Jika Dimakan Terus Menerus, Alergi Makanan Jadi Hilang, Benarkah?

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

108

Ada sekitar 15% dari masyarakat yang menduga bahwa mereka mengalami alergi makanan. Padahal menurut data alergi makanan pada anak hanya berkisar 6-8% dan pada dewasa 1-2%. Hal ini karena banyak masyarakat belum mengerti apa arti alergi sebenarnya.

Alergi makanan didefinisikan sebagai efek kesehatan yang merugikan yang timbul dari respon sistem pertahanan tubuh atau imun spesifik yang terjadi secara berlebihan pada paparan makanan tertentu. Respon imun tersebut terlalu berlebihan pada orang tersebut, yang bagi orang lain mungkin tidak menimbulkan masalah.

Kadang masyarakat salah kaprah istilah alergi dengan reaksi simpang makanan atau adverse
food reaction. 
Reaksi simpang makanan adalah istilah umum yang dipakai untuk
menyatakan reaksi yang timbul setelah memakan sesuatu makanan. Reaksi simpang makanan tidak harus berupa reaksi alergi, malah sebagian besar reaksi simpang makanan tergolong
intoleransi makanan. Contoh intoleransi makanan adalah saat seseorang mengonsumsi ikan yang terkontaminasi, atau makanan yang sudah tercemar racun dari bekteri Salmonella atau Shigella, reaksi kafein dalam kopi, tiramin dari keju, reaksi metabolik pada kurangnya enzim laktase atau mungkin reaksi akibat gangguan psikis.

Reaksi alergi makanan lebih sering terjadi pada usia tahun pertama kehidupan seorang anak. Makanan yang menjadi alergi biasanya adalah susu, telur, kacang, ikan, kacang kedele, buah, sayur, dan gandum. Selain makanan tersebut bahan penyedap makanan dan zat warna makanan juga dapat menjadi penyebab alergi juga, seperti pemanis aspartane, zat warna kuning,
merah, hijau, nitrit, monosodium glutamat, dan antioksidan.

Gejala-gejala alergi makanan sangat bervariasi mulai dari kulit, pencernaan, pernapasan hingga eajal yang parah dan mematikan yaitu reaksi anafilaktik. Reaksi alergi dikulit dapat berupa biduran atau ruam kemerahan yang meninggi dan berbentuk seperti pulau bengkak kemerahan dan juga eksim. Reaksi alergi yang dapat timbul pada saluran cerna dapat bermacam-macam, seperti mual, muntah, diare, gembung, sering kentut, nyeri perut dan sembelit yang menahun. Alergi makanan juga dapat menyebabkan asma dan juga flu. Anak yang terkena asma yang disebabkan alergi makanan umumnya pada usia yang muda dan sebagian besar didahului oleh eksim. Reaksi anafilatik terjadi dalam beberapa menit sampai 2 jam setelah mengkonsumsi makanan. Reaksi anafilaktik ini membahayakan karena dapat menyebabkan syok, kehilangan cairan, atau karena menyempitnya saluran napas, sehingga dapat terjadi kematian mendadak.

Salah satu cara untuk menegakkan dengan pasti apakah anak tersebut alergi makanan atau tidak adalah dengan menggunakan tes provokasi makanan. Tes ini merupakan pemeriksaan baku emas untuk menegakkan alergi makanan. Pasien sebelum melakukan provokasi makanan harus mengindari makanan yang disangka minimal 2 minggu atau lebih.

Lalu bila sudah mengetahui makanan yang menjadi penyebab, beberapa orang berenggapan kalau dengan terus menerus memberikan makanan tersebut maka alerginya akan hilang. Kenyataannya justru anjuran dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) malah menyatakan sebaliknya yaitu menghindari makanan penyebab tersebut. Apalagi kalau reaksi yang ditimbulkan mematikan seperti reaksi anafilaktik, tentunya kita tidak ingin hal tersebut terulang kembali. Pemberian makanan penyebab alergi kembali akan menimbulkan reaksi alergi kembali bukan malah menghilangkan alergi.

Semua makanan tidak perlu dihindarkan yang termasuk golongan botanik yang sama karena Reaksi alergi makanan umumnya sangat spesifik untuk 1 jenis makanan. Penghindaran yang ketat harus dilakukan juga oleh keluarga pasien, termasuk makanan olahan yang berbahan dari makanan penyebab alergi. Sehingga semua label makanan yang tercantum pada kemasan makanan perlu dibaca apakah mengandung produk dari makanan yang harus dihindarkan.

Penghindaran suatu jenis makanan harus diperhitungkan kerugian dan keuntungannya karena anak memerlukan makanan tersebut untuk pertumbuhan dan perkembangan. Selain penghindaran makanan perlu juga dicarikan makanan pengganti sehingga terpenuhi makanan yang rasanya enak dan disukai anak. Tujuannya adalah agar gizi anak tetap terpenuhi walaupun ada makanan yang harus dihindari. Makan tersebut haruslah diganti dengan bahan lain yang sama atau hampir sama nilai kalori dan nutrisinnya.

Sebagian alergi makanan pada anak akan menghilang dengan bertambahnya usia sang anak. Namun beberapa jenis makanan seperti kacang, ikan dan tree nuts tidak menghilang walaupun anak tersebut menjadi dewasa. (OMI/STE)

Sumber

https://idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/apakah-anak-alergi-bisa-sembuh

https://idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/apa-ya-penghindaran-pencetus-ini

https://ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4241964/

Muraro, A., Werfel, T., Hoffmann-Sommergruber, K., Roberts, G., Beyer, K., Bindslev-Jensen, C., Cardona, V., Dubois, A., duToit, G., Eigenmann, P., Fernandez Rivas, M., Halken, S., Hickstein, L., Høst, A., Knol, E., Lack, G., Marchisotto, M., Niggemann, B., Nwaru, B., Papadopoulos, N., Poulsen, L., Santos, A., Skypala, I., Schoepfer, A., Van Ree, R., Venter, C., Worm, M., Vlieg-Boerstra, B., Panesar, S., de Silva, D., Soares-Weiser, K., Sheikh, A., Ballmer-Weber, B., Nilsson, C., de Jong, N. and Akdis, C. (2014). EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: diagnosis and management of food allergy. Allergy, 69(8), pp.1008-1025.

https://ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4241964/

Siregar, S. (2001). Alergi Makanan pada Bayi dan Anak. Sari Pediatri, 3(3), pp.168-174.


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store