PEMERIKSAAN KANKER SERVIKS HARUS SETIAP TAHUN, DOK?

100

Apakah Anda pernah mendengar tentang kanker serviks atau kanker mulut rahim? Apa benar pemeriksaan kanker serviks harus setiap tahun? Apa beda pemeriksaan papsmear dengan IVA? Mari simak artikel untuk penjelasan lebih lanjut!

Kanker Serviks, Hantu Setiap Wanita

Serviks adalah area tubuh wanita yang berada di antara vagina dan rahim. Kanker serviks terjadi saat sel-sel di serviks rusak dan berkembang biak secara cepat namun tidak sesuai keadaan normalnya. Kanker serviks dapat mengancam jiwa jika tidak terdeteksi atau tidak diobati. Jenis virus tertentu yang disebut human papilloma virus (HPV) adalah penyebab dari hampir semua kasus kanker serviks.

Tahukah Anda bahwa kanker serviks menempati peringkat keempat dari seluruh kanker yang terjadi pada wanita?  Sekitar 570.000 kasus baru atau 6,6% dari semua kanker wanita disebabkan oleh kanker serviks dan 90% dari seluruh kanker servix terjadi di negara berkembang! Menakutkan bukan? Namun, Anda tidak perlu khawatir karena dokter ataupun bidan Anda dapat memeriksa keberadaan virus dan sel-sel ganas yang belum menjadi kanker (prakanker), lho.

Deteksi Dini Kanker Serviks

Teknologi saat ini telah menemukan metode untuk mencegah dan mengobati lebih dini dari kanker serviks. Skrining atau deteksi dini pun saat ini sangat mudah dilakukan, termasuk di wilayah terpencil sekalipun.

Skrining bertujuan untuk mendeteksi perubahan pada sel prekanker yang jika tidak diobati dapat menyebabkan kanker. Beberapa hal penting pada deteksi dini dari kanker serviks adalah :

  1. Skrining harus dilakukan setidaknya sekali pada setiap wanita usia 30-49 tahun;
  2. Pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA) adalah salah satu skrining yang direkomendasikan;
  3. Pada wanita yang diketahui positif memiliki sel pra-kanker, dapat dilakukan tindakah cryotherapy atau loop electrosurgical excision procedure (LEEP), sehingga dapat mencegah terjadinya kanker serviks.

IVA vs PAPSMEAR?

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa beda IVA dan Papsmear? Dokter dapat mendiagnosis keberadaan sel-sel tidak normal dan berpotensi kanker melalui Pap tes atau dikenal sebagai papsmear. Metode ini dilakukan dengan cara menyeka bagian serviks Anda dengan alat yang mirip dengan cotton bud, lalu hasil seka ini dikirim ke laboratorium untuk diperiksa sel-sel prakanker atau kanker dibawah mikroskop. Kapan papsmear dilakukan? Pap smear sebaiknya dilakukan secara teratur setiap 3 tahun setelah usia 21 tahun. Namun, di Indonesia, lebih umum papsmear dilakukan setelah menikah atau jika telah aktif melakukan hubungan seksual. Jika Anda berusia di atas 30 tahun dan telah melakukan tiga kali papsmear yang menunjukkan hasil normal, maka Anda boleh mulai menjarangkan pemeriksaan papsmear Anda menjadi tiap 5 tahun. Konsultasikan hal ini pada dokter atau bidan kepercayaan Anda.

Lantas apa itu IVA? IVA atau inspeksi visual asetat adalah cara skrining yang lebih mudah, cepat dan murah dengan cara mengoleskan asam asetat 3-5% pada serviks. Jika serviks mengandung sel-sel abnormal, maka asam asetat akan memberikan warna pada sel-sel tersebut sehingga menghasilkan bercak-bercak berwarna putih. Bila ditemukan hasil yang positif maka bisa segera dilakukan prosedur cryotherapy atau pembekuan untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Sederhana bukan? Sama seperti papsmear yang lebih umum dikenal, IVA juga dapat dilakukan di ruang praktik dokter atau bidan, dan hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat.

Apakah IVA Harus Setiap Tahun?

Tidak. Skrining menggunakan IVA ada jadwalnya. Badan kesehatan dunia (WHO) memberikan anjuran sebagai berikut :

  1. Skrining pada setiap wanita minimal 1X pada usia 35-40 tahun dan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun. Jika fasilitas tersedia lebih maka bisa dilakukan tiap 5 tahun.
  2. Pemeriksaan ideal dan optimal dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.
  3. Di Indonesia, anjuran untuk melakukan IVA bila: hasil positif (+) adalah tiap 1 tahun dan, bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun.

Jadi, apakah Anda akan melakukan IVA? (TYA/STE)

DAFTAR PUSTAKA

  1. WHO. 2019. Cervical cancer, dapat diakses melalui https://who.int/cancer/prevention/diagnosis-screening/cervical-cancer/en/
  2. healthline. 2016. How Do You Know If You Have Cervical Cancer? diakses melalui https://healthline.com/health/cervical-cancer-symptoms