Kehamilan Ektopik

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

86

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang berkembang di luar rahim, biasanya di dalam tuba falopii atau saluran penghubung antara indung telur dan rahim perempuan. Situasi ini membahayakan nyawa karena dapat menyebabkan pecahnya tuba falopii jika kehamilan berkembang.

Hampir semua kehamilan ektopik terjadi di tuba falopii sehingga kadang disebut juga tubal pregnancy. Tuba falopii tidak diciptakan untuk menopang tumbuh kembang embrio, sehingga sel telur yang telah dibuahi dan menempel di tuba falopii tidak bisa bertumbuh dengan baik. Selain tuba falopii organ lain yang mungkin menjadi lokasi berkembangnya kehamilan ektopik meliputi rongga perut, ovarium, serta leher rahim atau serviks. Kehamilan ini harus segera dihentikan, baik dengan obat atau pun melalui tindakan operasi, agar tidak membahayakan nyawa sang ibu.

Penyebab Kehamilan Ektopik

Sayangnya, belum diketahui secara pasti apa penyebab kehamilan ektopik. Dalam beberapa kasus, kondisi-kondisi ini dihubungkan dengan kejadian kehamilan ektopik :

  • Riwayat penyakit radang panggul, yang biasanya disebabkan oleh penyakit menular seksual.
  • Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya.
  • Riwayat operasi pada panggul atau rongga perut sebelumnya.
  • Kelainan pada tuba falopii
  • Terjadi kehamilan saat menggunakan alat kontrasepsi IUD atau alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), atau setelah sterilisasi
  • Jaringan parut dari infeksi atau operasi organ kewanitaan
  • Merokok sebelum atau saat kehamilan

Gejala Kehamilan Ektopik

Pada awalnya, kehamilan ektopik cenderung tanpa gejala atau memiliki tanda yang mirip dengan kehamilan biasa sebelum akhirnya muncul gejala lain yang mengindikasikan kehamilan ektopik. di antaranya adalah:

  • Sakit pada perut bagian bawah yang biasanya terjadi di 1 sisi.
  • Nyeri pada tulang panggul.
  • Perdarahan ringan dari vagina.
  • Pusing atau lemas.
  • Mual dan muntah yang disertai rasa nyeri.
  • Nyeri pada bahu.
  • Rasa sakit atau tekanan pada rektum saat buang air besar.
  • Jika tuba falopii sobek, akan terjadi perdarahan hebat yang mungkin memicu hilangnya kesadaran.

Kehamilan ektopik bisa diketahui lewat pemeriksaan USG oleh dokter. Oleh karena itu, disarankan untuk segera berkonsultasi pada dokter kandungan setelah mengetahui jika Anda sedang hamil.

Pada masa-masa awal kehamilan, terutama 5 hingga 6 minggu awal setelah konsepsi, kehamilan mungkin belum bisa terdeteksi melalui USG. Pada kondisi inilah dokter mungkin akan menganjurkan tes darah untuk mengidentifikasi kehamilan ektopik. Tes ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan hormon hCG (Human chorionic gonadotropin), hormon ini diproduksi plasenta selama awal kehamilan. Pada kehamilan ektopik, kadar hormon hCG cenderung lebih rendah daripada kehamilan normal.

Untuk penanganannya jika dokter sudah menentukan bahwa komplikasi yang berbahaya tidak terjadi, maka dokter akan meresepkan beberapa obat yang bisa menjaga agar kehamilan ektopik tidak terganggu. Anda juga akan dianjurkan untuk melakukan tes darah rutin untuk memastikan bahwa obat ini bekerja efektif atau tidak. Umumnya dokter bedah akan menyarankan untuk mengangkat embrio dan memperbaiki kerusakan pada organ-organ dalam. Prosedur ini disebut laparaskopi. Dokter bedah akan mengangkat embrio dan memperbaiki kerusakan tuba falopii. Jika operasi tidak berhasil, ahli bedah akan mengambil tindakan laparatomi, kali ini melalui sayatan yang lebih besar.

Diagnosis yang tidak tepat dan penanganan kehamilan ektopik yang terlambat dapat memicu perdarahan hebat dan bahkan kematian akibat sobeknya tuba falopii atau rahim. Jika mengalami komplikasi ini, pasien harus menjalani operasi darurat melalui bedah terbuka. Tuba falopii kemungkinan dapat diperbaiki, tapi umumnya harus diangkat. (RH)

Daftar Pustaka

Johnson, T. WebMD (2017). What to Know About Ectopic Pregnancy

Mayo Clinic (2015). Diseases and Conditions Ectopic Pregnancy


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store