PUASA RAMADHAN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS

27

Bulan Ramadhan akan segera tiba. Umat muslim di seluruh dunia sedang bersiap-siap untuk melaksanakan puasa. Hal ini tidak terkecuali bagi muslim Indonesia yang menderita diabetes melitus. Berpuasa bagi pasien diabetes melitus merupakan hal-hal yang susah-susah gampang. Tidak semua pasien yang menderita diabetes melitus boleh untuk melakukan puasa. Bagi mereka yang memenuhi syarat untuk puasa pun, harus melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang merawat.

Pasien diabetes melitus harus melakukan konsultasi dengan dokter yang merawat sebelum melakukan puasa Ramadhan. Konsultasi ini sebaiknya dilakukan tiga bulan sebelum puasa ramadhan dimulai. Secara umum konsultasi ini bertujuan untuk mendiskusikan cara puasa yang aman, untuk mengedukasi pasien mengenai gayahidup sehat, mengubah regimen terapi selama puasa, dan untuk menyusun rencana monitor gula darah selama puasa. Selain itu konsultasi juga dapat mengenai hal-hal umum sebagai berikut:

  • Refleksi keberhasilan puasa yang sebelumnya
  • Pemeriksaan fisik untuk menetukan status kesehatan
  • Pemeriksaan gula darah seperti profil gula darah dan HbA1c
  • Penyesuaian pola makan untuk Ramadan
  • Penyesuaian regimen terapi
  • Memberikan target gula darah
  • Menyarankan untuk melakukan aktivitas fisik dan memberikan edukasi mengenai komplikasi yang muncul
  • Memastikan dokter dapat dihubungi untuk konsultasi jika terdapat tanda bahaya yang muncul

Pastikan Anda melakukan konsultasi sebelum memulai puasa, dan pastikan dokter Anda telah melakukan hal-hal di atas.  Selain itu pastikan dokter Anda mengedukasi Anda mengenai bahaya yang dapat muncul jika pasien diabetes mellitus berpuasa. Keadaan bahaya yang dapat muncul adalah:

  • Hipoglikemia, keadaan gula darah yang rendah, muncul akibat restriksi terhadap karbohidrat dan makanan dan dapat muncul akibat puasa. Gejalanya dapat berupa jantung berdebar-debar, pusing, hingga penurunan kesadaran.
  • Hiperglikemia dan ketoasidosis diabetikum, muncul ketika keadaan gula darah yang tinggi. Biasanya muncul karena mengkonsumsi makanan manis yang terlalu banyak saat berbuka puasa. Juga bisa disebabkan oleh penggantian regimen terapi yang tidak adekuat. Dicirikan dengan penurunan kesadaran dan napas berbau keton.
  • Perlu diperhatikan juga puasa pada ibu hamil yang menderita diabetes mellitus dapat berbahaya bagi janin.

Pasien tidak disarankan untuk mengganti sendiri regimen obat saat puasa. Pasien harus kontrol dan berkonsultasi dengan dokter yang merawat untuk penyesuaiaan dosis terapi. Walaupun begitu ada beberapa tips yang dapat dilakukan pasien agar puasa Ramadhan berjalan aman, di antaranya adalah:

  • Ukur berat badan setiap hari dan informasikan pada dokter jika ada kenaikan lebih dari dua kilogram
  • Pelajari gejala awal darin hipoglikemia dan hiperglikemia
  • Minum obat secara teratur, sesuai instruksi dokter
  • Tetap beraktivitas dan berolahraga, terutama pada sore hari
  • Jangan makan terlalu banyak ketika berbuka puasa. Hindari makanan yang manis dan berlemak
  • Catat makanan yang dimakan setiap hari untuk membantu mengatur kalori yang masuk
  • Jika muncul komplikasi segera berbuka puasa dan kunjungi dokter atau unit gawat darurat, jangan memaksakan melanjutkan puasa
  • Cek gula darah sebelum sahur, tengah hari, dan setelah berbuka  (RPG)

Sumber

Said, A.-M. (2009) ‘Wasting Ramadan’, Al-Ahram, 2(1), pp. 185–189. Available at: http://weekly.ahram.org.eg/2009/963/op11.htm.

(Said, 2009)