Ketika Uang Menipis, Lauk Untuk Ayah atau Anak?

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

119

Pertanyaan tersebut mencerminkan bahwa faktor ekonomi merupakan salah satu penyumbang angka kejadian kurang gizi di Indonesia. Tak hanya terjadi pada anak-anak, banyak juga orang dewasa yang kekurangan zat gizi dalam makanannya sehari-hari. Gizi memegang peranan penting dalam kehidupan karena berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak serta produktivitas kerja pada orang dewasa. Jika kondisi tidak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan gizi seluruh anggota keluarga, lantas siapakah yang seharusnya menjadi prioritas?

Ayah merupakan orang nomor satu dalam keluarga, sehingga dalam budaya yang kita kenal selama ini, ayah mendapatkan porsi makanan paling besar dalam pembagian kebutuhan pangan. Di sisi lain, anak dianggap sebagai orang dewasa yang masih kecil, sehingga porsi makannya adalah setengah dari porsi dewasa. Hal ini mencerminkan penyebab besar dari banyaknya kejadian kurang gizi pada anak di Indonesia.

Bayi yang lahir dengan gizi kurang akan menjadi anak dengan gizi kurang dan tumbuh menjadi dewasa dengan gizi kurang. Akibatnya, dewasa dengan gizi kurang akan melahirkan anak dengan berat badan rendah dan gizi kurang. Demikian lingkaran kurang gizi terus berlanjut. Setelah ditelusuri, penyebab terjadinya kurang gizi ini tidak semata-mata karena tunjangan ekonomi yang kurang. Pemerintah telah menaikkan anggaran untuk mengatasi kejadian kurang gizi, tetapi angka kejadiannya masih tetap tinggi, bahkan bertambah. Ternyata, ada faktor lain yang juga memengaruhi, yaitu keberdayaan ibu dalam mendistribusikan pangan dalam keluarga.

Ibu memiliki peran penting untuk menjamin ketersediaan gizi bagi keluarganya. Ibu dengan pendidikan yang baik akan mengerti bahwa budaya lama yang salah kaprah harus disesuaikan dengan kebenaran dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, utamakan gizi pada anak dengan memberinya porsi makan sesuai dengan komposisi ‘tumpeng gizi seimbang’. Gizi seimbang dicapai apabila karbohidrat (nasi, roti, mie, jagung) dikonsumsi 3-8 porsi per hari; sayur-sayuran 3-5 porsi per hari; buah-buahan 2-3 porsi per hari; protein hewani (ayam, telur, daging, susu) 2-3 porsi per hari; protein nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan) 2-3 porsi per hari. Takaran di atas juga berlaku pada orang dewasa apabila uang mencukupi. Untuk menyingkat, berikut urutan jumlah jenis makanan yang dibutuhkan oleh tubuh dimulai dari yang terbanyak:

  • Sumber karbohidrat (nasi, roti, mie, jagung)
  • Sayur-sayuran
  • Buah-buahan
  • Lauk pauk (sumber protein hewani dan nabati)

Berdasarkan paparan di atas, jawaban dari pertanyaan pada judul artikel ini adalah untuk anak. Tidak hanya lauk, sayur dan buah juga sebaiknya diberikan pada anak. Anak masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Dengan memberi gizi yang cukup pada anak, diharapkan lingkaran kurang gizi bisa terputus dan anak bisa tumbuh menjadi dewasa yang cukup gizi, sehingga memiliki kemampuan untuk produktif dalam bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. (SBD)

Sumber:

Yahya, Muh. Wildan.2013. Hebat! Catatan Kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM-KP) Edisi 2.Surabaya: Surya


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store