Perlukah Obat Suntik Pada Nyeri Otot?

63

Apakah Anda pernah merasakan nyeri otot? Jawabannya tentu ya, karena nyeri otot merupakan umum dapat dirasakan siapa saja. Nyeri otot atau bisa juga disebut myalgia merupakan keluhan rasa nyeri yang dirasakan pada otot tubuh, nyeri dapat dirasa pada sebagian maupun keseluruhan otot tubuh. Biasanya nyeri otot dapat timbul spontan saat beraktivitas ataupun setelahnya. Terkadang nyeri otot dapat hilang dengan sendirinya, namun tidak jarang juga nyeri otot bertahan hingga mengganggu aktivitas. Umumnya nyeri otot dapat terjadi karena aktivitas fisik yang terlalu lama ataupun berlebihan, trauma dan tegang otot. Namun tidak menutup kemungkinan nyeri otot dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti infeksi, peradangan, autoimun ataupun karena penggunaan obat-obatan tertentu.

Ketika nyeri otot menyerang, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, tergantung penyebabnya. Bila nyeri  otot dikarenakan aktivitas yang berlebihan ataupun disebabkan keteganngan otot, Anda dapat melakukan terapi fisik dengan mengistirahatkan bagian otot yang nyeri, selain itu dapat dibantu dengan kompres dingin untuk mengurangi nyeri. Untuk nyeri otot yang disebabkan oleh penyakit lain tentunya penyakit penyebab utamanya terdahulu yang harus diobati agar tidak menimbulkan nyeri otot. Namun untuk nyeri otot yang parah atau menahun seringkali harus ditangani dengan bantuan obat-obatan. Pilihan obat minum yang dapat digunakan untuk nyeri otot yaitu analgesik (anti nyeri), muscle relaxant (relaxan otot) dan kortikostreoid. Obat analgesik minum yang bisa menjadi pilihan seperti paracetamol dan ibuprofen. Obat muscle relaxant yang bisa menjadi pilihan salah satunya eperison. Untuk obat kortikosteroid minum harus dengan resep dokter dikarenakan efek sampingnya yang berbahaya dan pemakaian tidak boleh dalam jangka waktu lama. Pilihan obat minum untuk anti nyeri lainnya yaitu obat anti nyeri golongan opioid. Obat golongan opioid merupakan golongan narkotik. Tentunya obat golongan ini juga harus didapatkan dengan resep dokter.

Terkadang nyeri otot juga ditangani dengan obat luar atau topical . Obat luar bisa berupa obat oles dan obat transdermal (ditempelkan pada kulit). Obat luar untuk nyeri otot biasanya berisi non steroid anti inflamasi drug (NSAID). Namun pada kasus nyeri otot tertentu yang tidak membaik dengan terapi fisik, pengobatan luar ataupun obat minum dapat diterapi dengan obat yang disuntikan lagsung pada bagian yang nyeri. Untuk obat suntik biasanya berisi obat tunggal atau campuran. Obat tunggal bisa berupa obat analgesik, obat anasthesi (penghilang sensasi) dan steroid. Obat campuran biasanya berisi campuran dari obat tunggal, misalya analgesik dengan steroid. Obat suntik memang memiliki keuntungan yang yang paling cepat dapat dirasakan penderita, namun obat suntik merupakan pilihan terakhir untuk menangani nyeri otot. Kadang kali penderita nyeri otot karena rasa sakit yang tak tertahankan ingin langsung mendapatkan obat suntik. Padahal hal ini dapat membahayakan penderita karena bila nyeri otot terbiasa diberikan obat suntik tanpa memperhatikan indikasi tertentu dan pengobatan yang sudah diberikan sebelumnya, hal ini akan membuat penderita resistant pada obat suntik yang diberikan. Bila nantinya penderita merasakan nyeri otot yang lebih parah lalu diberikan obat suntik tersebut, efek yang diberikan obat suntik tersebut akan berkurang. Selain itu dikarenakan kandungan steroid pada obat suntik, yang bila diberikan secara berlebihan dan dalam jangka waktu panjang dapat berdampak serius pada tubuh penderita. Dampak yang dapat timbul dari pemberian steroid diantaranya rasa tidak nyaman pada perut, kenaikan berat badan, bengak pada wajah dan perubahan mood. Maka pemberian obat suntik pada nyeri otot harus berdasarkan indikasi yang tepat dan dibawah pengawasan dokter serta harus diperhatikan kemunculan efek sampingnya. (LAM)

Refrensi

Staud, R., Kizer, T., & Robinson, M. E. (2017). Muscle injections with lidocaine improve resting fatigue and pain in patients with chronic fatigue syndrome. Journal of pain research10, 1477-1486. doi:10.2147/JPR.S139466

Hay K. M. (1941). Novocain Injection in Myalgia. British Medical Journal2(4206), 247.

Mense S. (2008). Muscle pain: mechanisms and clinical significance. Deutsches Arzteblatt international105(12), 214-9.

Vargas-Schaffer G. (2010). Is the WHO analgesic ladder still valid? Twenty-four years of experience. Canadian family physician Medecin de famille canadien56(6), 514-7, e202-5.

https://who.int/medicines/areas/quality_safety/Scoping_WHO_GLs_PersistPainAdults_webversion.pdf?ua=1
https://americanpainsociety.org/uploads/education/section_4.pdf
https://southwesthealthline.ca/healthlibrary_docs/B.5.3.WHOPainLadder.pdf
https://aafp.org/afp/2002/0215/p653.html
https://asra.com/page/46/treatment-options-for-chronic-pain
https://rxlist.com/pain_medications/drugs-condition.htmhttps://flexfreeclinic.com/detail-artikelx/179-Penggunaan-Obat-yang-Tepat-untuk-Nyeri-Otot-dan-Nyeri-Sendi