Diet Keto Untuk Diabetes Mellitus

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

108

Diet ketogenik atau akrab disebut diet keto merupakan diet tinggi lemak dengan konsumsi gula sangat rendah. Konsumsi gula yang sangat rendah ini sangat relevan dengan ciri-ciri diet pada orang dengan diabetes mellitus (kencing manis). Diet yang digunakan pada orang dengan diabetes mellitus biasanya menggunakan metode dari American Diabetes Association yakni ‘Create Your Plate’ yang menganjurkan konsumsi sayur-sayuran (50%), protein (25%), dan makanan berserat dan bertepung (25%) dengan membatasi gula dan makanan berlemak. Kini, muncul pola diet baru dengan anjuran konsumsi lemak dalam jumlah tinggi. Mengingat kondisi pada diabetes rentan terpapar ketoasidosis, apakah aman pola diet ini untuk para penderita diabetes?

 

Sebelumnya, mari kita membahas beberapa hal mengenai diabetes mellitus. Diabetes mellitus merupakan kelainan metabolik yang disebabkan oleh kurangnya produksi insulin (hormon yang berperan dalam penyerapan gula oleh jaringan; pada diabetes mellitus tipe 1) atau resistensi insulin (tubuh membutuhkan insulin lebih untuk menimbulkan efek yang biasanya; pada diabetes mellitus tipe 2). Hal ini menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah, dengan sel-sel jaringan yang kelaparan karena gula tidak bisa masuk ke jaringan. Keadaan ini menimbulkan tiga gejala utama pada diabetes, yakni banyak kencing, banyak makan, dan banyak minum.

 

Keefektifan diet keto dalam menurunkan berat badan

Penelitian oleh Saslow et al (2017) menunjukkan adanya perbedaan signifikan penurunan berat badan pada orang diabetes dengan diet keto dibanding dengan diet Create Your Plate. Kondisi ini memungkinkan orang-orang diabetes untuk memiliki peluang yang lebih besar dalam mengatur diabetesnya.

 

Akan tetapi, diet keto kurang cocok pada diabetes mellitus tipe 1 dan perlu diwaspadai pada diabetes mellitus tipe 2

Pada diabetes, kondisi ketoasidosis perlu diwaspadai. Ketoasidosis merupakan kondisi ketika gula darah dalam jumlah yang tinggi, tetapi tidak terdapat cukup insulin, sehingga jaringan tidak mendapat asupan gula. Akibatnya, tubuh kita memulai mekanisme pemecahan lemak agar bisa digunakan sebagai sumber energi pengganti. Hasil pemecahan lemak yang bisa digunakan sebagai sumber energi adalah badan keton. Badan keton ini diproduksi di hati dan didistribusikan ke berbagai jaringan di tubuh. Pada orang normal, kondisi ini disebut ketosis. Ketosis tidak berbahaya dan merupakan mekanisme utama pada diet keto. Akan tetapi, walaupun kelebihan keton biasa dibuang melalui air kencing, produksi badan keton pada diabetes masih tergolong banyak. Apabila kadar badan keton terlalu banyak dalam darah, pH cairan tubuh bisa turun menjadi asam. Kondisi inilah yang disebut ketoasidosis. Ditambah dengan keadaan dehidrasi yang disebabkan oleh banyaknya kencing yang dikeluarkan, tubuh tidak memiliki cukup cairan untuk menetralkan pH yang asam. Ketoasidosis merupakan kondisi darurat yang perlu penanganan segera agar tidak berujung pada kematian.

 

Ketoasidosis lebih sering ditemui pada orang dengan diabetes mellitus tipe 1, yakni orang dengan ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi insulin. Kondisi yang dapat menginduksi kondisi ini adalah saat lupa menyuntikkan insulin dan saat sakit (hormon stres bekerja menekan kerja insulin yang disuntikkan). Oleh karena itu, diet keto yang bisa menambah kadar keton dalam darah tidak dianjurkan pada orang dengan diabetes mellitus tipe 1.

 

Sedangkan pada orang dengan diabetes mellitus tipe 2, keadaan ini jarang ditemui. Akan tetapi, jarang bukan berarti tidak mungkin. Oleh karena itu, perlu dilakukan monitoring terhadap kadar gula dan keton dalam darah. Karena gula dan keton pada orang diabetes dikeluarkan melalui kencing, bisa digunakan dipstick yang dicelupkan pada air kencing untuk melakukan monitoring. Apabila kadar keton melebihi normal selama beberapa hari atau dengan disertai gejala muntah, napas dan kencing bau buah, haus dan mulut kering, segera periksakan ke dokter untuk mengantisipasi komplikasi ketoasidosis. (SBD/STE)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association. 2018. ‘Create Your Plate’. Tersedia di: <http://www.diabetes.org/food-and-fitness/food/planning-meals/create-your-plate/> [Diakses 30 November 2018]

American Diabetes Association. 2018. ‘DKA (Ketoacidosis) & Ketones’. Tersedia di: <http://www.diabetes.org/living-with-diabetes/complications/ketoacidosis-dka.html> [Diakses 30 November 2018]

Higuera V. 2018. ‘What’s the Difference Between Ketosis and Diabetic Ketoacidosis?’. Tersedia di: <https://www.everydayhealth.com/type-2-diabetes/symptoms/ketosis-diabetic-ketoacidosis-how-they-differ/> [Diakses 30 November 2018]

Saslow LR, Mason AE, Kim S, Goldman V, Ploutz-Snyder R, Bayandorian H, Daubenmier J, Hecht FM, Moskowitz JT. 2017. ‘An Online Intervention Comparing a Very Low-Carbohydrate Ketogenic Diet and Lifestyle Recommendations Versus a Plate Method Diet in Overweight Individuals with Type 2 Diabetes: A Randomized Controlled Trial’. Journal of Medical Internet Research; 19(2): e36. [e-journal] Tersedia di: <https://www.jmir.org/2017/2/e36/#ref20> [Diakses 30 November 2018]

Scheiner G. 2016. ‘How DKA Happens and What to Do About it’. Tersedia di: <https://insulinnation.com/treatment/how-dka-happens-and-what-to-do-about-it> [Diakses 30 November 2018]


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store