Delapan Bahaya Gaya Hidup Tidak Aktif

216

Obesitas atau kelebihan berat badan sudah secara luas dikenali sebagai salah satu faktor risiko terhadap penyakit-penyakit seperti diabetes dan penyakit jantung koroner. Akan tetapi, masih banyak yang belum menyadari bahwa tingkat aktivitas fisik seseorang atau gaya hidup yang tidak aktif merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya obesitas dan penyakit metabolik.

Berikut adalah delapan bahaya yang dapat terjadi akibat gaya hidup yang tidak aktif:

Sulit menurunkan berat badan.

Gaya hidup yang tidak aktif akan menyebabkan elemen-elemen pembakar lemak di dalam tubuh kita turun sebanyak 50%. Dokter James Levine, PhD dari Mayo Clinic mengatakan bahwa enzim-enzim kunci yang berperan membakar trigliserida (salah satu jenis lemak dalam tubuh) akan mulai berhenti bekerja. Beliau lebih lanjut menyebutkan bahwa apabila kita duduk seharian. Enzim-enzim tersebut akan segera turun sebanyak 50%.

Sulit tidur nyenyak.

Paul Peppard, PhD dari Universitas Wisconsin-Madison menyebutkan melalui situs WebMD bahwa obesitas adalah faktor utama terjadinya sleep apnea. Sleep apnea adalah kondisi dimana terjadi henti napas saat tidur. Ketika serangan ini datang, penderita apnea mengalami kesulitan bernapas bahkan berhenti bernapas saat tidur. Hal tersebut disebabkan karena adanya hambatanatau sumbatan pada saluran pernapasan pada saat kita bernafas dalam kondisi tidur. Obesitas mengakibatkan sleep apnea karena adanya tumpukan lemak berlebih di leher yang dapat menghambat saluran pernapasan.

Koordinasi gerak kurang baik.

Masa kanak-kanak adalah waktu yang penting untuk mengembangkan kemampuan koordinasi motorik seseorang yang selanjutnya akan berperan penting bagi kesehatan dan tingkat kebugarannya. Anak-anak yang tidak dibiasakan bergerak dan melakukan aktivitas fisik akan memiliki kemampuan koordinasi motorik 9 kali lebih buruk daripada anak-anak yang aktif. Bahkan Dr. Luis Lopes dari Universitas Minho, Portugal mengatakan bahwa gaya hidup tidak aktif pada anak-anak berhubungan dengan tingkat kebugaran yang buruk, rasa rendah diri, penurunan prestasi akademik, dan peningkatan risiko obesitas.

Rentan bullying.

Efek gaya hidup yang tidak aktif pada anak-anak sangat besar. Anak-anak yang tidak aktif cenderung menjadi gemuk dan mengalami obesitas. Pada kondisi ini, anak tersebut akan lebih rentan menjadi korban bullying atau dijadikan lelucon oleh teman-temannya. Tepatnya 63% lebih mungkin menjadi korban perundungan.

Bahaya batu ginjal.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eric Taylor menemukan bahwa berat badan berlebih, Indeks Massa Tubuh yang tinggi, dan lingkar pinggang yang besar akibat gaya hidup yang tidak aktif akan menyebabkan peningkatan risiko terjadinya batu ginjal. Peningkatan risiko ini sebanyak 90% pada perempuan dan sebanyak 33% pada laki-laki.

Bahaya bagi janin.

Ibu hamil yang mengalami obesitas dan menjalani gaya hidup yang tidak aktif memiliki kemungkinan 3,5 kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan kelainan kongenital dibandingkan dengan ibu hamil yang berat badannya normal. Bahkan kemungkinan terjadinya kelainan jantung sejak lahir akan meningkat sebanyak 2 kali lipat.

Penurunan kesuburan.

Dokter Jorge Chavarro dari Harvard mengatakan bahwa aktivitas fisik dapat memperbaiki kualitas sperma. Bahkan pada orang-orang yang tidak aktif ditemukan bahwa jumlah spermanya 44% lebih sedikit daripada mereka yang aktif.

Hidup lebih pendek.

Orang-orang yang menghabiskan rata-rata 6 jam setiap hari untuk menonton televisi memiliki angka harapan hidup yang lebih pendek sebanyak 4.8 tahun dibandingkan mereka yang tidak menonton televisi.

Terlihat menakutkan, bukan? Akan tetapi, sebenarnya solusi dari bahaya-bahaya yang disebutkan di atas sangatlah sederhana, mulailah bergerak. Biasakan olahraga secara teratur dan hidup aktif sedini mungkin.


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store