Kondisi Kesehatan Yang Tidak Diperbolehkan Bepergian Dengan Pesawat

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

188

Pesawat merupakan salah satu transportasi yang diandalkan siapa saja yang ingin bepergian jauh. Banyak orang yang menggunakan transportasi ini karena nyaman dan cepat sampai ke tujuan. Namun ternyata, tidak semua orang diperbolehkan naik pesawat. Terdapat beberapa kriteria yang harus dipatuhi, salah satunya kondisi kesehatan penumpang, dimana ada orang-orang dengan kondisi kesehatan yang dilarang melakukan perjalanan dengan pesawat.

 

Nah, penumpang dengan kondisi kesehatan apa saja sih yang tidak diperbolehkan bepergian dengan pesawat? Untuk tahu jawabannya simak penjelasan berikut:

 

Secara umum, Anda seharusnya tidak melakukan penerbangan jika:

  1. Telah melewati 36 minggu kehamilan (atau 32 minggu jika hamil anak kembar)
  2. Baru-baru ini melakukan jenis operasi, terutama perut, otak, mata, atau bedah tulang, dan sendi.
  3. Pernah mengalami serangan jantung atau stroke dalam kurun waktu 6 bulan terakhir (kecuali ada pendampingan medis)
  4. Baru-baru ini menderita:
    1. Sakit dada
    2. Setiap penyakit yang didapat dengan mudah menyebar ke orang lain
    3. Pembengkakan otak disebabkan oleh pendarahan, cedera, atau infeksi
    4. Infeksi sinus, telinga, atau hidung yang berat
    5. Penyakit pernapasan kronis berat, sesak napas saat istirahat, atau paru-paru yang kolaps
    6. Penyakit sickle cell
    7. Penyakit psikotik kecuali ketika dikontrol sepenuhnya
    8. Demam, dengan diikuti satu atau lebih kondisi di bawah ini:
    9. Tanda-tanda penyakit yang jelas (misalnya sakit kepala berat, kelemahan, kulit dan mata berubah menjadi kuning)
    10. Ruam kulit
    11. Sesak nafas atau kesulitan bernafas
    12. Batuk terus menerus dan berat
    13. Kebingungan, terutama jika baru saja dimulai
    14. Memar atau berdarah (tanpa cedera sebelumnya)
    15. Diare yang tidak kunjung sembuh
    16. Muntah yang tidak kunjung sembuh (selain mabuk kendaraan)

Beberapa penjelasan, mengapa kondisi-kondisi di atas tidak diperbolehkan melakukan penerbangan:

  1. Penyakit kardiovaskular

Kadar oksigen selama perjalanan udara akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya ketinggian. Seseorang dengan penyakit kardiovaskular biasanya disertai dengan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Penerbangan dan kadar oksigen yang menurun akan memperberat kondisi kekurangan oksigen pada penderita kardiovaskular hingga dapat menyebabkan kematian.

  1. Gangguan pernapasan

Gangguan pernapasan sering kambuh tanpa spenyebab yang jelas, kadang disertai keluhan sesak. Ini merupakan salah satu penyakit kronis yang cukup berbahaya jika pengidapnya kambuh terutama di waktu terbang. Selain karena kadar oksigen pada ketinggian semakin rendah, juga karena selama penerbangan, pesawat belum tentu disertai dengan kelengkapan obat-obatan pertolongan kegawatdaruratan serta orang-orang yang kompeten dalam melakukan pertolongan. Meski saat ini telah banyak maskapai yang bekerjasama dengan dokter yang berada dalam suatu penerbangan untuk membantu melakukan pengawasan dan pertolongan kegawatdaruratan bila dibutuhkan, namun pendaratan pesawat secara darurat memerlukan waktu dan tidak mudah untuk dilakukan. Sehingga apabila seseorang dengan gangguan pernapasan mendadak kambuh tanpa antisipasi sebelumnya, akan sangat berisiko pada kematian. Karena itulah bagi yang mengidap penyakit gangguan pernapasan sangat dianjurkan untuk tidak melakukan penerbangan tanpa persiapan yang matang.

