HIV/AIDS Pada Anak

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

143

Setiap hari, sekitar 1.500 anak dengan umur di bawah 15 tahun terinfeksi HIV dan sebagian besar kasus HIV/AIDs ini terjadi di daerah sub-Sahara Afrika Selatan. Namun,tidak terkecuali juga terjadi pada anak-anak di Indonesia dengan presentasi sebesar 3% menyebabkan kematian.

Mungkin, ini membuat para orang tua menjadi khawatir, tetapi untuk anak-anak yang mengalami HIV/AIDs, dengan penanganan yang tepat, anak-anak ini akan dapat tumbuh dengan hidup yang panjang dan kulitas hidup yang baik. Untuk mengetahui lebih lengkap, simak penjelasan artikel berikut:

Penyebab anak menderita HIV/AIDs

Sebagian besar anak-anak yang terinfeksi HIV memperoleh penyakit ini dari ibu saat ibu hamil. Selain itu penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi saat proses kelahiran atau saat ibu menyusui. Namun, ibu yang positif HIV/AIDS, dengan mendapatkan pengobatan tetap, dapat menurunkan risiko kemungkinan penularan virus ke anak. Hal ini merupakan cara terbaik untuk mencegah terjadi HIV/AIDs pada anak.

Selain itu anak-anak dapat terinfeksi melalui:

  1. Pelecehan seksual atau pemerkosaan.
  2. Transfusi darah atau suntikan positif HIV dengan jarum yang yang tidak steril.
  3. Penggunaan obat terlarang dengan suntikan. Infeksi HIV ini lebih mudah dialami oleh anak-anak muda yang tinggal di jalanan.

Gejala HIV/AIDs pada Anak

Tidak semua anak dengan HIV akan memiliki gejala, dan mereka yang tidak memiliki gejala yang sama. Gejala dapat bervariasi berdasarkan usia.

Beberapa gejala umum HIV/AIDs  yaitu:

  1. Kegagalan untuk tumbuh kembang sesuai grafik standar untuk pertumbuhan.
  2. Masalah sistem otak atau saraf seperti kejang, kesulitan berjalan, atau sering mendapatkan nilai yang buruk di sekolah
  3. Sering mengalami sakit seperti infeksi telinga, pilek, sakit perut, atau diare

Seperti orang dewasa, ketika infeksi HIV meningkat, anak-anak mulai mengembangkan infeksi yang jarang memengaruhi orang sehat tetapi dapat mematikan bagi seseorang yang sistem kekebalannya tidak berfungsi dengan baik.

Pengobatan HIV/AIDs pada Anak

Untuk pengobatan HIV.AIDs pada anak, perlakuannya cukup sama dengan orang dewasa yaitu diberikan kombinasi obat yang disebut ART (terapi antiretroviral). Tetapi tidak sesederhana itu, karena beberapa obat HIV tidak datang dalam bentuk cair yang dapat ditelan oleh bayi dan anak kecil. Selain itu, beberapa obat menyebabkan efek samping yang serius bagi anak-anak.

Tanpa terapi antiretrovital, sepertiga bayi dengan positif HIV di seluruh dunia tidak akan sampai pada usia 1 tahun, dan setengahnya akan meninggal sebelum mereka berusia 2 tahun. Untuk anak-anak yang lebih tua yang tidak memiliki gejala dapat menggunakan terapi antiretroviral untuk membantu menjaga mereka tetap sehat.

Anak dengan HIV/AIDs

Sebagai orang dewasa, orang tua harus berbicara dengan anak mengenai penyakit yang mereka derita, dengan komunikasi yang sesuai usia anak. Hal ini dilakukan untuk membuatnya tidak terlalu takut. Perlu diberitahukan bahwa kondisi ini bukanlah merupakan kesalahan mereka karena mereka sakit dan harus minum obat setiap hari. Dukungan sosial, keuangan, dan emosional dari seluruh keluarga, sangat penting. (LM)

Referensi

Cold, F., Health, E., Disease, H., Management, P., Conditions, S., & Problems, S. et al. (2018). Children With HIV and AIDS: An Overview. Retrieved from https:// www.webmd.com/hiv-aids/guide/hiv-in-children#1

HIV and AIDS in Children: Causes, Symptoms, Diagnosis, and Treatment | St. Louis Children’s Hospital. (2018). Retrieved from http://www.stlouischildrens.org/disea ses-conditions/hiv


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store