Mengenal Kusta Lebih Dekat

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

305

Apa itu Kusta?

Kusta dikenal dengan nama lain Lepra atau Horbus Hansen adalah penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, selaput lendir saluran pernafasan bagian atas, dan mata. Kusta yang diobati pada fase awal dapat mencegah kecatatan. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Bakteri ini menular lewat kontak kulit yang lama dengan penderita atau dengan menghirup udara yang terinfeksi karena bakteri ini dapat hidup beberapa hari dalam bentuk droplet (butiran air) di udara. Bakteri ini membutuhkan waktu 3 sampai 5 tahun dari awal kontak untuk memunculkan gejala. Pada beberapa orang, gejala baru timbul setelah 20 tahun. Waktu masuknya bakteri ke dalam tubuh hingga memunculkan gejala ini disebut masa inkubasi. Lamanya masa inkubasi ini yang membuat penderita kusta sering telat dalam penanganan.

Sekitar 95 persen orang kebal terhadap penyakit ini, dari 5 persen orang yang tertular tersebut sekitar 70 persen sembuh sendiri. Artinya dalam 100 orang yang terinfeksi bakteri, hanya 2 orang yang akan jatuh sakit.

Gejala Kusta

Menurut WHO, penyakit ini terdiri dari dua jenis yaitu Pausibasiler (PB) atau kusta kering dan Multibasiler (MB) atau kusta basah. Kusta kering ditandai dengan munculnya bercak putih seperti panu sedangkan kusta basah ditandai dengan munculnya bercak kemerahan. Selain gejala tersebut, gejala lain yang mendasari adalah adanya mati rasa dimana penderita tidak dapat merasakan nyeri dan membedakan suhu panas dingin. Juga didapatkan pembesaran saraf tepi dengan nyeri.

Selain itu, beberapa gejala tamahan yang perlu diwaspadai adalah

  • Bulu mata rontok
  • Kelemahan hingga kelumpuhan otot
  • Hidung tersumbat atau mimisan
  • Muncul luka tanpa rasa sakit

Jika menemui tanda tersebut baiknya segera menemui dokter agar segera mendapat penanganan yang tepat

Bagaimana cara mengobati kusta?

Tujuan utama pengobatan kusta adalah memutus rantai penularan, menurunan angka kejadian, mengobati pasien, dan mencegah dari kecatatan. Obat yang dipilih untuk mencegah terjadinya resistensi dengan kombinasi beberapa antibiotik atau disebut multi drug treatment (MDT) yang terdiri dari dapsone, rifampicin, dan ada juga yang ditambah lampren. Jenis lepra akan menentukan obat yang dipilih. Dokter akan menentukan dosis, jenis, dan lama penggunaan obat. Lama pengobatan bisa berkisar antara 6 hingga 18 bulan. Ketidak disiplinan dalam mengonsumsi obat akan mempersulit pengobatan.

Apa yang terjadi jika tidak diobati?

Lepra yang terlambat diobati dapat menyebabkan kecacatan baik sementara ataupun selamamnya. Menurut WHO, tingkatan cacat penyakit lepra adalah:

  • Tingkat 0: Pada tingkat ini penderita belum mengalami kelainan apapun. Mata, tangan, dan kaki masih normal serta berfungsi dengan baik.
  • Tingkat 1: Sudah terjadi kelemahan otot serta mati rasa pada tangan dan kaki. Dapat terjadi gangguan pada mata berupa menurunnya fungsi penglihatan.
  • Tingkat 2: Kelopak mata sudah tidak dapat menutup sempurna dan penglihatan sudah sangat terganggu bahkan tidak lagi mampu melihat pada jarak kurang dari 6 meter. Didapatkan juga tangan dan kaki yang luka terbuka serta jari yang membengkok permanen. (ITA)

Sumber:

Alinda, M. 2018. Infeksi Bakteri: Morbus Hansen Dan Penyakit Bakterial Kulit Lainnya. Seminar Healing Project Departemen Kulit Kelamin FK Unair.28-29 Januari:1-6

WHO. 2018. Fact Sheets Leprosy. http://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/leprosy. 27 September 2018

WHO. 2006. Global Leprosy Strategy. http://www.searo.who.int/entity /global_leprosy_programme/documents/global_leprosy_strategy_2020/en/ 27 September 2018

WebMD. 2018. Leprosy Overview. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/leprosy-symptoms-treatments-history#1-2 27 September 2018


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store