  1. Anemia

Orang dengan anemia memiliki risiko kekurangan oksigen lebih tinggi daripada orang normal, sehingga penilaian kebugaran dibutuhkan sebelum penerbangan dilakukan. Pasien dengan penyakit sel darah bentuk sabit harus memiliki akses oksigen selama penerbangan. Hal ini disebabkan oleh bentuk sel darah sabit tidak sempurna, sehingga kemampuannya untuk mengikat oksigen juga lebih kecil dibanding dengan sel darah yang normal. Pasien dengan sel darah bentuk sabit juga tidak diizinkan terbang hingga 10 hari setelah mengalami kondisi krisis. 10 hari yang dianjurkan ini merupakan waktu tunggu agar kondisi darah pasien kembali optimal.

  1. Masalah THT

Pasien dengan masalah pada telinga, hidung, dan tenggorokan seperti memiliki sinusitis akut, polip hidung besar, pasca mengalami operasi hidung, menderita infeksi telinga tengah, juga tidak diperbolehkan untuk naik pesawat terbang. Masalah pada hidung dan tenggorokan berpotensi menyebabkan penurunan kemampuan tubuh mendapatkan oksigen. Penerbangan dengan kadar oksigen menurun dapat membahayakan pasien dengan masalah hidung dan tenggorokan karena dapat memperparah kondisi kekurangan oksigen yang telah dialaminya. Sedangkan pada pasien dengan masalah pada hidung dan telinga, tidak dianjurkan melakukan penerbangan karena tekanan udara meningkat seiring bertambah tingginya penerbangan. Perbedaan tekanan ini dapat memperparah kondisi pada hidung dan telinga pasien dengan masalah hidung dan telinga, mulai dari timbulnya rasa nyeri hingga robeknya gendang telinga sehingga menimbulkan ketulian mendadak yang permanen.

  1. Ibu hamil dan bayi

Karena peningkatan risiko persalinan saat penerbangan, sebagian besar maskapai melarang wanita hamil dalam akhir minggu ke-36 pada kehamilan tunggal dan 32 minggu pada kehamilan kembar untuk melakukan perjalanan udara.
Bayi pun harus menunggu hingga berusia 1 minggu baru boleh diizinkan terbang agar alat pernapasan dan kardiovaskular bayi telah siap betul untuk melakukan kompensasi dari kondisi yang terjadi saat penerbangan. Sedangkan bayi prematur yang memiliki komplikasi lebih besar baru diperbolehkan terbang setelah berusia 6 bulan.

  1. Masalah neurologis atau psikiatrik

Pasien psikotik akut dan pasien epilepsi tak terkontrol biasanya tidak diperbolehkan terbang. Perubahan ketinggian mendadak saat penerbangan dapat memicu kekambuhan gejala psikotik akut ataupun kejang pada epilepsi. Kondisi ini tidak hanya membahayakan bagi pasien tetapi juga berpotensi membahayakan penumpang lain apabila gejala psikotik akut tersebut mengarah pada penyerangan dan tindakan negatif lainnya. Pasien dengan epilepsi terkontrol umumnya bisa terbang dengan aman. Namun harus diberitahu tentang potensi ambang kejang karena efek kelelahan, makan tertunda, kekurangan oksigen, dan perubahan hormonal tubuh yang terganggu akibat penerbangan.

  1. Penyakit menular

Pasien-pasien dengan penyakit yang mudah menular di udara seperti pasien tuberkulosis, cacar air umumnya juga tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan udara. Hal ini untuk mencegah penularan dari penyakit tersebut. (LM/STE/CM)

Referensi

  1. Flying with Medical Conditions, the information. Patient. (2018). Retrieved from https://patient.info/doctor/flying-with-medical-conditions
  2. Prevention, C. (2018). Making the Decision to Travel | Travelers’ Health | CDC. Retrieved from https://wwwnc.cdc.gov/travel/page/health-status

Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store