Ketepatan Penggunaan Obat Tradisional/Herbal

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

275
Beautiful Tea Ceremony Glass Teapot Honey Mint Cups on Old Rustic Green Table Background Closeup Horizontal

Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat moderen. Hal ini disebabkan karena banyak orang yang percaya bahwa obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat moderen. Padahal, efek samping obat tradisional yang nampak sedikit dapat disebabkan oleh kurangnya penelitian efek samping dari obat tradisional, tidak seperti obat moderen yang harus melalui berbagaimacam penelitian, termasuk penelitiaan efek samping, sebelum kemudian boleh dilepas di pasaran.

Bila Anda adalah penggemar obat tradisional, berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan obat herbal atau tradisional untuk mendapatkan efek samping seminimal mungkin.

  1. Ketepatan kualitas unsur/ bahan

Tanaman obat di Indonesia terdiri dari beragam spesies yang kadang kala sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Ketepatan kualitas bahan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang diinginkan. Sebagai contoh lempuyang di pasaran ada beberapa macam yang agak sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Lempuyang emprit (Zingiber amaricans) memiliki bentuk yang relatif lebih kecil, berwarna kuning dengan rasa yang pahit, lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) yang memiliki bentuk lebih besar dan berwarna kuning, jenis ini pun berkhasiat sebagai penambah nafsu makan, yang ketiga adalah lempuyang wangi (Zingiber aromaticum) yang memiliki warna agak putih dan berbau harum, jenis ini memiliki khasiat sebagai pelangsing.

  1. Ketepatan dosis

Tanaman obat, seperti halnya resep dokter tetap ada dosis yang harus dipatuhi. Anggapan bila obat tradisional aman dikonsumsi walaupun gejala sakit sudah hilang adalah keliru. Peracikan secara tradisional menggunakan takaran sejumput, segenggam atau pun seruas sulit ditentukan ketepatannya. Penggunaan takaran yang lebih pasti dalam satuan gram dapat mengurangi kemungkinan terjadinya efek yang tidak diharapkan. Dosis yang tepat membuat tanaman obat bisa menjadi obat, sedangkan jika berlebih bisa menjadi racun.

  1. Ketepatan waktu penggunaan

Kunyit diketahui bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam ramuan jamu kunir asam yang sangat baik dikonsumsi saat datang bulan tetapi jika diminum pada awal masa kehamilan beresiko menyebabkan keguguran. Hal ini menunjukkan bahwa ketepatan waktu penggunaan obat tradisional menentukan tercapai atau tidaknya efek yang diharapkan.

  1. Ketepatan cara penggunaan

Satu tanaman obat dapat memiliki banyak zat aktif yang berkhasiat di dalamnya. Masing-masing zat berkhasiat kemungkinan membutuhkan perlakuan yang berbeda dalam penggunaannya. Sebagai contoh adalah daun kecubung jika dihisap seperti rokok dapat memperlebar saluran pernapasan dan digunakan sebagai obat asma. Tetapi jika diseduh dan diminum dapat menyebabkan keracunan/mabuk.

  1. Ketepatan telaah informasi

Informasi yang tidak didukung oleh pengetahuan dasar yang memadai dan telaah atau kajian yang cukup seringkali mendatangkan hal yang menyesatkan. Contohnya, informasi di media massa meyebutkan bahwa biji jarak (Ricinus communis L) mengandung risin yang jika dimodifikasi dapat digunakan sebagai antikanker. Risin sendiri bersifat toksik/racun sehingga jika biji jarak dikonsumsi secara langsung dapat menyebabkan keracunan dan diare.

  1. Tanpa penyalahgunaan

Tanaman obat maupun obat tradisional relatif mudah untuk didapatkan karena tidak memerlukan resep dokter, hal ini mendorong terjadinya penyalahgunaan manfaat dari tanaman obat maupun obat tradisional tersebut. Contoh: jamu peluntur untuk terlambat bulan sering disalahgunakan untuk pengguguran kandungan. Resiko yang terjadi adalah bayi lahir cacat, ibu menjadi mandul, terjadi infeksi bahkan kematian.

  1. Ketepatan pemilihan obat untuk indikasi tertentu

Dalam satu jenis tanaman dapat ditemukan beberapa zat aktif yang berkhasiat dalam terapi. Rasio antara keberhasilan terapi dan efek samping yang timbul harus menjadi pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman obat yang akan digunakan dalam terapi. Contoh, daun tapak dara mengandung alkaloid yang bermanfaat untuk pengobatan kencing manis. Akan tetapi daun tapak dara juga mengandung vincristin dan vinblastin yang dapat menyebabkan penurunan sel-sel darah putih hingga ± 30%, akibatnya penderita menjadi rentan terhadap penyakit infeksi. (EM/CM)

Daftar Pustaka

  1. Sastroamidjojo S, 2001, Obat Asli Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta, 170.
  2. WHO, 2003, Traditional medicine, https://who.int/mediacentre/factsheets/fs134/en/. diakses September 2018.
  3. Sari L. 2006. Pemanfaatan obat tradisional dengan pertimbangan manfaat dan keamanannya. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. III, No.1, 01 – 07.

Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store