mengalami obesitas.

Terlepas dari berbagai kondisi atau gangguan fungsi kognitif otak, obesitas tetaplah faktor risiko penyakit degeneratif yang dapat dimodifikasi. Berapapun usia seseorang yang mengalami obesitas, menerapkan gaya hidup sehat tetap perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap terjadinya penyakit degeneratif dan komplikasinya. Menerapkan pola hidup sehat secara bertahap dan konsisten dan menjaga berat badan agar tidak kembali meningkat adalah hal terpenting dalam mengatasi obesitas. (EDA)

Sumber:


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store