Pembesaran Prostat

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

127

Pembesaran prostat merupakan penyakit tersering kedua diklinik urologi di Indonesia setelah batu saluran kemih. Menurut angka – angka di Amerika pada umur 60 tahun ditemukan prevalensi histologik penderita pembesaran prostat jinak sebesar 50% sedangkan pada usia 85 tahun menjadi 90%. Angka lain dari Amerika menunjukkan bahwa 1 dari 4 laki – laki umur 80 tahun memerlukan pengobatan untuk pembesaran prostat bergejala dan menghabiskan biaya 2 milyar dolar setiap tahunnya.

Dengan kenaikan umur harapan hidup di Indonesia, akan semakin banyak pria yang dapat mencapai umur diatas 60 tahun. Hal ini juga akan menyebabkan akan sering ditemukan  penderita – penderita Pembesaran Prostat. Bila jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 200 juta, maka bila angka tersebut diinterpolasikan dengan angka – angka dinegara maju maka diperkirakan sebanyak 10 juta penduduk Indonesia berusia diatas 60 tahun dan apabila 50% menderita Pembesaran Prostat maka akan ditemukan sebanyak 5 juta penderita Pembesaran Prostat.

Pembesaran prostat jinak adalah kondisi ketika kelenjar prostat mengalami pembengkakan, namun tidak bersifat kanker. Kelenjar prostat merupakan sebuah kelenjar berukuran kecil yang terletak pada rongga pinggul antara kandung kemih dan penis. Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang berfungsi untuk menyuburkan dan melindungi sel-sel sperma. Pada saat terjadi ejakulasi, prostat akan berkontraksi sehingga cairan tersebut akan dikeluarkan bersamaan dengan sperma, hingga menghasilkan cairan semen.

Gejala

Berikut ini gejala-gejala yang biasanya dirasakan oleh penderita pembesaran prostat jinak:

  • Selalu ingin berkemih, terutama pada malam hari.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Sulit mengeluarkan urine.
  • Mengejan pada waktu berkemih.
  • Aliran urine tersendat-sendat.
  • Mengeluarkan urine yang disertai darah.
  • Merasa tidak tuntas setelah berkemih.
  • Tidak bisa menahan keluarnya urine atau ngompol

Munculnya gejala-gejala tersebut disebabkan oleh tekanan pada kandung kemih dan uretra ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran.

Pemeriksaan sangat diperlukan mengingat ada beberapa kondisi lain yang gejalanya sama dengan Pembesaran Prostat, di antaranya :

  • Infeksi saluran kemih.
  • Penyempitan uretra.
  • Bekas luka operasi pada leher kandung
  • Kanker prostat.
  • Gangguan pada saraf yang mengatur aktivitas kandung kemih.
  • Radang prostat
  • Penyakit batu ginjal
  • Kanker kandung kemih

Penyebab

Sebenarnya penyebab persis pembesaran prostat jinak masih belum diketahui. Namun kondisi ini diperkirakan terjadi karena adanya perubahan pada kadar hormon seksual akibat proses penuaan. Secara umum, prostat akan terus tumbuh seumur hidup. Pada beberapa kasus, prostat akan terus berkembang dan mencapai ukuran yang cukup besar sehingga secara bertahap akan menghimpit uretra. Uretra yang terjepit ini menyebabkan urine susah keluar, sehingga terjadilah gejala-gejala BPH seperti yang telah disebutkan di atas.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena Pembesaran Prostat adalah:

  • Kurang berolahraga dan obesitas.
  • Faktor penuaan.
  • Menderita penyakit jantung atau diabetes.
  • Efek samping obat-obatan penghambat beta (beta blockers).
  • Keturunan.

Diagnosis

Dalam mendiagnosis pembengkakan prostat jinak, dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan oleh pasien terlebih dahulu, misalnya:

  • Apakah aliran urine sering lemah atau tersendat-sendat?
  • Seberapa sering pasien merasa berkemih tidak sepenuhnya tuntas?
  • Seberapa sering pasien terbangun di malam hari untuk berkemih?
  • Seberapa sering pasien mengejan untuk mulai berkemih?
  • Apakah pasien sering sulit menahan keinginan untuk berkemih?
  • Apakah pasien berkemih lebih dari satu kali dalam kurun waktu dua jam?

Guna mengetahui ukuran kelenjar prostat secara fisik, dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur.

Pengobatan

Penanganan Pembesaran Prostat berbeda-beda pada setiap penderitanya. Dokter akan memilih jenis penanganan yang paling sesuai berdasarkan beberapa faktor seperti:

  • Kondisi kesehatan penderita secara umum.
  • Tingkat ketidaknyamanan yang dirasakan oleh penderita.
  • Usia penderita.
  • Ukuran prostat.

Penanganan pembesaran prostat jinak (BPH) sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penanganan BPH dengan gejala ringan dan penanganan BPH dengan gejala sedang hingga parah. BPH ringan biasanya cukup ditangani dengan obat-obatan, terapi menahan berkemih, dan perubahan gaya hidup.

  • Terapi menahan kemih

Terapi ini dilakukan di bawah bimbingan medis. Di dalam terapi ini pasien akan diajarkan bagaimana cara menahan keinginan berkemih setidaknya dalam jeda waktu dua jam antara tiap berkemih, termasuk diajarkan bagaimana cara mengatur pernapasan, mengalihkan pikiran ingin berkemih, serta relaksasi otot.

  • Perubahan gaya hidup

Perubahan gaya hidup yang dimaksud adalah dengan:

  • Mulai berolahraga secara teratur, misalnya berjalan kaki tiap hari selama setengah hingga satu jam.
  • Mulai mengurangi atau berhenti mengonsumsi kafein dan minuman keras.
  • Mencari jadwal minum obat yang tepat agar terhindari dari nokturia (meningkatnya frekuensi buang air kecil sepanjang malam).
  • Mulai membiasakan diri untuk tidak minum apa pun dua jam sebelum waktu tidur agar terhindar dari nokturia.

Sedangkan cara untuk menangani BPH dengan tingkat keparahan gejala sedang hingga parah adalah melalui operasi.

Pencegahan

Risiko pembesaran prostat jinak dapat dicegah melalui konsumsi makanan yang kaya akan serat dan protein, serta rendah lemak. Berikut ini contoh-contoh makanan dengan kadar serat tinggi:

  • Kacang hijau
  • Beras merah
  • Gandum
  • Brokoli
  • Kubis
  • Lobak
  • Bayam
  • Apel

Berikut ini contoh-contoh makanan dengan kadar protein tinggi:

  • Ikan, Telur
  • Kacang kedelai
  • Susu rendah lemak
  • Dada ayam
  • Keju (NP/STE)

Sumber :


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store