MENGENAL TERAPI OKUPASI

37

Terapi okupasi adalah perawatan khusus yang bertujuan untuk membantu orang dengan keterbatasan fisik, mental, atau kognitif agar bisa lebih mandiri dalam berbagai aspek kehidupan. Entah itu untuk melakukan perawatan diri (makan, mandi, dan berpakaian), pengolahan diri (membaca, berhitung, atau bersosialisasi), latihan fisik (mempertahankan gerakan sendi, kekuatan otot, dan kelenturan), menggunakan alat bantu, serta kegiatan lainnya.

Tujuan utama terapi ini adalah membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi ini bisa diikuti oleh orang dari semua kalangan usia, yaitu anak-anak hingga lanjut usia. Terapi okupasi digunakan untuk membantu memudahkan seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas sehari-hari. Hal ini bisa terjadi karena hal-hal berikut ini:

  1. Kondisi medis tertentu
  2. Arthritis, kondisi terjadinya peradangan dalam satu atau beberapa sendi. Kondisi ini membuat sendi menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan.
  3. Multiple sclerosis (MS), kondisi yang memengaruhi sel saraf dalam otak dan tulang belakang. MS bisa menyebabkan kelumpuhan sedang hingga parah.
  4. Penyakit Parkinson, kondisi yang memengaruhi cara kerja otak dalam mengendalikan gerakan tubuh. Gejala yang banyak diketahui orang adalah gemetaran.
  5. Skizofrenia, kondisi kesehatan mental kronis yang menyebabkan gejala psikologis seperti halusinasi, pikiran kacau atau perubahan perilaku.
  6. Depresi, gangguan mood yang menyebabkan perasaan sedih atau putus asa dalam jangka panjang. Gangguan ini bisa menghambat aktivitas fisik dan mental seseorang.
  7. Cerebral palsy, kelainan yang memengaruhi otot, saraf, gerakan dan kemampuan motorik seseorang untuk bergerak secara terkoordinasi dan terarah.
  8. Sindrom Down, kondisi genetik yang menyebabkan gangguan belajar dan ciri fisik tertentu.
  9. Autisme, kelainan neurologis dan perkembangan yang dimulai pada masa kanak-kanak dan bertahan seumur hidup. Autisme dapat memengaruhi interaksi penderita dengan orang lain serta cara berkomunikasi dan belajar.
  10. Dyspraxia, gangguan kemampuan motorik berupa gangguan koordinasi otak, mata dan otot anggota gerak untuk melakukan kegiatan seperti berlari, melompat, atau menggunting.
  11. Gangguan perkembangan yang membuat anak kesulitan memproses informasi dan berkomunikasi dengan orang lain.
  12. Spina bifida, cacat lahir yang memengaruhi perkembangan tulang belakang dan sistem saraf.
  • Kondisi terkait penuaan

Terapi okupasi bisa digunakan untuk mengatasi masalah yang berkembang akibat bertambahnya usia. Misalnya kesulitan melakukan gerakan tertentu, seperti bangun tidur di pagi hari. Dengan terapi okupasi maka bisa menyarankan Anda alat yang memudahkan untuk melakukan gerakan atau mengajarkan teknik baru yang mungkin bisa membantu.

  • Pemulihan terkait kondisi medis tertentu

Terapi okupasi dapat digunakan setelah:

  • Patah tulang pinggul
  • Cedera kepala parah
  • Amputasi
  • Stroke
  • Diabetes
  • Penyakit jantung

Anda bisa menyarankan orang-orang disekitar Anda dengan kondisi diatas untuk melakukan terapi okupasi. Namun, tetap disarankan untuk berkonsultasi lebih dulu ke dokter agar terapi yang diberikan benar-benar bisa memperbaiki kualitas hidup pasien.

Terapi okupasi bisa dilakukan di beberapa tempat, seperti di rumah sakit, pusat rehabilitasi, di rumah pasien (home visit) atau di rumah singgah atau panti. Di Indonesia, tidak semua rumah sakit menyediakan terapi okupasi karena jumlah tenaga ahli yang mampu memberikan pelayanan ini masih terbatas. Itulah sebabnya, sebelum memutuskan untuk melakukan terapi ini, konsultasi dulu ke dokter agar mendapatkan rujukan tempat melakukan terapi okupasi yang tepat. (REG)

Sumber:

  1. WebMD. What is occupational therapy. 2017
  2. Verywell Heatlh. What to expect during an OT evaluation. 2018