Mengenal Hipertensi

Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Tanpa Antri

662

PENGERTIAN

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan kronis dimana terjadi peningkatan tekanan darah pada dinding arteri. Pada orang dewasa dengan  kondisi tubuh yang sehat memiliki tekanan darah normal 120/80 mmHg.

Angka 120 menunjukan tingkat tekanan ketika jantung memompa darah keseluruh tubuh atau biasa disebut sebagai tekanan Sistolik. Angka 80 berarti tingkat tekanan saat jantung beristirahat sejenak sebelum kembali memompa lagi yang disebut tekana Diastolik. Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg.

PENYEBAB

Berdasarkan penyebabnya Hipertensi dibagi dua golongan yaitu:

  1. Hipertensi Primer

Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain genetik, lingkungan , obesitas, alkohol dan merokok

  1. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder atau hipertensi Renal adalah hipertensi yang diketahui penyebabnya antara lain akibat penggunaan hormonal seperti estrogen, penyakit ginjal, atau hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.

KLASIFIKASI HIPERTENSI

Diagnosis Hipertensi ditegakan bila tekanan darah > 140/90 mmHg. Tingkatan hipertensi ditentukan berdasarkan ukuran tekanan darah sistolik dan diastolik

Kategori TD Sistolik TD Diastolik
Normal 120-129 80-84
Normal Tinggi 130-139 85-89
Hipertensi Tkt I 140-159 90-99
Hipertensi Tkt2 160-179 100-109
Hipertensi Tkt3 >180 >110

 

FAKTOR RESIKO

Faktor-faktor resiko yang mempengaruhi peningkatan tekanan darah tinggi  antara lain:

  • Riwayat Keluarga dengan Hipertensi dan penyakit Kardiovaskuler
  • Riwayat Keluarga dengan Dislipidemia
  • Riwayat keluarga dengan Diabetes Melitus
  • Kebiasaaan merokok
  • Pola Makan
  • Obesitas
  • Kurangnya Aktifitas Fisik

GEJALA

Gejala atau menifestasi Klinik dari Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah saat diukur. Gejala yang sering ditemukan yang biasanya dirasakan oleh penderita Hipertensi antara lain, sakit kepala , telinga berdengung, pusing atau mata berkunang-kunang,rasa berat ditengguk,sukar tidur, keluar darah dari hidung, dan juga ditandai dengan emosi yang kadang-kadang sulit terkontrol atau sering marah. Penyakit Hipertensi gejalanya tidak diketahui dengan pasti. Sebagian besar penderita baru menyadari jika ia telah mengidap penyakt hipertensi setelah terjadi komplikasi pada organ lain seperti ginjal, mata, otak, dan jantung.

Gejala hipertensi yang sudah terjadi komplikasi bisa berupa gangguan penglihatan, gangguan saraf, lemah jantung dan gejala lain karena penurunan fungsi ginjal, yang lebih dikenal gagal ginjal biasanya diikuti rasa sesak di dada. Sementara itu gangguan penglihatan sering ditemui pada penderita hipertensi berat. Gejala hipertensi yang terjadi komplikasi pada jantung bisa menyebabkan gagal jantung, pada otot bisa menyebabkan stroke yang membuat anggota badan lumpuh. Serangan isekmi pada otak bisa ditandai dengan kesemutan pada wajah dan anggota badan atau kehilangan kesadaran dan kembali pulih setelah 24 jam.

Peningkatan  tekanan darah  mendadak pada orang yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal bisa menyebabkan pembuluh darah di otak mengalami penciutan mendadak. Sebagian lagi mengalami pelebaran disertai merembesnya cairan dari dinding pembuluh darah otak yang menyebabkan otak menjadi lembap yang biasanya disebut dengan stroke yang berakibat pada kelumpuhan saraf otak.

Komplikasi hipertensi pada gagal jantung bisa mempercepat proses arterosklerosis pada  penyakit jantung koroner. Salah satu teori menyebutkan bahwa sel intima dari dinding pembuluh darah koroner yang mempercepat timbulnya pengendapan kolesterol pada bagian dalam dinding pembuluh darah. Hipertensi juga bisa menyebabkan tekanan sistolik dalam bilk kiri bertambah. Hal ini menyebabkan tekanan otot jantung naik, sehingga kebutuhan oksigen pada otot jantung meningkat. selanjutnya terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen dan darah yang dialirkan sehingga terjadi angina pektoris. Dengan mengobati hipertensi maka proses penyakit jantung koroner dapat dikurangi atau dihambat

TERAPI HIPERTENSI

Tujuan deteksi dan dan penatalaksanaan Hipertensi adalah menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan.  Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolic dibawah 90 mmHg dan mengontrol faktor resiko.

