Penyebab Obesitas Pada Anak

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

254

Berdasarkan laporan penelitian gabungan tahun 2016 yang dilakukan oleh UNICEF, WHO, dan ASEAN, Indonesia memiliki persentase yang sama untuk anak obesitas dan anak malnutrisi (gizi kurang/buruk), yaitu sebesar 12 persen. Obesitas pada anak-anak terjadi ketika berat badan mereka jauh melebihi berat normal berdasarkan tinggi badan. Kondisi ini berbahaya karena membuat mereka berisiko tinggi mengidap penyakit kronis dan mengalami stres.

Faktor Pemicu Obesitas

Banyak faktor yang dapat menyebabkan obesitas. Beberapa di antaranya saling berkaitan, yaitu:

  • Gaya hidup. Pola makan tidak sehat dengan kalori yang berlebihan dan tidak diiringi dengan aktif bergerak. Mengonsumsi makanan yang kaya kandungan lemak jenuh dan gula, kelompok makanan cepat atau siap saji (fast food), serta minuman ringan diduga menjadi penyebab utama obesitas.
  • Faktor genetis. Meski tidak mutlak, anak dengan anggota keluarga atau orang tua yang mengidap obesitas lebih berisiko mengidap obesitas.
  • Faktor psikologis. Obesitas kadang-kadang dialami oleh anak atau remaja yang menjadikan makanan sebagai pelarian dari rasa frustrasinya atau stres psikologis terhadap pelajaran di sekolah, kebosanan, masalah, dan bentuk emosional lainnya.

Komplikasi Akibat Obesitas

Tidak hanya pada kesehatan, obesitas dapat berdampak pada hidup anak secara keseluruhan.

Dampak secara fisik

Berikut ini adalah kondisi-kondisi kesehatan yang dapat dipicu oleh obesitas:

  • Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.
  • Diabetes tipe 2.
  • Penyakit pernapasan. Bobot tubuh anak yang berlebihan bisa mengakibatkan saluran pernapasan anak menyempit, membengkak, dan membuatnya kesulitan bernapas sehingga berisiko menderita penyakit pernapasan seperti asma.
  • Gangguan pola tidur. Akibat obesitas, pernapasan anak bisa menjadi tidak normal, misalnya mendengkur saat sedang tidur. Kualitas istirahat atau tidur anak tersebut dapat menurun akibat gangguan pada pernapasannya
  • Penyakit perlemakan hati non- alkoholik (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD).
  • Gangguan pada tulang yang menyangga kelebihan berat pada tubuh.

Dampak secara sosial dan emosional

  • Gangguan pada perilaku. Anak yang menderita obesitas cenderung lebih sulit untuk bersosialisasi dan lebih mudah khawatir mengenai pendapat orang lain terhadap berat badannya.
  • Tidak percaya diri. Tubuh dengan berat berlebihan kerap membuat seseorang menjadi tidak percaya diri dalam pergaulan.
  • Depresi. Rasa tidak nyaman dan percaya diri membuat anak rentan mengalami depresi.

Bagaimana Mendiagnosis Obesitas?

Indeks Massa Tubuh (IMT)

IMT adalah pengukuran yang umum digunakan untuk menentukan apakah berat badan seseorang dapat diklasifikasikan sebagai di bawah berat normal, berberat badan normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. IMT diukur dengan rumus berat (dalam kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (dalam meter2). Contohnya seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dengan berat badan 50 kilogram, dan tinggi badan 1,2 meter, maka IMT-nya adalah:

50 kg/(1,20 m)2 = 50/1.44 ≈ 34,7 kg/m2

Pengukuran berdasarkan IMT anak Anda akan dibandingkan berdasarkan IMT anak-anak lain dengan jenis kelamin, usia dan tinggi badan yang sama.

Mendampingi Anak dengan Obesitas

Kunci menangani anak dengan obesitas bertumpu kepada dua hal. Pertama adalah memastikan bahwa anak telah menerapkan pola makan sehat dan mengajaknya beraktivitas fisik lebih teratur, sehingga berat badannya turun.

Bicara dari hati ke hati

  • Pastikan anak tahu bahwa proses mengatur pola hidup demi penurunan berat badan akan menjadi proses yang dia akan jalani. Hal ini demi kebaikan dan tujuan jangka panjang yang lebih sehat.
  • Ajak anak untuk terbuka juga tentang masalahyang tidak menyangkut makanan, tapi berpotensi untuk menjadi penyebab obesitas.
  • Selalu berikan pujian dan tunjukkan dukungan tiap melihat usaha dan keberhasilan-keberhasilan kecil yang dicapai oleh anak.

Pola makan sehat

  • Upayakan untuk mengganti sebanyak mungkin makanankemasan dengan buah-buah dan sayuran segar.
  • Batasi frekuensi makan di luar, terutama di restoran siap saji.
  • Dengan memasak makanan sendiri,lebih bisa mengontrol kandungan kolesterol dan kalori dalam makanan yang dikonsumsi anak. Prioritaskan masakan dengan cara mengukus atau merebus dibandingkan dengan menggoreng.
  • Hindari memberi makanan sebagai hadiah, atau membatasi makanan hukuman.

Mengajak anak beraktivitas

  • Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat. Akan lebih mudah untuk menyarankan aktivitas fisik yang disenanginya, seperti bermain lompat tali, bersepeda atau hobi dan olahraga lain yang ia senangi.
  • Batasi waktu anak untuk menonton TV atau duduk bermain game di smartphone, tablet, atau komputer, menjadi tidak lebih dari satu jam setiap hari untuk anak usia pra-sekolah.
  • Untuk anak yang lebih dewasa,. Ia bisa bermain basket atau sepak bola sebelum kembali melanjutkan belajar.

Mencegah Obesitas pada Anak

Obesitas pada anak dapat dicegah. Berikut ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membuat tubuh anak tetap sehat dan terhindar dari obesitas:

  • Jadikan gaya hidup sehat sebagai kebiasaan di dalam keluarga. Jadwalkan berenang bersama tiap dua pekan sekali, piknik di taman, dan memasak makanan sehat bersama-sama.
  • Berikan contoh dengan mempraktikkan gaya hidup sehat secara pribadi, misalnya dengan tidak merokok, memilih makanan sehat, dan berolahraga teratur.
  • Pastikan anak Anda memiliki waktu tidur yang cukup dan berkualitas

Obesitas anak adalah kondisi medis serius yang bisa memengaruhi masa kecil dan juga tumbuh kembangnya. Kondisi ini juga bisa mendorong anak mengalami gangguan kesehatan ke depannya. (TL)

Referensi:

https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/4-masalah-utama-yang-disebabkan-oleh-obesitas-pada-anak/


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store