Mengenal Prosedur Otopsi

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

429

Otopsi adalah prosedur medis yang dilakukan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh orang yang telah meninggal. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk  mengetahui penyebab dan cara orang tersebut meninggal. Menurut NHS, otopsi mayat biasa dilakukan pada kasus kematian yang:

  • Tidak diharapkan, seperti kematian tiba-tiba pada bayi
  • Tindak kekerasan (KDRT, bullying, kekerasan seksual, atau pembunuhan yang disengaja, dan tindak kriminal lainnya)
  • Tidak natural atau mencurigakan, misalnya tindakan bunuh dirioverdosis obat, atau diracun
  • Korban kecelakaan
  • Kematian yang terjadi setelah suatu prosedur di rumah sakit, seperti kematian setelah pembedahan
  • Tidak diketahui penyebabnya

Otopsi mayat juga dilakukan kepentingan penelitian medis di berbagai lembaga penelitian termasuk di kampus kedokteran, misalnya mengetahui bagaimana suatu penyakit bisa menyebabkan kematian.

Berdasarkan tujuannya dikenal dua jenis otopsi, yaitu otopsi klinik dan otopsi forensik/otopsi medikolegal. Untuk otopsi klinik ini mutlak diperlukan izin dari keluarga terdekat mayat yang bersangkutan untuk mendapatkan hasil yang maksimal, yang terbaik adalah melakukan otopsi klinik yang lengkap, meliputi pembukaan rongga tengkorak, dada, perut, panggul, serta melakukan pemeriksaan terhadap seluruh alat-alat dalam atau organ. Otopsi forensik atau otopsi medikolegal dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan undang-undang, dengan tujuan membantu dalam hal penentuan identitas mayat.

Otopsi mayat biasa dilakukan oleh dokter ahli patologi atau dokter ahli forensik. Otopsi mayat harus dilakukan secepat mungkin, biasanya dua hingga tiga hari setelah kematian seseorang. Pada dasarnya, semakin cepat, semakin baik.

Proses otopsi meliputi:

  1. Identifikasi mayat

Semua informasi terkait orang yang meninggal akan dikumpulkan dari berbagai sumber. Catatan medis, keterangan dokter serta keterangan keluarga akan dikumpulkan. Selain itu, dilakukan juga penyelidikan pada lokasi kematian dan lingkungan tempat orang tersebut meninggal. Jika kematian terkait dengan masalah hukum, maka ahli koroner dan pihak berwenang lain akan dilibatkan.

  1. Pemeriksaan eksternal dan internal

Pertama kali dokter akan melakukan pemeriksaan eksternal tubuh. Semua fakta mengenai kondisi tubuh direkam dan dicatat. Mulai dari tinggi dan berat badan, bentuk gigi, warna mata, goresan atau bekas luka, hingga tato atau tanda lahir yang bisa dijadikan sebagai bukti identitas. Rekaman bisa dengan menggunakan kamera foto sebanyak dan seakurat mungkin melingkupi keseluruhan detil tubuh.

Pemeriksaan bedah internal. Pembedahan mayat dilakukan untuk memeriksa kondisi organ dalam tubuhnya. Misalnya untuk melihat adanya residu kandungan racun atau residu zat lain dalam jantung, paru, ginjal, hati, hingga isi perut yang mungkin menjadi penyebab kematiannya. Pembedahan juga dilakukan untuk melihat adanya kerusakan organ untuk memastikan penyebab kematiannya jika tidak ditemukan residu zat mencurigakan.

  1. Pembuatan laporan otopsi

Sebuah laporan akan diisi dengan temuan-temuan yang didapatkan selama otopsi. Laporan ini dapat berisi sebab kematian korban yang mungkin saja akan menjawab pertanyaan keluarga korban dan para penegak hukum. Perawatan mayat sebelum, selama dan sesudah otopsi akan dilakukan sesuai dengan agama dan kepercayaan tiap-tiap korban

Baik dalam melakukan otopsi klinik maupun forensik, ketelitian yang maksimal harus diusahakan. Kelainan yang sangat kecil pun harus dicatat. Otopsi sendiri harus dilakukan sedini mungkin, karena dengan lewatnya waktu, pada tubuh mayat dapat terjadi perubahan yang mungkin akan menimbulkan kesulitan dalam menginterpretasikan kelainan yang ditemukan. (RH)

Daftar Pustaka

Stoppler M.C, MD. 2017. Autopsy (Post Mortem Examination, Necropsy). Available at https://www.medicinenet.com/autopsy/article.htm#autopsy_facts


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store