Diet Keto: Menurunkan atau Meningkatkan Risiko Serangan Jantung?

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

233

Salah satu mindset yang telah berkembang di masyarakat adalah “konsumsi lemak yang terlalu banyak dapat menyebabkan obesitas, peningkatan kolesterol, dan penyakit jantung.” Akan tetapi, kini muncul diet ketogenik atau lebih akrab disapa ‘diet keto’ yang menganjurkan pola makan rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Padahal, diet-diet yang bertujuan untuk menurunkan berat badan biasanya menganjurkan untuk sesedikit mungkin mengonsumsi lemak. Lalu bagaimana dengan diet keto ini? Apakah aman bagi kesehatan?

Mengenal Mekanisme Diet Keto

Apabila kita kekurangan karbohidrat atau glukosa, tubuh kita memiliki mekanisme untuk memecah sumber energi dari bahan selain karbohidrat, seperti protein dan lemak. Untuk lemak, mekanisme ini disebut ketogenesis atau pembentukan badan keton di hati. Badan keton ini lah yang kemudian ditransfer oleh hati ke jaringan-jaringan tubuh melalui pembuluh darah, sehingga tubuh kita tidak kekurangan energi apabila tidak mengonsumsi karbohidrat.

Mengapa diet keto bisa menurunkan berat badan? Proses yang terjadi adalah, hormon insulin yang bertanggung jawab atas penyerapan glukosa ke dalam sel tubuh tidak mengalami kenaikan jumlah dalam darah karena konsumsi glukosa yang sedikit, sehingga hormon leptin (hormon yang bekerja dalam metabolisme glukosa dan menginduksi adanya resistensi insulin pada kencing manis) tidak tinggi pula kadarnya. Yang menjadi perbedaan antara diet keto dengan diet rendah karbohidrat adalah penurunan hormon ghrelin pada orang-orang yang melakukan diet keto. Hormon ghrelin adalah hormon yang bertanggung jawab atas rasa lapar. Dengan berkurangnya hormon insulin, leptin, dan ghrelin, metabolisme glukosa berbelok menjadi metabolisme lemak. Hal ini mampu menginduksi pembakaran lemak baik yang dikonsumsi maupun yang sudah disimpan dalam lapisan kulit. (Little, 2016)

Diet Keto Terhadap Risiko Serangan Jantung

Studi penelitian menunjukkan bahwa diet keto mampu menurunkan jumlah LDL (low density lipoprotein), menurunkan kadar kolesterol, dan meningkatkan HDL (high density lipoprotein). LDL merupakan protein yang bertugas mengangkut kolesterol, trigliserida, dan lemak lain ke jaringan tubuh. Bahasa mudahnya, LDL bagi-bagi kolesterol, sehingga kadar LDL yang tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol. LDL ini bisa digolongkan jahat. Sedangkan HDL merupakan protein yang mengangkut kolesterol dari jaringan tubuh ke hati. Bahasa mudahnya, HDL bersih-bersih kolesterol sehingga bisa digolongkan baik. Berkurangnya LDL dan kolesterol dalam darah dapat mengurangi risiko pembentukan plak dalam pembuluh darah yang bisa mengantarkan pada penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease) yang berujung pada serangan jantung mendadak (acute myocardium infarction). (Kosinski et Jornayvaz, 2017)

Pada praktiknya, kendala yang bisa memengaruhi proses diet Anda tidak bisa dihindarkan. Oleh karena itu, berkonsultasilah dengan dokter untuk penerapan diet ini karena pola diet yang salah dapat memunculkan berbagai efek yang tidak diinginkan. (SBD)

Daftar Pustaka

  1. Kosinski, C, Jornayvaz, FR. 2017. “Effects of Ketogenic Diets on Cardiovascular Risk Factors: Evidence from Animal and Human Studies”, Nutrients [e-journal]. Tersedia di: <https://ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5452247/pdf/nutrients-09-00517.pdf> [Diakses 8 September 2018]
  2. Little, W. 2016. “Summarizing science behind ketogenic (low-carb) diets”. Tersedia di: <https://ketoschool.com/summarizing-the-science-behind-ketogenic-low-carb-diets-adc72a3ade8> [Diakses 8 September 2018]

Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store