Mengenal dan Mencegah Penularan HIV & AIDS

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

658
Ilustrasi 3D Virus HIV

HIV AIDS adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang system imun/kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah nama dari virus penyebabnya, sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah penyakitnya, yang artinya adalah kumpulan dari beberapa gejala akibat menurunnya system kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh pada seseorang maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak dan kanker. Stadium AIDS membutuhkan pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh sehingga bisa sehat kembali.

Di Indonesia, berdasarkan laporan dari tahun ke tahun kasus HIV-AIDS masih menunjukkan tren peningkatan yang terus-menerus. Menurut laporan Ditjen Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, jumlah kumulatif kasus AIDS di Indonesia sampai dengan akhir September 2014 adalah sebanyak 55.799 kasus dan 9.796 kasus di antaranya mengakibatkan kematian (Statistik Kasus HIV-AIDS di Indonesia, 2014).

Bagaimana HIV bisa ditularkan kepada orang lain?

  • Melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan cairan mani atau cairan vagina yang mengandung virus HIV masuk ke dalam tubuh pasangannya
  • Dari seorang ibu hamil yang HIV positif kepada bayinya selama masa kehamilan, waktu persalinan dan/atau waktu menyusui.
  • Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV.
  • Lewat pemakaian alat suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, terutama terjadi pada pemakaian bersama alat suntik di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun).

Apakah transfusi darah di fasilitas kesehatan berisiko menularkan HIV? Tidak berisiko, karena umumnya, Palang Merah Indonesia (PMI) dan fasilitas kesehatan selalu melakukan pengecekan atau skrining HIV pada darah donor sebelum melakukan transfusi kepada orang lain. Darah tercemar HIV tidak digunakan.

Gejala dan Tanda HIV AIDS

Anda dapat terjangkit HIV dan tidak memiliki tanda dan gejala, dan ketika dilakukan pemeriksaan tes HIV dapat tidak menunjukkan hasil positif selama tiga bulan setelah infeksi.Hal ini yang disebut dengan masa jendela (window period) HIV, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk HIV masuk ke dalam tubuh manusia sampai terbentuknya antibody. Gejala awal HIV biasanya hanya gejala flu biasa, seperti demam, lemas berat, ruam pada kulit, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri otot, nyeri tenggorokan dan sariawan pada mulut. Gejala-gejala ini dapat disebut dengan sindroma retroviral akut dan dapat terjadi selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Klinis pasien dapat berbeda-beda dari klinis terlalu berat sampai harus masuk instalasi gawat darurat atau bisa juga hanya merasa tidak enak badan. Akan tetapi, harus juga ditekankan bahwa tidak semua orang dengan gejala tersebut adalah pasien HIV.

Setelah fase akut virus akan menjadi kurang aktif di dalam tubuh selama 10 tahun, dan pada masa ini biasanya pasien tidak memiliki gejala sama sekali. Pemeriksaan tes HIV akan mendeteksi virus pada periode ini. Hai ini yang menjadi alasan mengapa sangat penting  untuk orang-orang seksual aktif secara rutin diperiksa karena tanda dan gejala HIV sering kali terlewat atau disalahartikan.

Saat ini ada layanan tes HIV dan konseling yang disebut sebagai VCT (Voluntary Counseling and Testing). Tes HIV biasanya berupa tes darah untuk memastikan adanya antibody HIV di dalam tubuh sehingga orang dengan infeksi HIV dapat kembali “sehat” atau “bebas gejala”. Namun virus HIV masih ada di dalam tubuhnya dan tetap bisa menularkan pada orang lain.

Pencegahan dan Terapi HIV

Apakah HIV AIDS dapat dicegah? Ya, dengan cara :

  1. Abstinence– Tidak berhubungan seks (selibat) sebelum menikah
  2. Be Faithful – Selalu setia pada pasangan
  3. Condom– Gunakan kondom di setiap hubungan seks berisiko
  4. Drugs–  Jauhi narkoba

Bagaimana dengan orang yang telah terinfeksi HIV? Risiko penularan kepada pasangan melalui hubungan seksual dapat dicegah dengan penggunaan kondom. Pengobatan dengan ARV juga dapat menekan pertumbuhan virus di dalam tubuh manusia sampai pada batas yang tidak terdeteksi sehingga risiko penularan ke pasangan dapat dikurangi, namum tetap harus menggunakan kondom.

Orang yang telah terinfeksi HIV bahkan tetap dapat memiliki keturunan dengan aman. Melalui program Pencegahan Penularan HIV dari ibu ke anak, pennularan HIV dari ibu ke anak saat kehamilan, melahirkan dan menyusui dapat dikurangi sampai 0%.

Bantahan terhadap mitos yang salah tentang HIV AIDS

  • HIV tidak menular di kolam renang umum
  • HIV tidak menular melalui batuk dan bersin
  • HIV tidak memular melalui gigitan nyamuk atau serangga lain
  • HIV tidak menular dengan berbagi alat makan bersama
  • HIV tidak menular karena berjabatan tangan
  • HIV tidak menular karena berciuman

Tidak ada vaksin untuk mencegah HIV, tapi Anda bisa melindungi diri agar tidak terinfeksi. Satu-satunya cara untuk mencegah terinfeksi HIV adalah dengan menghindari kegiatan yang meningkatkan risiko tertular HIV. Pada dasarnya, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store