Adapun terapi untuk penderita Hipertensi terbagi dua, yaitu :

  1. TERAPI NON FARMAKOLOGI

Tata laksana terapi non farmakologi dengan memodifikasi pola hidup sehat sangat berperan penting dalam pengelolaan hipertensi. Pola hidup sehat bersama terapi farmakolgi merupakan terapi hipertensi terbaik, akan mampu mencapai tekanan darah yang ideal dan menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler.

Pola hidup sehat untuk mencegah dan mengontrol Hipertensi:

  1. Stop Merokok

Edukasi pasien agar tidak merokok, berhenti merokok dan menghindari asap rokok. Merokok dapat menyebabkanlonjakan langsung dalam tekanan darah dan dapat meningkatkan kadar tekanan darah sistolik sebanyak 4 milimeter air raksa (mm Hg). Nikotin dalam produk tembakau memacu sistem saraf untuk melepaskan zat kimia yang dapat menyempitkan pembuluh darah dan berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi.

  1. Gaya Hidup Aktif

Hidup aktif yaitu melakukan latihan fisik sedang selama 30 menit setiap hari. Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dapat meningkatkan pengeluaran tenaga dan energy atau pembakaran kalor. Aktifitas fisik yang dianjurkan adalah aktifitas fisik tingkat sedang seperti membersihkan lantai, mencuci kendaraan, jalan kaki atau aktifitas fisik lain yang menggunakan sebagian otot tubuh. Aktifitas fisik dapat dilakukan secra terus menerus minimal 30 menit perhari atau 10 menit setiap sesi hingga mencapai minimal 30 menit perhari. Pengeluaran kalori rerat per minggu 700-2000 kalori. Setiap latihan fisik harus dimulai dengan pemanasan, dilanjutkan dengan latihan inti dan diakhiri dengan pendinginan. Pada Hipertensi dianjurkan untuk melakukan pendinginan lebih lama agar tekanan darah tidak turun mendadak sesudahg latihan fisik.

  1. Mempertahankan Berat Badan dan Lingkar Pinggang

Sebanyak 30-65% penderita Hipertensi tergolong Obesitas, mengurangi berat badan dap[at menurunkan Tekanan Darah. Indeks Massa Tubuh Normal untuk orang Asia adalah 18,5-22,9 kg/m2.

Indeks Massa Tubuh dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

IMT= Berat Badan (kg)/Tinggi Badan (m)xTinggi Badan (m)

Penilaian terhadap obesitas sentral lebih baik menggunakan lingkar pinggan dibandingkan dengan IMT atau rasio pinggang panggul. Obesitas Sentral bila lingkar pinggang >90 cm pada laki-laki dan >80 cm pada perempuan.

Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan IMT pada orang Dewasa

              Klasifikasi               IMT (kg/m2)
Berat Badan Kurang <18,5
Berat Badan Normal 18,5-22,9
Berat Badan Lebih 23
Beresiko 23-24,9
Obesitas I 25-29,9
Obesitas II <30

 

4. Makan Gizi Seimbang

Modifikas Diet terbukti dapatr menurunkan Tekana Darah pada pasien Hipertensi. Prinsip Diet yang dianjurkan adalah Gizi Seimbang, pe,mbatasan asupan natrium, serta cukup Kalium, kalsium dan magnesium

Gizi Seimbang yaitu, mengkonsumsi beragam jenis bahan makanan, meliputi sumber Karbohidrat 3-8 porsi perhari, sayuran 2-3 porsi perhari, buah-buahan 3-5 porsi perhari, serta sedikit gula dan garam.

5. Menurunkan Asupan garam

Asupan Natrium untuk pencegahan Hipertensi dianjurkan adalah <100mmo (2,4g) per hari setara dengan 6g (satu sendok teh) garam dapur (natrium klorida), Bagi pasien denga hipertensi, asupan natrium dibatsi lebih rendah lagi, menjdi 1,5 g per hari atau 3,5-4g garam perhari. Pembatasan asupan Natrium dapat membantuterapi farmakolgi menurunkan tekanan darahdan penyakit cardisvaskuler.

Dalam sehari-hari aupan Natrium dapat diperolehdari berbagai sumber, meliputi garam natrium yang ditambahakan pada produk olahan seperti produk industry 9diasinkan, diasap, makanan kalengan, atau makanan yang diawetkan), berbagai bahna makan sehari-hari dan penambahan garam pada waktu  memasaka atau saat makan.

6. Membatasi Konsumsi Alkohol

Kadar Alkohol seberapapun, akan meningkatkan tekanan darah.           Mengurangi Alkohol pada penderita hipertensi yang biasa minum alcohol, akan menurunkan Tekanan Darah rerat 3 mmHg.

