Malaria

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

192

Indonesia sebagai negara beriklim tropis memiliki keanekaragaman hayati yang besar termasuk potensi terhadap berbagai penyakit menular, salah satu contohnya adalah malaria. Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah didominasi oleh perairan menyebabkan malaria bersifat endemis di beberapa wilayah tertentu. Data tahun 2017 jumlah kasus malaria mencapai 261.000 kasus dan 90% berasal dari wilayah Indonesia Timur yaitu Papua dan Nusa Tenggara Timur. Malaria merupakan penyakit menular akibat protozoa Plasmodium melalui gigitan vektor yaitu nyamuk Anopheles betina. Di dalam tubuh manusia yang terinfeksi oleh Plasmodium, parasit ini mulai bermultiplikasi awal di dalam hati kemudian di dalam sirkulasi darah. Parasit di dalam sel darah merah akan terus berkembang biak, sel darah merah rusak dengan mengeluarkan parasit muda dan siklus daur hidup ini akan terus berlangsung. Sel darah merah yang rusak merangsang proses penggumpalan dan sangat berbahaya bila gumpalan menyumbat pembuluh darah kecil di organ-organ vital seperti otak.

Gejala malaria mulai muncul beberapa minggu setelah terinfeksi. Gejala awal yang muncul berupa sakit kepala, tubuh lemas, nyeri-nyeri sendi dan otot, demam, bahkan hingga menggigil. Demam pada malaria bersifat hilang-timbul dan memiliki pola yang berbeda bergantung dari tipe Plasmodium yang menginfeksi. Demam yang terjadi setiap 48 jam disebut demam tertiana disebabkan oleh Plasmodium falciparum, artinya, seorang penderita malaria akibat Plasmodium falciparum ini akan mengalami demam setiap dua hari sekali, dimana diantara demam yang timbul tersebut, terdapat fase tidak demam atau fase penderita merasa sehat. Jenis lain, seperti Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, juga menyebabkan demam setiap 48 jam. Sedangkan demam setiap 72 jam disebabkan oleh Plasmodium malariae. Selain empat tipe Plasmodium di atas, ditemukan Plasmodium knowlesi yang sebelumnya menginfeksi hewan mamalia seperti kera sekarang dapat mengenai manusia. Malaria yang berat umumnya dapat menyebabkan kematian akibat kerusakan limpa, malaria pada otak, anemia berat, gagal ginjal, dan gagal nafas.

Pencegahan terhadap malaria dapat dicegah terutama bagi yang tinggal di wilayah endemis. Sedapat mungkin menutupi bagian tubuh saat beraktivitas baik di luar maupun dalam rumah, misalnya dengan menggunakan pakaian panjang dan memakai tirai jaring tempat tidur. Pencegahan lain dengan mengaplikasikan repelan pada tubuh. Orang yang akan bepergian ke daerah endemis disarankan berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan profilaksis beberapa minggu sebelum keberangkatan. Dokter akan memberikan resep obat untuk dikonsumsi beberapa hari sebelum keberangkatan, sehingga obat dapat bekerja sebagai pelindung selama berpergian. Sesampainya di wilayah endemis, pastikan orang-orang sekitar memahami tentang tanda malaria dan tahu rumah sakit terdekat untuk merujuk bila terjadi kondisi gawat. Upaya di atas diharapkan dapat mencegah infeksi maupun keparahan akibat malaria sehingga tidak membuat takut untuk dapat menikmati eksotisme Indonesia bagian timur. (FSR)

Referensi:

IDNTimes: Indonesia Timur Masih Jadi Daerah Tertinggi Endemis

Medscape: Malaria

CDC: Plasmodium

CDC: Anopheles


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store