Merawat Anak Dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

196

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah sebuah gangguan otak yang dicirikan dengan tiga gangguan utama. Gangguan pertama adalah inatensi, yaitu ada gangguan dalam memusatkan perhatian. Anak sering terlihat kabur dari tugas atau perintah, tidak bisa mempertahankan fokus, dan sering terjadi disorganisasi. Gangguan yang kedua adalah hiperaktivitas. Hiperaktivitas dalam kasus ini adalah anak sering bergerak, dan terus secara konstan bergerak. Bahkan anak dapat terus bergerak di keadaan-keadaan yang tidak seharusnya. Hiperaktivitas anak dapat berupa anak terus-menerus berbicara, berlarian, dan, menghentak-hentakkan tangan dan kaki. Gangguan yang ketiga adalah impulsivitas. Anak sering terlihat terburu-buru mengambil keputusan dan melakukan hal-hal yang terpikir di otak, meskipun hal ini dapat berpotensi menyebabkan bahaya.

Anak yang lebih kecil biasanya memiliki gangguan hiperaktivitas yang menonjol. Saat memasuki sekolah gejala inatensi dapat muncul menggantikan hiperaktivitas sebagai keluhan utama, karena saat di sekolah anak akan mengalami gangguan belajar dan dapat tinggal kelas. Namun secara umum penderita ADHD dapat memiliki kombinasi dari hiperaktivitas, inatensi, dan impulsivitas. Sebagian besar anak didiagnosis menderita ADHD saat berada di sekolah dasar. Gejala ADHD dapat muncul dari usia tiga hingga enam tahun.

Jika mencurigai anak dengan ADHD, sebaiknya segera diperiksa oleh psikolog, atau psikiater anak. Tidak dianjurkan untuk mendiagnosis ADHD sendiri karena sangat rawan salah dan dapat berakibat buruk pada kondisi anak di masa depan.

Namun jika sudah terdiagnosis ADHD ada beberapa cara untuk melakukan terapi kepada anak dengan ADHD. Ada baiknya terapi ini sudah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan psikiater anak atau psikolog yang merawat.

Cara yang pertama adalah dengan terapi perilaku. Terapi perilaku adalah sebuah psikoterapi yang bertujuan untuk mengubah perilaku seseorang. Terapi perilaku mengajarkan seseorang untuk memonitor perilakunya sendiri,dan memberikan dirinya pujian atau reward jika dapat berperilaku dengan tepat, seperti dapat mengontrol kemarahan, atau berpikir sebelum bertindak. Terapi perilaku ini dapat dicapai dengan aktivitas sederhana seperti mengerjakan pekerjaan rumah, bermain, atau bekerja di saat-saat emosional yang sulit. Keluarga dan orang sekitar juga dapat memberikan positive and negative feedbacks untuk perilaku tertentu. Jadi jika terdapat perilaku anak yang baik, orang tua dapat memberikan hadiah atau pujian, namun jika perlilaku anak tidak sesuai orang tua dapat memberikan hukuman.

Cara yang kedua adalah orang tua dan terapis dapat mengajarkan anak cara-cara bersosialisasi. Anak dapat diajari untuk berbagai mainan dengan teman sebayanya, merespon dengan baik jika digoda, atau untuk menunggu giliran dalam bermain.

Selain terapi pada anak, orang tua anak ADHD juga harus mendapatkan edukasi dan bantuan yang cukup dalam membesarkan anak dengan ADHD. Orang tua dapat menghadiri seminar-seminar parenting untuk meningkatkan pengetahuan mereka mengenai pola asuh yang benar pada anak. Orang tua juga perlu untuk menghindari seminar-seminar manajemen stress, karena membesarkan anak dengan ADHD dapat membuat orang tua rentan dengan stress.

ADHD merupakan sebuah penyakit yang bisa disembuhkan. Dengan terapi yang tepat, anak ADHD dapat hidup layaknya anak lain. Namun dibutuhkan kesabaran dan usaha lebih dari orang tua untuk membesarkan anak dengan ADHD. (RPG)

Sumber:

NIH. 2016. National Institute of Mental Health. [online]. [Accessed 09 September 2018]. Available from World Wide Web: <https://nimh.nih.gov/health/topics/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/index.shtml>


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store