KONSUMSI TELUR BERLEBIHAN BISA MENYEBABKAN BISUL, MITOS ATAU FAKTA?

79

Telur merupakan sumber protein yang memiliki harga relatif murah. Selain itu telur juga merupakan sumber lemak dan kolesterol baik untuk tubuh. Telur banyak tersedia dimana saja, sehingga telur seringkali menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, terutama kebutuhan akan protein, lemak, dan kolesterol.

Namun, tidak sedikit, rumor tidak benar mengenai telur. Salah satunya adalah kepercayaan bahwa telur bias menyebabkan bisul. Anggapan yang beredar soal telur menyebabkan bisul telah membuat banyak orang menghindari untuk mengonsumsinya. Benarkah telur bisa menyebabkan bisul? Untuk mengetahui penjelasannya, simak artikel berikut!

Apa itu bisul?

Bisul adalah infeksi kulit yang menyerang folikel rambut atau kelenjar minyak di bawah kulit yang bermuara pada akar rambut. Pada awalnya, bisul hanya tampak seperti ruam kemerahan yang terasa sakit saat disentuh. Lama kelamaan akan kemerahan ini akan berkembang membentuk benjolan keras, terisi penuh oleh nanah yang bias melunak saat disentuh.

Apa penyebab bisul?

Bisul biasanya disebabkan oleh bakter iStaphylococcusaureus. Bakteri ini dapat ditemukan pada kulit dan di dalam hidung manusia tanpa menimbulkan masalah. Infeksi terjadi jika bakteri masuk hingga ke folikel rambut melalui luka gores atau gigitan serangga.

Selain itu, bisul juga timbul apabila kelenjar minyak memproduksi minyak secara berlebih, hingga menyebabkan penumpukan minyak atau sumbatan. Penumpukan minyak atau sumbaran pada muara akar rambut inilah yang menjadi tempat kondusif untuk bakteri Staphylococcus aureus tumbuh. Lama kelamaan, sumbatan akan membesar, jumlah bakteri semakin banyak, dan timbulah gejala radang atau bisul.

Jadi, sebenarnya anggapan yang mengatakan bahwa kebanyakan makan telur bias bikin bisulan itu salah besar.

Bisul bias terjadi pada siapa saja dan ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini. Salah satu faktor risiko terkena bisul adalah adanya kontak langsung dengan penderita.  Risiko penyakit menular ini akan meningkat jika seseorang sering berhubungan langsung dengan penderita, misalnya karena tinggal serumah.

Meski demikian, kontak langsung dengan penderita bisul, tidak serta merta menyebabkan seseorang mengalami bisul. Kebersihan diri juga berpengaruh pada pertumbuhan kuman di kulit. Kebersihan yang tidakterjaga, baikkebersihanpribadimaupunlingkungan, juga menjadi faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya bisul.

Tidak hanya itu, bisul seringkali terjadi pada seseorang yang memiliki system kekebalan tubuh yang lemah, misalnya karena menderita HIV, menjalani kemoterapi, mengonsumsi obat-obatan tertentu, atau menderita diabetes.

Jadi apa hubungan telur dan bisul?

Secara general, tidak ada hubungan antara telur dan bisul. Namun, beberapa orang yang memiliki alergi terhadap protein telur, mungkin mengalami bisul setelah memakan telur. Hal ini tidak umum terjadi atau hanya terjadi pada beberapa orang saja, tidak semua orang. Sehingga, bila Anda tidak memiliki keluhan apapun setelah makan telur, sebaiknya Anda tetap mengonsumsi telur, karena telur memiliki manfaat yang banyak.

Sedangkan, untuk Anda yang memiliki alergi terhadap telur sehingga selalu muncul bisul setiapkali memakan telur, Anda dapat mengganti sumber protein yang Anda butuhkan dengan ikan, daging, ayam, atau sumber protein nabati lainnya. Jangan lupa untuk mengonsultasikan bisul Anda pada dokter agar mendapatkan perawatan yang tepat. (PUT/STE)

Referensi:

Ibler KS, Kromann CB. Recurrent furunculosis-challenges and management: a review. Clin Cosmetic Invest Dermatol. 2017;7:59-64.

El-Gilany AH, Fathy H. Risk factors of recurrent furunculosis. Dermatol Online J. 2009;15:16.