FASTING THE OLDEST ANTI – AGING METHOD

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

235

Fasting atau berpuasa bukan hanya sekadar kewajiban bagi umat Muslim di bulan suci Ramadhan. Di balik itu semua, ada makna tersendiri bagi puasa tersebut, yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Mari kita kupas tuntas tentang puasa ini.

Bagi sebagian orang, terutama kaum Muslimin, menjalankan puasa selama bulan Ramadhan memang menjadi suatu kewajiban. Namun ternyata, berpuasa yang merupakan salah satu metode anti-aging tertua ini, tidak saja diyakini bisa membuat tubuh semakin sehat, tetapi saat kita melakukan puasa, kita akan mengistirahatkan organ-organ yang banyak berperan di saat kita tidak berpuasa, seperti organ pencernaan mulai dari mulut, tenggorokan, lambung, hati, empedu, bahkan usus kita.

METODE BERPUASA

Menurut Dr. Widya Murni, MARS, Dipl.of HIS dari Jakarta Asah Asih Clinic (JAAC), banyak metode puasa yang dikenal, selain puasa Ramadhan yang memang wajib dijalankan seorang Muslim. Mengapa kita perlu melakukan puasa, karena ternyata banyak sekali makanan yang jika kita konsumsi dalam jumlah yang banyak dan terus menerus, malah membuat keseimbangan nutrisi dan hormonal terganggu. Misalnya makanan dengan karbohidrat tinggi (indeks glikemik tinggi) secara langsung akan menurunkan hormon-hormon pemacu metabolisme seperti thyroid dan cortisol, bahkan hormon yang lain semuanya ikut  menurun seperti estrogen, progesterone dan testosterone serta growth hormone. Padahal keseimbangan nutrisi dan hormonal inilah yang menjadi penentu derajat kesehatan dan awet muda penampilan fisik seseorang baik pria maupun wanita.

“Ada sebuah teknik puasa yang dinamakan intermitten fasting, di mana seseorang berpuasa sehari kemudian besoknya tidak puasa, begitu seterusnya. Jika kita meninjau kembali sejarah, jenis puasa ini dijalankan oleh Nabi Daud. Ternyata metode puasa ini baik dilakukan setiap orang yang ingin mempertahankan kesehatan dan kecantikan sepanjang hidup. Selain mudah dan murah, bias dijalankan oleh siapa saja. Intermitten fasting bias menurunkan berat badan, menurunkan semua resiko penyakit kardiometabolik seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner dan bahkan menurunkan resiko penyakit kanker. Kebanyakan penyakit degenerative ini muncul akibat kesalahan lifestyle yang dijalankan, baik dari pola makanan, olah raga, relaksasi, ketidakseimbangan nutrisi, stress management yang buruk ditambah pola tidur yang tidak teratur.” Terang Dr. Widya sambil menambahkan, beberapa resort terkenal di luar negeri menawarkan program wellness berupa intermitten fasting atau detoksifikasi yang dilakukan saat sedang berkunjung ke resort tersebut.

Bagi Anda yang sulit mengatur makan dan pola makan, mungkin bisa mulai pertimbangkan untuk menjalankan intermitten fasting mulai hari ini, agar sisa umur kita bias dinikmati dengan kesehatan yang sempurna, berat badan ideal, dan hormon-hormon tidak terlalu drastis menurun akibat pengaturan pola makan yang kurang ideal.

THE OLDEST ANTI-AGING METHOD

Mengapa berpuasa dikatakan sebagai  “The Oldest  Anti-aging Method“ ? Hal ini dikarenakan puasa sudah dilakukan, disarankan dan diwajibkan (umat Muslim) sejak ribuan tahun lalu. Dikatakan bahwa puasa yang dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud Alaihi Salam, yakni berpuasa satu hari dan berbuka satu hari sesudahnya. Selain puasa Nabi Daud, dikenal juga jenis puasa lainnya yakni puasa Senin-Kamis.

“Puasa bukan hanya dimaksudkan untuk menahan nafsu makan, tetapi mengendalikan diri dari berkata keji, berteriak – teriak, mencela orang dan men – zalimi, sehingga puasa dianggap bisa menjaga keseimbangan body – mind – spirit seseorang. Jadi puasa dijadikan perisai semua hawa nafsu yang buruk. Bisa dibayangkan jika seseorang rutin menjalankan puasa ini, maka hampir sepanjang sisa hidupnya senantiasa diberkahi kesehatan, keberkahan dan cantik lahir dan bathin.“ Dokter Widya menjelaskan lagi.

