Mengupas Mitos Seputar HIV/AIDS

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

160

Selama puluhan tahun HIV/AIDS telah diselimuti berbagai macam mitos dan kesalahpahaman. Dalam beberapa kasus, pemahaman keliru mengenai penyakit ini telah mendorong sejumlah perilaku yang justru menyebabkan makin banyak orang terjangkit HIV positif. Meskipun banyak pertanyaan yang belum pernah terjawab, para peneliti kini berhasil menemukan sejumlah fakta seputar HIV/AIDS.

Berikut beberpa mitos yang paling umum tentang HIV/AIDS, dilengkapi dengan fakta pendukungnya.

  1. MITOS: HIV sama dengan AIDS

FAKTA: HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda. HIV adalah nama virus pembawa penyakit defisiensi imun atau menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia. (Human Immunodeficiency Virus). AIDS adalah diagnosis lanjutan setelah virus HIV berhasil menyerang dan melemahkan sistem imun sseorang, sehingga orang tersebut bisa mengembangkan (atau berada dalam risiko yang sangat tinggi terhadap) penyakit sistem imun tertentu. Tidak semua orang positif HIV juga terjangkit AIDS. Pengobatan HIV yang tepat guna bisa memperlambat atau menghentikan progress HIV, yang pada akhirnya akan mencegah orang tersebut mengembangkan AIDS.

  1. MITOS: HIV/AIDS adalah masalah kaum homoseksual dan pengguna narkoba saja

FAKTA: Hubungan seks antar sesama jenis tanpa pengaman dan penggunaan jarum suntik narkoba secara bersama-sama memang menjadi faktor utama penyebab HIV, namun seks penetratif penis ke vagina adalah salah satu cara utama lainnya dari penularan HIV dengan laporan angka kasus yang cukup besar. Dalam kasus langka, seks oral juga tergolong sebagai faktor risiko penularan infeksi, walaupun begitu, seks anal tetap memiliki risiko tertinggi infeksi HIV diantara metode aktivitas seksual lainnya.

  1. MITOS: Kita dapat apat terjangkit HIV jika tinggal bersama atau bergaul dengan ODHA

FAKTA: Beragam penelitian membuktikan bahwa HIV tidak disebarkan melalui sentuhan, air mata, keringat, atau air liur. HIV hanya bisa ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh tertentu yang mengandung konsentrasi tinggi dari virus HIV, seperti darah, sumsum tulang belakang, air mani, cairan vagina, anus, serta ASI. HIV ditularkan ketika salah satu cairan tersebut (dari orang yang positif HIV) masuk melalui selaput lendir, luka terbuka, atau goresan dari orang yang tidak terinfeksi. Anda tidak akan tertular HIV saat:

  • Berada satu ruangan dan menghirup udara yang sama dengan ODHA
  • Menyentuh barang-barang yang telab disentuh oleh ODHA
  • Meminum dari gelas yang telah digunakan oleh ODHA
  • Memeluk, mencium, atau berjabat tangan dengan ODHA
  • Berbagi peralatan makan dengan ODHA
  • Menggunakan peralatan gym bersama-sama dengan ODHA
  1. MITOS : HIV dapat diularkan melalui gigitan nyamuk

FAKTA : HIV memang ditularkan melalui darah, namun tidak ada bukti medis sampai detik ini yang dapat meunjukkan bahwa gigitan nyamuk adalah salah satu medium penyebaran virus HIV, bahkan di tempat yang rawan HIV dan banyak nyamuk. Saat nyamuk berpindah lokasi gigit, mereka tidak akan menginjeksi darah orang sebelumnya kepada “mangsa” selanjutnya. Selain itu, umur virus HIV dalam serangga tidak akan bertahan lama.

  1. MITOS : Selama minum obat HIV/AIDS, seseorang tidak akan menularkan virus

FAKTA : Obat antiretroviral walaupun digunakan rutin, hanya akan menekan kadar jumlah HIV dalam darah sehingga terlihat dalam ambang batas normal pada tiap uji tes darah. Penelitian menunjukkan bagaimanapun juga masih terdapat virus HOV dalam jumlah kecil yang bersembunyi dalam darah. Penting untuk selalu melakukan seks yang aman untuk mencegah penyebaran virus.

  1. MITOS : tanda dan gejala virus HIV dapat terlihat dengan mudah

FAKTA : Anda bisa terjangkit HIV positif tanpa menunjukkan gejala apapun selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah anda atau pasangan memiliki HIV positif adalah dengan melakukan tes darah.

  1. MITOS : Ibu hamil dengan HIV positif akan selalu menularkan HIV kepada janinnya

FAKTA : Penularan infeksi ibu-ke-anak adalah salah satu cara penyebaran virus. Ibu hamil positif HIV yang tidak menjalani perawatan memiliki peluang penularan 1:4 kepada janin di dalam kandungannya. Saat ibu dan janin menerima pengobatan yang tepat guna sebelum, selama dan sesudah kelahiran, peluang risiko infeksi pada bayi akan menurun  hingga 1-2%.

(EDA/CM)

Sumber:


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store