Kloset Umum Sebarkan Kanker Serviks? Mitos atau fakta?

138

Beberapa kalangan beranggapan kanker serviks bisa ditularkan melalui Human Papilloma Virus yang menempel di kloset. Kekhawatiran ini sebenarnya tidak beralasan kuat. Hal ini dikarenakan virus atau bakteri penyakit seksual menular tidak bisa hidup lama di luar tubuh apalagi di tempat yang dingin seperti toilet. Permukaan keras toilet juga menyebabkan virus dan bakteri tersebut tidak bisa hidup lama. Selain itu, bakteri dan virus penyakit seksual tersebut tidak ada di dalam urin sehingga mustahil urin bisa menyalurkan virus penyakit tersebut. Penularan penyakit seksual menular melalui penggunaan dudukan toilet sangat kecil dan hampir tidak ada.

Penularan virus human papilloma (HPV) yang menyebabkan kanker serviks dari kloset umum mungkin saja terjadi jika yang duduk sebelumnya punya kutil kelamin sehingga ada kecil kemungkinan untuk menularkan. Tapi virus tersebut bisa mati dengan cairan pembersih antibakterial. HPV tidak bisa menyebabkan kanker serviks jika tidak ada kontak langsung.

HPV ditularkan oleh pasangan kepada seorang perempuan. Pria dengan HPV bisa saja tetap sehat, namun istrinya yang merasakan penyakit akibat infeksi virus tersebut. Sebab HVP penyebab kanker serviks ini menyukai mukosa pada vagina yang luas. Sementara penis bukan mukosa, melainkan kulit.

Lalu, bagaimana kita mengantisipasi penularan kanker yang membunuh satu perempuan setiap jam ini? Memang, gejala kanker serviks sering tidak terdeteksi karena pada stadium awal muncul tanpa gejala spesifik. Karena itu, kanker serviks disebut juga sebagai The Silent Killer.

Kanker serviks atau leher rahim ini terjadi di bagian organ reproduksi seorang wanita. Leher rahim adalah bagian yang sempit di sebelah bawah antara vagina dan rahim seorang wanita. Di bagian inilah tempat terjadi dan tumbuhnya kanker serviks.

Kanker serviks bisa terjadi jika terjadi infeksi yang tidak sembuh-sembuh untuk waktu lama. Sebaliknya, kebanyakan infeksi HPV akan hilang sendiri, teratasi oleh sistem kekebalan tubuh. Jika kekebalan tubuh berkurang, infeksi HPV akan mengganas dan bisa menyebabkan terjadinya kanker serviks.

Beberapa gejala bisa diamati meski tidak selalu menjadi petunjuk infeksi HPV. Keputihan atau mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan intim adalah sedikit tanda gejala dari kanker ini. Selain itu, adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk infeksi HPV.

Buruknya gaya hidup seseorang dapat menjadi penunjang meningkatnya jumlah penderita kanker ini. Kebiasaan merokok, kurang mengonsumsi vitamin C, vitamin E, dan asam folat dapat menjadi penyebabnya. Jika mengonsumsi makanan bergizi akan membuat daya tahan tubuh meningkat dan dapat mengusir virus HPV.

Cara paling mudah untuk mengetahuinya seseorang terkena kanker serviks atau tidak, yaitu dengan melakukan pemeriksaan sitologis leher rahim atau pap smear. Pap smear metode tes yang umum yaitu dokter menggunakan pengerik atau sikat untuk mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher rahim.

Kemudian sel-sel tersebut akan dianalisis di laboratorium. Tes itu dapat menyingkapkan apakah ada infeksi, radang, atau sel-sel abnormal. Menurut laporan sedunia, dengan secara teratur melakukan tes pap smear telah mengurangi jumlah kematian akibat kanker serviks.

Jika terinfeksi HPV, jangan cemas, karena saat ini tersedia berbagai cara pengobatan yang dapat mengendalikan infeksi HPV. Beberapa pengobatan bertujuan mematikan sel-sel yang mengandung virus HPV. Cara lainnya adalah dengan menyingkirkan bagian yang rusak atau terinfeksi dengan pembedahan listrik, pembedahan laser, atau cryosurgery (membuang jaringan abnormal dengan pembekuan).

Jika kanker serviks sudah sampai ke stadium lanjut, akan dilakukan terapi kemoterapi. Pada beberapa kasus yang parah mungkin juga dilakukan histerektomi, yaitu operasi pengangkatan rahim atau kandungan secara total. Tujuannya untuk membuang sel-sel kanker serviks yang sudah berkembang pada tubuh.

Namun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Maka, terapkanlah pola hidup sehat dan bersih, tidak bergonta-ganti pasangan, melakukan pap smear secara rutin, pemberian vaksin HPV, dan menjaga kebersihan vagina