KETIKA TUBUH BERPUASA

Menurut Dr. Widya, pertama kali kita menjalankan puasa, tubuh belum beradaptasi secara maksimal. Selain itu puasa juga bisa mendetoksifikasi tubuh, sehingga pertama menjalankan puasa ada yang merasakan tubuh terasa lebih lemah daripada biasanya. Tapi keadaan ini tidak akan berlangsung lama, apalagi jika kita bisa memenuhi kebutuhan nutrisi secara sempurna, sehingga walaupun berpuasa, tubuh kita tidak kekurangan nutrisi penjaga kebugaran.

“Secara teknis, tubuh kita baru masuk pada keadaan puasa setelah terakhir makan 8 jam sebelumnya. Karena 8 jam ini dibutuhkan tubuh untuk mencerna makanan hingga mencapai usus menyerap berbagai nutrisi dari makanan yang dimakan,“ ujar Dr. Widya.

Pada keadaan normal jika tidak berpuasa, glukosa tubuh kita tersimpan di hati dan otot sebagai sumber energi utama. Selama puasa, penyimpanan glukosa tubuh inilah yang dibakar pertama (dari glikogen) sebagai pemasok energi tubuh kita. Setelah penyimpanan ini habis dipakai, maka sumber energi berikutnya berasal dari lemak. Pada puasa Ramadhan, kita hanya berpuasa 13-14 jam sehari, sangat bermanfaat untuk menurunkan kadar lemak, jika saat berbuka puasa kita tidak mengonsumsi kadar glukosa yang berlebihan. Penurunan berat badan menyebabkan kadar gula darah membaik sehingga merupakan kontrol penyakit diabetes yang baik dan juga ikut menurunkan tekanan darah yang meningkat. Kolesterol juga akan menurun jika pola asupan saat berbuka puasa tidak mengonsumsi makanan dengan kadar lemak jahat yang tinggi.

“Proses detoksifikasi terjadi dalam tubuh yang berpuasa, di mana berbagai toksin yang tersimpan dalam lemak dan menyebabkan banyak gangguan estrogen dominance bisa dikoreksi. Setelah beberapa hari berpuasa, tubuh akan meningkatkan produksi hormon endorphin atau hormon kebahagiaan yang mengendalikan kewaspadaan, daya pikir (kognitif) dan kesehatan mental,“ Dr. Widya menambahkan.

MAKANAN TERBAIK SAAT BUKA PUASA

Berbuka puasa yang ideal adalah tidak mengonsumsi makanan manis yang berlebihan, karena kadar gula darah yang rendah sepanjang hari sebenarnya sangat baik dalam mengontrol nafsu makan dan meningkatkan growth hormone secara alami.

Menurut Dr. Widya, “Jika kadar glukosa darah meningkat terlalu tajam, akan menyebabkan sugar craving, atau keinginan mengonsumsi makanan manis lagi sesudahnya, sehingga tidak akan memperbaiki metabolisme yang sudah baik selama berpuasa. Makanan yang dianjurkan, tinggi protein kalori sedang, berserat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, karena makanan berserat akan memperbaiki pencernaan saat berpuasa, jadi sebaiknya tidak mengonsumsi banyak karbohidrat,“

DAPAT MENYEBABKAN ASAM LAMBUNG ?

Mereka yang bermasalah dengan lambung atau memiliki penyakit asam lambung, sering kali merasa khawatir jika berpuasa. Dijelaskan oleh Dr. Widya, dulu orang menganggap sakit lambung bisa terjadi jika asam lambung berlebihan, sehingga banyak sekali obat-obat yang dikenal dari dunia farmasi akan mengurangi produksi asam lambung. Tapi penggunaan obat-obat ini akan menyebabkan terjadinya hypo-acidity yang akhirnya meningkatkan rasa sakit lambung itu sendiri.

“Saat ini diprediksi gangguan lambung sering terjadi pada mereka yang banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, dimana terjadi inflammasi pada lambungnya. Cara mengatasinya adalah, hindari konsumsi gluten (tepung roti) bagi mereka yang memiliki gangguan lambung, perbanyak konsumsi makanan raw food atau yang bersifat alkali (pH basa), dan dapat menggunakan supplementasi Betaine HCL dan probiotic plus digestive enzyme untuk mengatasi gangguan ini tanpa penggunaan obat kimiawi,“ terang Dr. Widya lagi.


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store