Otopsi, Perlukah Dilakukan?

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

161

Otopsi adalah prosedur medis yang dilakukan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh orang yang telah meninggal. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk  mengetahui penyebab dan cara orang tersebut meninggal. Umumnya otopsi dilakukan jika kematian seseorang dianggap tidak wajar.

Prosedur otopsi atau bedah mayat dapat dilakukan menyeluruh ke seluruh tubuh atau hanya terbatas pada satu organ atau satu daerah tubuh tertentu saja. Pada beberapa kasus, otopsi dapat dilakukan tanpa harus meminta izin dari ahli waris korban. Di kasus lainnya, ahli waris dan keluarga korban harus mengetahui dan menyetujui tindakan otopsi yang akan dilakukan. Selain itu, ada pula proses otopsi yang dapat dilakukan berdasarkan permintaan keluarga

Di Indonesia, bedah mayat sendiri terbagi menjadi dua berdasarkan tujuan besarnya. Pertama, bedah mayat klinis yang merupakan otopsi yang dilakukan untuk mengetahui penyakit atau penyebab kematian dan untuk mengevaluasi hasil usaha pemulihan kesehatan. Kedua, bedah mayat anatomis yang merupakan otopsi yang dilakukan untuk kepentingan pendidikan ilmu kedokteran.

Beberapa Kondisi yang Membutuhkan Otopsi

Berikut ini beberapa kondisi yang dapat membutuhkan otopsi:

  • Kematian terkait masalah hukum.
  • Kematian terjadi selama proses pengobatan eksperimental atau penelitian.
  • Kematian terjadi tiba-tiba selama prosedur medis seperti prosedur pengobatan gigi, bedah, atau proses pengobatan.
  • Kematian terjadi bukan akibat kondisi medis yang tidak diketahui.
  • Kematian mendadak pada bayi.
  • Kematian tidak wajar yang diduga akibat kekerasan, bunuh diri, atau overdosis obat-obatan.
  • Kematian akibat kecelakaan.

Tindakan otopsi pada dasarnya tidak memiliki risiko. Walau demikian, dengan dilakukannya otopsi, dapat ditemukan hal-hal yang mungkin membawa informasi baru seperti ditemukannya tumor yang tidak pernah diketahui.

Tidakan otopsi dilakukan oleh dokter spesialis forensik atau dokter spesialis bedah mayat. Teknik pembedahan pada otopsi pun tidak bisa sembarangan. Ada teknik khusus yang dikuasai oleh dokter spesialis forensik dalam melakukan otopsi. Teknik khusus ini salah satunya adalah untuk meminimalisir tindakan invasif yang tidak diperlukan. Selain itu terdapat pula teknik khusus agar sayatan bekas otopsi tidak terlalu nampak, sehingga pada proses pemakanan tertentu yang memerlukan adanya rias mayat, korban meninggal yang mengalami otopsi tetap dapat menjalani proses pemakaman dengan baik.

Otopsi dilakukan dalam beberapa jam. Selain melakukan pemeriksaan dengan membuka seluruh bagian tubuh, otopsi juga disertai pemeriksaan laboratorium. Misalnya saja pemeriksaan getah lambung yang dapat memberikan informasi apakah keracunan merupakan penyebab kematian seseorang. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan laboratorium getah paru dan darah untuk mengetahui penyebab pasti kematian.

Laporan otopsi biasanya berisi dugaan berdasar dengan keilmuan kedokteran sesuai temuan saat dilakukan otopsi. Laporan ini berbentuk dokumen tulis atau ketik yang bernilai di depan hukum. Bicarakan dengan pihak medis dan pihak berwajib untuk memastikan proses otopsi dilakukan dengan benar. (EDA/STE)

Sumber :


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store