Kadar Alkohol seberapapu, akan meningkatkan tekanan darah.           Mengurangi Alkohol pada penderita hipertensi yang biasa minum alcohol, akan menurunkan Tekanan Darah rerat 3 mmHg.

  1. TERAPI FARMAKOLOGI

Penatalaksanaan  dengan obat antihipertensi bagi sebagian penderita dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai dengan umur, kebutuhan dan usia. Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam dan lebih disukai dalam dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, lebih murah, dapat mengonntrol hipertensi terus menerus dan lancer dan dapat melindungi penderita terhadap[ berbagai resiko dari kematian mendadadk, serangan jantung atau stroke akibat peningkatan tekanan darah yang mendadak saat bangun tidur. Sekarang terdapat pula obat yang berisi kombinasi dari golongan obat yang berbeda. Kombinasi ini terbukti memeberikn efektifitas tambhan dan mengurangi efek samping.

Golongan obat Antihipertensi:

  1. Golongan Diuretik : Thiazide
  2. Golongan Beta Bloker: Propanolol
  3. Golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) dan Angitensin Receptor Blocker (ARB) : Lisinopril
  4. Golongan Calsium Channel Blockers (CCB) : Diltiazem, Nifedipin
  5. Golongan Antihipertensi Lain : Methyldopa, Reserpine

 

MASALAH-MASALAH KHUSUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN HIPERTENSI

  1. KEHAMILAN

Pengobatan hiperetnsi pada wanita hamil dapat dipertimbangkan dengan melihat pengukuran tekanan darah lebih dari 140/90 dengan gestasional hypertension dan adanya kerusakan organ.

Obat-obat antihipertensi yang dianjurkan Methyildopa, Labetelol, Nifedipin.

Pada kehamilan sebaiknya menghindari obat golongan ACE Inhibitor (captopril, Lisinopril), Beta Blocker (atenolol) dan golongan diuretic (thiazide).

  1. USIA MUDA

Pada usia muda banyak kematian kardiovaskuler terjadi akibat peningkatan tekanan darah Diastolik. Oleh sebab itu Target penurunan Tekanan darah yang dianjurkan adalah Tekanan darah Diastolik kurang dari 90 mmHg.

  • USIA Lanjut

Pada pasien >60 tahun, pengobtan obat antuhipertensi dapat dimulai pada Tekanan darah Sisitolik >150 mmHg atatu tekanan darah Diastolik >90 mmHg dengan Tekanan darah Sistolik target < 150 mmHg dan Tekanan Darah Diastolik <90 mmHg. Pada pasien usia >60 Tahunapabial pengobatan dengan antihipertensi mencapai target <140 mmHg dan pengobatan tersebut ditoleransi tanpa efek smaping bagi kesehatan maupun kualitas hidup poasien, pengobatan tidak perlu diubah atau dimodifikasi. Semua Golongan obat antihipertensi dapat dipakai pada usia  lanjut.

  1. Perempuan

Tidak terdapat perbedaan dalam derajat proteksinya dari penurunan tekanan darah antara wanita dan laki-laki. Yang perlu diperhatikan pada wanita dengan potensi dapat hamil, maka ada obat-obat golongan tertentu yang tidak bias diberikan karena efek keratogeniknya seperti Golongan ACE inhibitor, Angitension Reseptor Bloker (ARB) dan Renin Inhibitor (Aliskerin)

  1. KONTRASEPSI

Walaupun Pil kontrasepsi secara statistic bermakna meningkatkan resiko hipertensi, namun resiko definitive untukterjadinya hipertensi cukup kecil, sehingga wanita tidak perlu terlalu takut untuk mengkonsumsi pil kontrasepsi.

Penggunaan pil kmontrasepsi sebaiknya memeriksakan tekanan darah secara teratur.

Waniyta dengan riwayat hipoertensi disarankan untuk tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi.

Pemberian kontrasepsi oral harus selektif dan pemberianya dengan mempertimbangkan manfaat dan kerugianya secara imdividual.

  1. SLEEP APNEA OBSTRUKTIF

Sleep Apnea Obstruktif bertanggungjawab pada sebagian besar kasus peningkatan tekanan darah di malam hari. Adanya Obesitas berhubungan erat dengan dengan sleep Apnea Obstruktif, sehingga dianjurkan untuk menurunkan berat badan dan olaharaga secara teratur.

  • DISFUNGSI SEKSUAL

Disfungsi seksual lebih banyak dialami oleh individu denga hipertensi dibandingkan dengan orang yang mempunyai tekanan darah normal.

Orang dengan disfungsi seksual akan diberikan terapi obat dengan golongan penghambat ACE, ARB dan penghambat Kalsium, karena obat-obat ini sangant memeberikan efek netral dan bermanfaat.


Install Aplikasi Pakdok, Google Play Android Click Pakdok