Mengenali Gejala Awal Abses Peritonsiler

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

566

Abses peritonsiler merupakan sebuah penyakit yang perlu diwaspadai. Abses merupakan sebuah kumpulan nanah yang terakumulasi pada suatu bagian tubuh. Jika terjadi di area sekitar tonsil atau amandel, maka abses tersebut dinamai abses peritonsiler. Abses peritonsiler merupakan infeksi dalam yang paling sering terjadi pada bagian kepala-leher. Abses peritonsiler muncul saat penyakit sudah dalam tahap yang lanjut, sebelumnya penyakit muncul sebagai infeksi di bagian area tonsil terluar, kemudian berubah menjadi selulitis tonsiler. Terapi pada fase awal penyakit dapat mencegah abses menyebar ke daerah sekitarnya.

Abses peritonsiler sangat umum terjadi pada usia 20-40 tahun. Biasanya abses peritonsiler tidak terjadi pada anak-anak, kecuali pada pasien dengan gangguan sistem imun. Namun, abses pertonsiler yang terjadi pada anak dapat menyebabkan buntunya saluran pernafasan, yang merupakan sebuah kondisi gawat darurat. Penelitian membuktikan, tonsilitis yang terjadi berulang serta penggunaan antibiotik yang berulang pada tonsilitas dapat menjadi faktor predisposisi pada penyakit ini.

Bakteri yang paling sering dikaitkan dengan abses perionsiler adalah Streptococcus pyogenes. Kuman lain yang turut dapat menyebabkan abses ini adalah Staphylococcus aureus, Haemophilus influenza, dan Neisseria species.

Abses peritonsiler harus diwaspadai ketika ditemukan gejala-gejala seperti ini:

  • Radang tenggorokan yang progresif, kebanyakan hanya satu sisi
  • Nyeri saat menelan
  • Susah saat menelan
  • Demam
  • Nyeri telinga
  • Kesulitan membuka mulut
  • Suara serak
  • Air liur yang keluar terus menerus.

Jika mengelami gejala-gejala di atas, segera periksa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Dokter akan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis abses peritonsiler. Pemeriksaan fisik untuk abses peritonsiler mirip dengan pemeriksaan fisik pada tonsillitis atau radang tenggorokan lain, yaitu dokter akan menyuruh pasien membuka mulut, dan dengan bantuan alat dan senter dokter akan melihat tenggorokan pasien. Jika dokter merasa membutuhkan pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis seperti ultrasonography (USG) atau CT Scan (Computer Tomographic Scan). Pemeriksaan baku emas untuk abses peritonsiler adalah dengan needle aspiration yaitu dengan menusukkan jarum pada abses dan kemudian dilakukan aspirasi pengambilan cairan, untuk memastikan bahwa nanah adalah penyebab dari abses.

Terapi untuk abses peritonsiler adalah dengan antibiotik. Dokter akan meresepkan antibiotik yang sesuai dengan hasil dari pemeriksaan needle aspiration atau sesuai peta kuman yang ada di daerah tersebut. Tidak dianjurkan untuk mengobati penyakit ini dengan antbiotik yang dibeli sendiri, karena antibiotik yang tidak sesuai akan menyebabkan resistensi antibiotic; kuman tahan terhadap antibiotik, menjadi lebih berbahaya, dan susah diobati. Terapi selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan dilakukan irisan pada abses untuk mengeluarkan nanah yang ada. Namun untuk terapi ini dokter umum akan merujuk pasien pada spesialis telinga hidung tenggorokan (Sp. THT).

Abses peritonsiler merupakan infeksi dalam paling umum yang terjadi di regio kepala-leher. Mengenali tanda-tandanya sangat penting untuk mencegah infeksi ini menyebar lebih jauh dan menyebabkan komplikasi yang lebih berat. (RPG)

Sumber

STEYER, Terrence. 2002. American Academy of Family Physician. [online]. [Accessed 11 September 2018]. Available from World Wide Web: <https://aafp.org/afp/2002/0101/p93.html>


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store