Penyebab dan Faktor Resiko Tuberkulosis

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi, Tanpa Antri

446

Tahukah anda, bahwa setiap 24 Maret diperingati hari TB Sedunia atau World TB Day?
Peringatan hari Tuberkulosis (TB) Sedunia ini diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum tentang penyakit epidemic tuberculosis serta sebagai momentum untuk mengevaluasi pencapaian pengendalian pengendalian TB di seluruh dunia. TB sampai sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia walaupun upaya pengendalian penyakit telah diterapkan sejak puluhan tahun lalu. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), jumlah kasus baru tuberkulosis (TBC) pada 2015 mencapai 10,4 juta jiwa meningkat dari sebelumnya hanya 9,6 juta. Adapun jumlah temuan TBC terbesar adalah India sebanyak 2,8 juta kasus, diikuti Indonesia sebanyak 1,02 juta kasus dan Tiongkok sebanyak 918 ribu kasus.

Berdasarkan hasil RISKESDAS tahun 2013 prevalensi penduduk Indonesia yang di diagnosis TB Paru yakni 0,4%. Gorontalo termasuk dalam 5 (Lima) Provinsi dengan TB Paru tertinggi (0,5%), provinsi lain adalah jawa barat (0,7%), Papua (0,6%), DKI Jakarta (0,6%), Banten (0,4%) dan Papua Barat (0,4%).

Definisi dan Penyebab
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman dari kelompok
Mycobacterium yaitu Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menular melalui percikan dahak. Tuberkulosis bukan penyakit keturunan atau kutukan dan dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur, diawasi oleh Pengawasan Minum Obat (PMO). Sebagian besar kuman TB menyerang paru tetapi bisa juga organ tubuh lainnya.

Gejala
Umumnya bakteri TB berkembang biak di paru-paru. Gejala yang dapat ditimbulkan antara lain :
 Batuk ≥ 3 Minggu Nyeri dada
 Batuk darah
 Sesak napas
 Nyeri dada
 Demam
 Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas
 Keringat malam hari
 Nafsu makan turun

Faktor Risiko
 Kontak erat dengan pasien TB aktif atau curiga terinfeksi TB
 Berada pada tempat dengan risiko tinggi untuk terinfeksi tuberkulosis (lembaga
pemasyarakatan, fasilitas perawatan jangka panjang, dan tempat penampungan tunawisma)
 Petugas kesehatan yang melayani pasien tuberkulosis
 Bayi, anak-anak dan dewasa muda terpajan orang dewasa yang berisiko tinggi terinfeksi TB aktif
 Kurangnya daya tahan tubuh. Seseorang dengan daya tahan tubuh yang rendah, contohnya penderita HIV/AIDS, Diabetes Melitus, dan malnutrisi (gizi buruk) akan memudahkan berkembangnya TB aktif (Sakit TB).
 Perokok aktif

Pemeriksaan Penunjang
Berupa pemeriksaan Bakteriologik yaitu pemeriksaan untuk menemukan kuman tuberkulosis yang memiliki arti penting dalam menegakkan diagnosis.
1. Pemeriksaan Dahak 3 kali
– Sewaktu (dahak sewaktu saat kunjungan)
– Pagi (dahak pagi, hari ke dua segera setelah bangun tidur)
– Sewaktu (dahak sewaktu saat mengantarkan dahak pagi)
2. Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan standar ialah foto rontgen dada, untuk melihat gambaran radiologik TB Paru.
Pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam pengobatan TB. Pengobatan TB merupakan salah satu upaya paling efisien untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari kuman TB. Pengobatan meliputi pengobatan tahap awal dan tahap lanjut. Tahap Awal : Pengobatan diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama. Daya penularan akan sangat menurun setelah pengobatan 2 minggu

Tahap Lanjutan : Pengobatan diberikan 3 kali seminggu, dalam 4 bulan berikutnya.
Obat-obatan yang umum diberikan dalam pengobatan TB adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, dan ethambutol. Obat-obatan ini tersedia dalam bentuk paket obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), untuk mempermudah konsumsi obat dan mencegah kesalahan mengingat minum obat. Tablet OAT-KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Seperti halnya obat-obatan lainnya, OAT juga memiliki efek samping misalnya gangguan lambung, gangguan penglihatan, sakit kepala, gangguan saraf pusat dan lain-lain. Jika terdapat gejala efek samping OAT sebaiknya langsung dikonsulkan kembali dengan dokter anda.

Program Pemerintah Untuk Pengendalian TB
Pengendalian tuberkulosis dilakukan sesuai strategi WHO yaitu Directly Observed Treatment Short-Course (DOTS). Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan rantai penularan TB dan dengan demikian menurunkan insidens TB di masyarakat.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia memiliki suatu program ajakan masyarakat untuk menanggulangi tuberkulosis, yaitu Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Gerakan TOSS TB merupakan gerakan aktif dan masif yang dimulai dari diri sendiri, keluarga sekaligus melibatkan masyarakat, layanan dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera menemukan  orang terduga TB sedini mungkin dan segera dirujuk ke Faskes (Puskesmas) terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut serta mengobati pasien TB sampai sembuh. Gerakan TOSS TB sendiri bertujuan untuk meningkatkan angka penemuan kasus TB dan memberdayakan peran masyarakat.

Melalui program ini dan pengobatan gratis bagi pasien TBC, pemerintah berharap agar masyarakat lebih peduli dan bersama-sama menciptakan lingkungan sehat bebas TB.
Ayo sukseskan program pengendalian TB, untuk Indonesia bebas tuberkulosis tahun 2035!


Tanya keluh sehatmu lewat aplikasi, install Pakdok sekarang click Andoid Google Play dan IOS App Store