DIET DAN HUBUNGANNYA DENGAN ACNE VULGARIS (JERAWAT)

21

Acne vulgaris (jerawat) adalah salah satu kondisi dermatologis yang paling umum, mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Lesi jerawat hadir pada hampir semua orang di beberapa periode kehidupan mereka. Baik wanita dan pria sama-sama dipengaruhi oleh jerawat, namun, bentuk parah sering muncul pada pria, yang kemungkinan dipengaruhi oleh hormon. Selama masa pubertas, setiap orang dapat memiliki jerawat yang biasanya sembuh secara spontan di awal masa dewasa. Namun kadang-kadang, keadaan ini juga berlangsung hingga dekade keempat kehidupan atau bahkan seumur hidup.

Jerawat adalah keadaan kulit yang multifaktorial. Saat ini beberapa penelitian menunjukkan bahwa jerawat disebabkan oleh berbagai faktor seperti peningkatan produksi sebum, pelepasan mediator inflamasi di kulit, dan adanya bakteri Propionibacterium acnes. Selain itu, faktor-faktor lain yang berkontribusi menimbulkan jerawat adalah kecenderungan genetik, kelainan hormon, gangguan imunologis, psikologis, dan lingkungan. Beberapa penelitian juga meyakini bahwa diet menjadi salah satu faktor yang memengaruhi timbulnya jerawat, namun masih tidak diketahui sejauh apa diet memengaruhinya.

Beberapa produk makanan sering dikaitkan dengan timbulnya jerawat, salah satunya adalah makanan dengan indeks glikemik yang tinggi. Indeks glikemik adalah peringkat makanan yang kaya karbohidrat berdasarkan potensi mereka untuk meningkatkan kadar gula darah. Dengan konsumsi makanan tersebut, sering didapatkan adanya tanggapan kulit hingga timbul lesi jerawat melalui efek pada hormon pertumbuhan dan hormon seks. Diet tinggi glikemik ini sering menyebabkan resistensi insulin, yang kemudian meningkatkan produksi sebum dan menimbulkan peradangan dan jerawat.

Makanan dengan indeks glikemik yang tinggi contohnya roti putih, keripik, dan kentang putih. Makanan dengan indeks glikemik yang rendah termasuk diantaranya roti multi-biji-bijian, kacang tanah, dan sayuran. Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara jerawat dan konsumsi susu dan produk-produk susu, terutama susu skim. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa coklat hitam, yang mengandung lebih banyak antioksidan daripada cokelat susu, mungkin memiliki efek komedogenik yang jauh lebih kecil, namun efek coklat yang sering diduga sebagai faktor yang memperburuk lesi jerawat masih belum diketahui. Peran antioksidan, asam lemak omega-3, zinc, vitamin A, serat makanan dan yodium dalam proses jerawat masih belum jelas.

Sementara penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan efek makanan pada keparahan jerawat, beberapa saran berikut dapat dipertimbangkan:

  1. Perhatikan makanan yang mungkin menimbulkan atau memperburuk kondisi lesi jerawat, kemudian jangan lupa catat.
  2. Simpan buku harian makanan tersebut dan bagikan dengan dokter kulit Anda.
  3. Tetap tenang, karena mungkin diperlukan waktu kurang lebih 12 minggu perubahan pola makan untuk menentukan apakah makanan tertentu berkontribusi terhadap jerawat.
  4. Mengingat manfaat kalsium dan vitamin D, terutama pada populasi remaja yang sedang tumbuh, pasien yang memilih untuk membatasi atau menghindari produk susu untuk menghindari jerawat harus tetap melengkapi makanan dengan kadar kalsium dan vitamin D yang dianjurkan
  5. Lanjutkan mengikuti rutinitas perawatan kulit rutin anda. Perubahan diet hanya sebagian kecil dari rencana perawatan kulit dan diharapkan untuk digunakan bersama dengan terapi medis yang terbukti untuk mengatasi jerawat. (PAY)

Sumber:

  1. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2836431/
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4884775/
  3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2836431/
  4. https://www.aad.org/media/news-releases/growing-evidence-suggests-possible-link-between-diet-and-acne