Darah Tinggi Saat Hamil, Apakah Bisa Melahirkan Normal?

170

Jika seorang wanita hamil mengalami tekanan darah tinggi setelah kehamilan minggu ke-20 tetapi urinnya tidak menunjukkan peningkatan protein dan dia juga tidak mengalami gejala utama dari preeklamsia, maka kemungkinan besar mengalami Hipertensi Gestasional adalah jenis hipertensi yang terjadi hanya selama masa kehamilan dan menghilang setelah melahirkan. Jika tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg, maka wanita hamil didiagnosis dengan hipertensi gestasional.

Siapa Yang Berisiko Mengalami Hipertensi Gestasional?

Hipertensi gestasional umumnya turun-temurun, jadi jika seorang wanita hamil memiliki riwayat keluarga hipertensi gestasional, kemungkinan besar dia akan mengalaminya juga. Jika seorang wanita hamil untuk pertama kalinya, kemungkinan terkena hipertensi gestasional adalah sangat umum terjadi. Risiko hipertensi gestasional lebih tinggi pada wanita hamil:

  • Yang berusia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun
  • Yang mengalami obesitas atau berat badan berlebih
  • Yang mengandung anak kembar
  • Wanita yang memiliki riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya

Tanda Dan Gejala Dari Hipertensi Gestasional

Hipertensi gestasional dapat ditemukan pada awal selama kunjungan prenatal. Beberapa tanda dan gejala hipertensi gestasional adalah:

  • Kehamilan usia lebih dari 20 minggu dengan tekanan darah yang 140/90 atau lebih tinggi
  • Penglihatan kabur
  • Masalah pernapasan
  • Penurunan jumlah urin
  • Kelelahan ekstrim
  • Peningkatan berat badan yang cepat
  • Nyeri perut atau tulang rusuk
  • Mata seperti melihat lampu terang
  • Pembengkakan
  • Sakit kepala parah
  • Pusing
  • Mual dan muntah

Bagaimana Penanganan Hipertensi Gestasional?

Pilihan pengobatan tergantung pada tingkat keparahan. Apabila ringan dapat diobati di rumah dengan mengambil istirahat total dan mengikuti diet sehat. Namun, bila sedang sampai berat perlu pemantauan karenanya seorang wanita hamil harus dirawat di rumah sakit sampai tekanan darahnya terkendali.

Dampak Hipertensi Gestasional Pada Proses Melahirkan

Hipertensi gestasional dapat mengakibatkan:

Kelahiran prematur: Beberapa komplikasi dapat timbul menjelang akhir kehamilan jika ibu hamil mengalami hipertensi gestasional. Salah satu komplikasi tersebut adalah risiko kelahiran dan bayi lahir prematur.

Perdarahan postpartum: Hipertensi gestasional meningkatkan kemungkinan perdarahan paska melahirkan, hal ini bisa menyebabkan penurunan tekanan darah secara drastis, Jika tidak diobati dengan cepat, ini dapat menyebabkan shock dan kematian pada sang ibu. Hal ini terjadi ketika tidak ada aliran darah yang tepat dalam organ tubuh

Berat lahir rendah: Hipertensi gestasional dapat merusak pembuluh darah yang membawa darah ke plasenta. Akibatnya, bayi menerima oksigen dan yang tidak memadai yang dapat mempengaruhi perkembangan bayi. Akibatnya, bayi dapat lahir dengan berat badan lahir rendah.

Solusio plasenta: Solusio plasenta adalah suatu kondisi di mana plasenta terlepas dari dinding rahim selama masa kehamilan, persalinan atau dalam proses melahirkan. Hal ini merupakan situasi yang berbahaya bagi wanita hamil (dapat menyebabkan perdarahan serius dan intens) dan untuk bayi (bayi tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi jika plasenta terlepas dari dinding rahim dan dapat menyebabkan gawat janin)

Preeklamsia: Kadang-kadang, jika tidak dirawat dan dikelola, hipertensi gestasional dapat berkembang menjadi preeklamsia, masalah yang lebih serius yang dapat merusak otak dan organ-organ seperti hati dan ginjal ibu hamil

Hipertensi gestasional dapat menyebabkan komplikasi selama persalinan atau dapat menyebabkan masalah kritis (bahkan kejang atau stroke) untuk wanita hamil segera setelah melahirkan disarankan untuk mendapatkan penanganan dahulu di rumah sakit.

Apakah Seorang Ibu Hamil Dengan Hipertensi Gestasional Bisa Melahirkan Secara Normal?

Persalinan normal dilakukan bila serviks ibu hamil melebar, bayi sehat dan cukup kuat untuk menjalani persalinan normal. Jika tidak, dokter lebih memilih untuk melakukan operasi caesar. Beberapa tindakan pencegahan yang harus diambil bila ingin melakukan persalinan normal:

Pemantauan ibu: Tekanan darah wanita hamil akan terus dipantau selama persalinan dan melahirkan. Jika perlu, magnesium akan diberikan melalui IV untuk mengontrol tekanan darah

Pemantauan bayi: Denyut jantung bayi juga akan dipantau selama persalinan dan melahirkan. Hal ini biasanya dilakukan dengan bantuan monitor janin, yang dapat mendeteksi tanda-tanda gawat janin

Menginduksi persalinan: Untuk menghindari komplikasi lebih lanjut, jika tekanan darah wanita hamil terus menjadi tinggi, dokter akan menawarkan untuk melakukan induksi sebelum tanggal perkiraan persalinan.

Epidural: Epidural diberikan selama persalinan dan aat melahirkan. Hal ini karena nyeri saat persalinan akan meningkatkan tekanan darah. Menggunakan epidural akan membantu dalam menurunkan tekanan darah

Apabila semua kondisi diatas masih baik, maka bisa dilakukan persalinan normal namun bila dilihat kondisi ibu dan bayi tidak memungkinkan maka dokter akan segera menyarankan untuk melakukan operasi caesar.

 

Sumber: beingtheparent