MENGENAL VAKSIN JAPANESE ENCEPHALITIS

46

Virus japanese encephalitis merupakan penyebab utama kejadian penyakit radang otak akibat virus di Asia, termasuk di Indonesia. Japanese encephalitis merupakan penyakit yang bersumber dari binatang yang ditularkan melalui vektor penyebar virus japanese encephalitis yaitu nyamuk Culex yang terinfeksi virus ini. Nyamuk Culex yang mengandung virus japanese encephalitis dapat menularkan penyakit radang otak ini melalui gigitannya.

Sejarahnya, penyakit ini awalnya ditemukan di Jepang pada tahun 1871 dengan sebutan “summer encephalitis”. Japanese encephalitis bisa menyebabkan kematian, terutama pada anak berusia kurang dari 10 tahun. Bilapun dapat bertahan hidup, biasanya penderita seringkali mengalami gejala sisa seperti gangguan sistem motorik (motorik halus, kelumpuhan, gerakan tidak normal), gangguan perilaku (agresif, emosi tak terkontrol, gangguan perhatian, depresi), gangguan intelektual (retardasi), atau gangguan fungsi saraf lain (gangguan ingatan/memori, kejang epilepsi, dan kebutaan).

Hingga saat ini masih belum ditemukan obat untuk mengatasi infeksi Japanese encephalitis. Walaupun penyakit ini dapat mengakibatkan kecacatan hingga kematian, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin. Program vaksin terbukti sangat efektif dalam mencegah penyakit ini.

Siapa saja yang membutuhkan vaksin Japanese encephalitis?

Vaksin Japanese encephalitis sudah mulai dapat diberikan pada bayi yang berusia 2-12 bulan. Meski begitu, anak yang lebih tua dan orang dewasa yang belum pernah divaksin sewaktu bayi tetap disarankan untuk sesegera mungkin mendapatkan vaksin ini.

Selain orang-orang yang tinggal di daerah endemik Japanese encephalitis, berikut adalah beberapa kelompok orang yang dianjurkan untuk melakukan vaksin Japanese encephalitis:

  • Wisatawan dari luar negeri atau dari luar kota (non-endemik) yang akan tinggal selama lebih dari 1 bulan di daerah endemik tersebut.
  • Wisatawan yang menetap kurang dari 1 bulan dan sering berkunjung ke daerah yang menjadi tempat berkembangnya virus.

Pemberian vaksin Japanese encephalitis sebaiknya dilakukan dalam 10 hari sebelum keberangkatan. Wanita tidak disarankan mendapatkan vaksin ini selama kehamilan.

Sama seperti vaksin untuk penyakit menular lainnya, vaksin Japanese encephalitis berfungsi melindungi seseorang dari penyakit Japanese encephalitis sebelum benar-benar terinfeksi. Pelaksanaan kampanye imunisasi Japanese encephalitis dilaksanakan dengan sasaran anak usia 9 bulan sampai 15 tahun dan dilakukan di seluruh Provinsi Bali pada tahun 2017. Vaksin Japanese encephalitis yang digunakan merupakan virus hidup yang dilemahkan. Organisasi Kesehatan Dunia  merekomendasikan pemberian dosis tunggal vaksin Japanese encephalitis untuk area – area endemis. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster pada 1- 2 tahun berikutnya. (PK)

Referensi:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes Canangkan Imunisasi Cegah Radang Otak Japanese encephalitis. 2018

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Japanese encephalitis. 2018

Centers for Disease Control and Prevention. Japanese encephalitis Vaccine. 2019