Kekurangan Protein Picu Terjadinya Henti Jantung Mendadak, Benarkah?

204

Sebuah penelitian baru menemukan bahwa rendahnya kadar suatu protein tertentu dapat meningkatkan resiko terjadinya kematian mendadak akibat gangguan jantung di pagi hari, di mana jantung berhenti bekerja secara mendadak akibat ketidakstabilan aliran listrik di dalamnya.

Kematian yang disebabkan oleh henti jantung mendadak akibat gangguan aliran listrik di dalam jantung ini merupakan salah satu dari penyebab kematian utama dari orang yang berusia antara 35-44 tahun.

Kematian akibat henti jantung mendadak ini biasanya terjadi di pagi hari, yaitu antara pukul 6 pagi hingga pukul 10 pagi dan seringkali tidak tertolong.

Para ahli telah lama menduga adanya suatu hubungan antara henti jantung mendadak ini dengan irama sirkadian seseorang. Irama sirkadian merupakan suatu mekanisme di dalam tubuh yang mengatur kapan seseorang harus bangun dan kapan seseorang harus tidur.

Pada penelitian ini, para peneliti menemukan sebuah protein, yaitu KLF15, yang memiliki peranan penting dalam proses pengaturan aliran listrik di dalam jantung. Kadar protein ini berubah-ubah sepanjang hari untuk menjaga denyut jantung tetap dalam batas normal di sepanjang hari.

Pada awalnya, para peneliti menemukan bahwa para penderita gagal jantung memiliki kadar protein KLF15 yang lebih rendah dibandingkan dengan orang lainnya.

Dengan menggunakan tikus percobaan, para peneliti kemudian menemukan bahwa tikus yang memiliki kadar protein KLF15 yang lebih rendah juga memiliki gangguan jantung yang sama dengan seorang manusia yang mengalami henti jantung mendadak.

Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang memiliki kadar protein KLF15 yang rendah ternyata lebih rentan terhadap henti jantung mendadak yang banyak terjadi di pagi hari ini.

Para peneliti menduga bahwa dengan meningkatkan kadar protein ini, maka resiko terjadinya henti jantung mendadak pada seorang penderita gangguan jantung pun dapat diturunkan.

Sumber: newsmaxhealth