Diabetes Insipidus

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

134

Berbeda dengan diabetes mellitus yang ditandai dengan kadar gula darah di atas normal, diabetes insipidus adalah kelainan yang ditandai dengan sering haus dan sering kencing. Diabetes insipidus terjadi karena tubuh tidak menghasilkan cukup antidiuretik hormone (ADH)/arginine vasopressin (AVP), atau karena ginjal tidak dapat merespons hormon tersebut.

Hormon antidiuretik merupakan hormon yang mengatur kadar cairan yang dibuang melalui kencing agar tidak berlebihan, sehingga tubuh masih menyimpan cukup air. Kekurangan jumlah hormon atau ketidakmampuan ginjal merespons hormon tersebut dapat terjadi karena adanya radang lokal, penyakit sistem pertahanan tubuh yang menyerang organ ginjal, kerusakan pembuluh darah pada ginjal, trauma yang diakibatkan oleh operasi atau kecelakaan, dan cacat kelainan pada otak. Diabetes insipidus juga dapat terjadi saat kehamilan (diabetes insipidus gestasional), namun sangat jarang.

Klasifikasi

Diabetes insipidus diklasifikasikan berdasarkan sistem yang terganggu:

  1. Diabetes insipidus sentral.

Pada orang dewasa penyebab diabetes insipidus yang paling sering adalah karena kerusakan kelenjar hipofisis atau hipotalamus akibat pembedahan, tumor, radang, atau cedera kepala. Kelenjar hipofisis dan hipotalamus merupakan dua kelenjar utama yang mengatur semua produksi hormon, termasuk hormon antidiuretik. Apabila terjadi kerusakan pada salah satu dari kedua kelenjar ini, produksi hormon antidiuretik juga akan terganggu karena sinyal pemerintah produksi juga akan terganggu.

Berbeda dengan orang dewasa, pada anak-anak, diabetes insipidus sentral terjadi karena kelainan genetik. Kelainan genetik yang merupakan kelainan bawaan dari lahir menyebabkan salah satu dari kelenjar hipofisis dan hipotalamus tidak dapat berfungsi dengan baik.

  1. Diabetes insipidus nefrogenik.

Diabetes insipidus nefrogenik merupakan kelainan akibat cacat pada ginjal. Akibatnya ginjal tidak mampu merespon hormon antidiuretik dengan baik.

Diagnosis

Pada dewasa, gejala utama dari diabetes insipidus adalah rasa haus, karena usaha kompensasi tubuh pada kadar air yang berkurang secara berlebihan. Pasien ingin terus minum, terutama air dingin, dalam jumlah banyak. Pada bayi, anak-anak, dan lansia dengan mobilitas untuk minum terbatas, akan timbul keluhan-keluhan lain sebagai tanda dehidrasi atau kekurangan cairan. Misalnya, bayi menjadi sering rewel, terjadi gangguan pertumbuhan, demam tinggi, dan penurunan berat badan. Selain itu, pada anak-anak dengan mekanisme menahan kencing yang belum baik, anak-anak akan sering mengompol, lemah, lesu, gangguan mental, dan kejang.

Orang dewasa buang air kecil sebanyak 4-7 kali dalam sehari, sedangkan anak kecil melakukannya hingga 10 kali dalam sehari. Hal ini dikarenakan kandung kemih anak-anak berukuran lebih kecil. Jika Anda mengalami gejala diabetes insipidus yaitu selalu merasa haus dan buang air kecil melebihi frekuensi normal, sebaiknya segera temui dokter.

Pengobatan

Pada diabetes insipidus sentral kasus ringan dapat ditangani dengan asupan air yang cukup saja. Bilamana asupan air tidak cukup dan terjadi ketidakseimbangan ion sehingga dokter harus segera memberikan cairan infus dengan ion tertentu pada tubuh Anda. Dokter bisa juga memberikan obat yang berfungsi sebagai hormon antidiuretik buatan jika memang diperlukan.

Sedangkan pada diabetes insipidus nefrogenik, dokter harus mencari tahu terlebih dahulu penyebab kerusakan ginjal yang terjadi. Kerusakan ginjal yang dapat diobati harus diobati terlebih dahulu, sehingga keluhan atau gejala diabetes insipidus nefrogenik juga ikut terobati atau sembuh. Namun bila kerusakan ginjal tidak dapat diobati atau dapat diobati namun tidak kembali seperti semula, dokter juga akan memberikan hormon antidiuretik buatan. Obat ini berfungsi menurunkan jumlah kencing yang dihasilkan oleh organ ginjal.

Diabetes insipidus adalah penyakit yang jarang menyebabkan kematian. Namun, bila Anda atau orang terdekat Anda memiliki gejala di atas, segera lakukan konsultasi dengan dokter. Diagnosis dan terapi yang tepat secara dini akan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes insipidus. (LM/STE)

Referensi

Di Iorgi, N., Napoli, F., Allegri, A., Olivieri, I., Bertelli, E., & Gallizia, A. et al. (2012). Diabetes Insipidus – Diagnosis and Management. Hormone Research In Paediatrics, 77(2), 69-84. doi: 10.1159/000336333

Kusmana, F. (2016). Diabetes Insipidus- Diagnosis dan Terapi. CDK-25. Vol 43. No 11. Available at http://www.kalbemed.com/Portals/6/09_246Diabetes%20Insipi dus%E2%80%93Diagnosis%20dan%20Terapi.pdf

Malve, H., Kalra, S., Zargar, A., Jain, S., Sethi, B., & Chowdhury, S. et al. (2016). Diabetes insipidus: The other diabetes. Indian Journal Of Endocrinology And Metabolism, 20(1), 9. doi: 10.4103/2230-8210.172273


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store