Dampak Penyakit Si Raja Singa Pada Kehamilan

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

563

Penyakit raja singa atau sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS). Penyakit ini dapat menyerang seluruh organ tubuh dan dapat ditularkan pada bayi di dalam kandungan melalui plasenta. Penyebab infeksi sifilis yaitu Treponema pallidum, yang adalah bakteri spirochaeta.

Sifilis Kongenital terjadi pada bulan ke-4 kehamilan. Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi, rata-rata pada 3-4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan dapat menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak bahkan kematian. Resiko penularan penyakit sifilis dapat terjadi jika:

  1. Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap penyakit sifilis
  2. Lewat transfusi darah dari darah penderita sifilis.
  3. Ibu yang terinfeksi sifilis saat sedang mengandung, menularkan kepada janinnya melalui transplasental atau jalur plesenta.

Pengaruh Terhadap Kehamilan

Sifilis yang terjadi pada ibu yang hamil dapat mempengaruhi proses kehamilannya dan janin. Berikut ini adalah pengaruh sifilis terhadap kehamilan yaitu:

  1. Infeksi pada janin terjadi setelah minggu ke 16 kehamilan dan pada kehamilan dini, dimana Treponema telah dapat menembus barier plasenta. Bila ibu terinfeksi baru pada 2 bulan terakhir kehamilan, tidak akan terjadi penularan pada janin.
  2. Dapat mengakibatkan kelahiran mati dan keguguran.
  3. Bayi lahir dengan lesi konginetal seperti catat bawaan pada janin, serta kelainan mulut dan gigi.

Untuk dapat menegakkan diagnosa pasti, harus dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pada ibu hamil agak sulit di tegakkan karena pada ibu hamil terjadi perubahan hormon. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang seperti :

  1. Pemeriksaan serologis VDRL (veneral diesses research laboratory).
  2. Dengan mempergunakan lapangan gelap, untuk membuktikan langsung terdapat spirokaeta treponea palidum.
  3. Fungsi lumbal untuk membuktikan neurosifilis.

Pengobatan

Wanita dengan sifilis sebelum memasuki masa kehamilan harus diobati sedini mungkin, sebaiknya sebelum hamil atau pada triwulan I untuk mencegah penularan terhadap janin. Suami juga harus diperiksa dengan menggunakan tes reaksi wasserman dan VDRL, bila perlu diobati dangan terapi penisilin G injeksi. Pengobatan untuk ibu hamil tentunya memiliki regimen yang agak berbeda atau mendapat perhatian khusus, karena dapat memberikan pengaruh buruk yang akan terjadi pada janinya.

Tidak ada vaksin yang efektif untuk pencegahan. Menghindari kontak fisik intim dengan orang yang terinfeksi secara efektif mengurangi penularan sifilis. Namun, penggunaan kondom, tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Oleh karena itu, direkomendasikan hubungan jangka panjang dengan satu pasangan yang tidak terinfeksi dan menghindari zat seperti alkohol dan zat terlarang lainnya yang dapat meningkatkan risiko perilaku seksual. Sifilis bawaan pada bayi dapat dicegah dengan penapisan ibu selama awal kehamilan dan mengobati mereka yang terinfeksi. (SA/CM)

Daftar Pustaka :

Varney, Helen, dkk. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta : EGC Pawiroharjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store